Mengapa Aku Harus Perduli

Posted on March 30, 2011

0


Aku juga tidak tahu kenapa aku harus perduli dengan murid seperti kamu.

Dari segi kesamaan minat, kau dan aku sudah berbeda jauh. Kau suka pistol, aku benci kekerasan. Kau suka film action, aku lebih suka film horor dan film spiritual. Aku lebih spontan, kau jauh lebih tertutup. Kau suka main kartu, aku lebih suka blogging dan membaca kisah-kisah inspirational. Kau suka ngebut, aku benci agresivitas di jalan raya.

Tapi sesuatu membuatku justru ingin mendekat, memperhatikan, dan perduli dengan apapun yang kau alami.

Mungkin juga karena aku melihat sebagian dari diriku, jauh di waktu lampau, dalam dirimu sekarang. Tanpa sadar aku ingin merubah diri masa lampauku yang juga tidak kalah gelap dan kacaunya itu. Makanya, ketika aku menemukan citra itu dalam dirimu, aku lantas mendekat dan tergerak untuk berbuat sesuatu.

Aku sudah memutuskan untuk mengikuti jalan Terang. Perjalanannya lebih jauh, lebih berat karena harus mau bersabar, mengendalikan diri, dan menahan nafsu ego. Namun aku sudah bisa merasakan bahwa ganjarannya adalah kepasrahan yang akhirnya membawaku pada kedamaian, dan kalau sudah kedamaian maka terminal terakhir adalah kebahagiaan.

Maka aku sekarang sedikit banyak tahu mengapa aku masih perduli denganmu. Kesibukan yang melanda bak tsunami di tempat kerja memang membuatku agak lupa, tapi sejatinya tak sedetikpun aku mengacuhkanmu. Buktinya, begitu semua urusan kantor selesai, aku toh masih sempat sesekali menyapamu lewat texting di senja sampai malam hari (dan kemarin juga baru aku tahu kau masih ingin disapa dan dibalas olehku). Manakala kau lihat lagi isi textingku, sebagian besar adalah pesan-pesan baik dari seorang yang perduli akan perkembangan jiwamu.

Kemana semua ini akan menuju? Aku bisa saja menjawab, “tidak tahu. Emang aku pikirin. Biar Tuhan yang menentukan.”

Tapi rasanya aku punya jawaban lain yang lebih pasti sekarang:

“Bersama-sama, pelan namun pasti, kita akan menyambut sang Terang dalam hati kita, pun ketika kau sudah tidak lagi menjadi muridku.”

Posted in: Uncategorized