Blackberry

Posted on April 4, 2011

0


Berhubung Blackberry sudah jatuh di bawah kisaran harga 4 jutaan, BB sekarang bukan lagi barang mewah. Maka blogger yang menulis tentang BB pastilah blogger kampungan. Tapi saya tidak malu dibilang ‘kampungan’. Saya ingin menulis tentang BB, namun dari sudut pandang yang lain.

BB saya istimewa, karena seumur hidup saya sudah bersumpah tidak mau memakai BB. Kenapa? Karena saya tidak suka semboyannya, yaitu “menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh”. Maksud? Lho iyalah, coba, tengok beberapa orang yang punya BB. Mereka tidak akan ngobrol dengan satu sama lain yang secara fisik dekat, namun malah sibuk chatting BB dengan teman atau mungkin kenalan baru yang nun jauh disana.

Nah, kenapa BB saya istimewa? Ya karena BB ini diberi oleh seseorang sebagai hadiah ulang tahun saya. Itupun masih disertai pesan: “gunakan barang ini hanya untuk hal-hal baik, menyebarkan kasih Tuhan kepada sesama”.

BB ini datang pada saat yang memang tepat: saya dipercaya sebagai Dekan Fakultas Bahasa dan Seni, dan tiga hari dari sekarang Prodi saya akan menjalani akreditasi. Maka memang sms dari ponsel saya yang model jaman purba itu menjadi kurang memadai untuk bisa selalu menjalin komunikasi dan koordinasi cepat dengan rekan-rekan saya yang sama-sama berjuang meraih sukses dalam akreditasi pertama ini. Maka jadilah saya punya dua nomer, satu untuk ponsel, satu untuk BB. Nomer di BB saya isi dengan pin saudara-saudara dekat, mentee-mentee terdekat, mahasiswa bimbingan skripsi, dan kolega-kolega seperjuangan di Fakultas dan Prodi. Tidak seperti nomer ponsel yang saya umbar di Facebook atau di media lain, pin BB menjadi barang pribadi yang hanya saya berikan ke beberapa orang terpilih. Seorang mentee tanya apakah pin saya boleh dibagikan ke teman-temannya yang juga ber BB. Saya bilang, “jangan deh. Saya gak sembarangan memberi pin BB ke semua orang; mahasiswapun harus saya seleksi dulu.”

Pin BB saya tergolong nomer cantik, kata beberapa orang. Jujur saja, saya tidak tahu cantiknya dimana, wong hanya terdiri dari 8 karakter kombinasi huruf dan angka.

Dua hari ini saya merasakan enaknya ber BB. Dengan wakil dekan yang kemarin nglembur di kampus, saya bisa memberikan arahan untuk mempersiapkan dokumen-dokumen penting akreditasi. Aksesnya sedikit lebih cepat dari sms biasa, sehingga pas untuk ritme kerja saya yang memang cenderung cepat. Sore hari ini, mahasiswi bimbingan skripsi saya berkonsultasi tentang skripsinya via BBM, dan rasanya senang sekali dia akhirnya mendapat pencerahan dari konsultasi cyber space itu.

Hanya satu yang perlu saya waspadai: jangan sampai salah kirim. Lho kenapa? Iya, soalnya ketika saya sibuk memberikan arahan ke mahasiswi itu via BB, pada saat yang sama saya sedang texting panjang via sms dengan mentee saya yang perkembangannya paling saya perhatikan. Di BB saya serius, di sms saya setengah ngebodor untuk menggembirakan sang mentee yang bawaannya cenderung murung itu. Lha kan gak lucu kalau isi sms dan isi BB bisa tertukar karena saya kurang ati-ati. Bisa-bisa mereka sebal karena dosennya mendadak bicara seperti mentor, dan mentornya mendadak berubah jadi dosen pembimbing skripsi, ha ha haaaa!

Good nite!

Posted in: Uncategorized