Lirik yang Dahsyat

Posted on April 2, 2011

2


Saya sering mengucapkan atau menyanyikan lagu ini:

Bapa kami yang ada di surga
Dimuliakanlah nama Mu;
Datanglah kerajaanMu;
Jadilah kehendakMU
Di atas Bumi seperti di dalam Surga.

Saya sedang rajin mengikuti diskusi Group BBM (Blackberry Messenger) tentang Kitab Suci dan spiritualitas, dan baru kemarin seseorang anggotanya menyadarkan saya bahwa doa itu sebenarnya adalah urutan. Urutan bagaimana?

“Pertama sekali, saya harus memuliakan nama Tuhan,” kata teman chat BBM itu. “Apapun yang saya alami, apapun yang mau saya mulai di pagi hari atau waktu mau kerja atau sepulang kerja, yang harus dilakukan adalah memuliakan namaNya, bersyukur kepada Nya”.

“Kedua, dengan memuliakan namaNya, maka saya mengharapkan dan bahkan menghadirkan kerajaanNya, yang dipenuhi oleh hukum kasih dan malaikat-malaikat baik pembawa damai itu.”

“Ketiga, setelah namanya saya muliakan dan kehadiran kerajaan Nya saya akui, maka saya akan membiarkan Tuhan melakukan kehendak Nya. Apapun itu, kehendakNya selalu untuk kebaikan saya, kebaikan pertumbuhan jiwa dan roh saya yang mungkin sudah tercemar tuhan-tuhan palsu dan gelimang nikmat dunia ini.”

“Di atas bumi seperti di dalam Surga. Itu artinya bahwa Tuhan tidak pernah meninggalkan dunia ini, seperti yang pernah dipercaya oleh banyak orang yang sudah skeptis dan putus asa. Jika saya setia mengikuti ajaran dan arahannya, seburuk apapun yang terjadi di Bumi, saya akan melihat celah dan jalan menuju Surga.”

Hmm. Dahsyat. Saya tercenung lama sekali dibuatnya. Baru kali ini saya sadar bahwa doa itu ternyata urutan. Pertama, muliakan nama Tuhan, lalu datangkan kerajaan Nya, maka akan terjadilah kehendak Nya, yang pada akhirnya akan membimbing kita menuju hidup damai yang kekal di Surga.

POst-note:

Saya adalah seorang yang sebenarnya anti Blackberry. Pertama, saya tidak ingin menuruti gaya hidupnya: menjauhkan yang dekat, dan mendekatkan yang jauh. Kedua, harganya terlalu mahal untuk kantong saya. Ketiga, ketika akhirnya harganya menjadi lebih murah dan saya sudah sangat mampu untuk membelinya, saya tetap tidak mau beli BB. Haram, pikir saya. Sampai akhirnya ada seorang yang sangat peduli dengan saya memberi sebuah BB sebagai hadiah ultah saya ke 44. Pesannya singkat: “ini barang canggih, tolong gunakan hanya untuk tujuan baik, menyebarkan kabar tentang Kasih Tuhan kepada sesama.”

Saya menurut. Hal pertama yang saya unduh di BB itu adalah layanan bacaan-bacaan Kitab Suci. Mungkin saking inginnya menuruti nasehat itu, mahasiswa bimbingan skripsi saya pun saya ajak chat ngomong soal Kitab Suci dan spiritualitas. Pertama dia bingung kenapa dosen pembimbingnya tahu-tahu merubah topik dari linguistik menjadi spiritualitas. Tapi dia akhirnya maklum, dan sedikit demi sedikit mulai mau mengemukakan ide-idenya tentang hidup rohani yang benar.

Posted in: Uncategorized