Antara Keinginan Roh dan Nafsu Daging

Posted on March 29, 2011

0


Spiritualitas adalah hal yang mendasari setiap pilihan dan perbuatan kita. Spiritualitas adalah apa yang kita lakukan dengan kerinduan-kerinduan dasar dari jiwa kita, yang selalu mencari, menghauskan sesuatu yang akan sungguh membuat jiwa kita tenang, dan dg demikian membuat kita produktif dan bahagia. Memilih antara menjadi Dr Jekyl atau Mr Hyde sebenarnya manifestasi dari bagaimana seseorang mengolah kebutuhan-kebutuhan jiwanya yang paling mendasar, mengolah kerinduan alaminya. Kita bebas untuk memilih mau jadi siapa.

Ketika saya bertemu dengan sosok manusia Yesus yang walaupun seorang Raja tetapi memilih untuk menjadi total tidak berdaya dengan remuk sehabis-habisnya di kayu salib, saya lalu belajar menderita dengan sabar dan tetap mengasihi dan mengampuni dalam saat-saat yang sangat sukar, saya diajak menyadari bahwa kemarahan dapat dipadamkan oleh belas kasihan yang tiada henti. Ketika saya belajar mengosongkan diri saya dengan kerendahan hati seperti Yesus telah menyerahkan Diri-Nya di penderitaan salib itu, kerinduan-kerinduan yang berkecamuk di dalam diri saya menemukan arah, di situ saya menemukan ada sukacita untuk menyalibkan keinginan-keinginan daging yang nikmat itu, supaya saya bisa melakoni menuruti keinginan roh yang sulit dan berat, tetapi membawa spiritualitas saya menemukan bentuknya yang utuh dan mendamaikan.

Sekali saya memilih, saat itu juga saya menyerahkan hidup saya kepada Roh yang Kudus atau sebaliknya kepada Si Daging. Menjadi Dr Jekyil tidak bisa disambi menjadi Mr Hyde sekaligus pada waktu yang sama. Pada detik kita sedang melakoni peran itu, pasti kita memilih menjadi salah satu di antaranya. Seringnya itu berat banget karena keduanya tarik-tarikan terus dan bikin kita terasa tersobek di tengah-tengah. Hanya intervensi The Divine yang akan mampu membuat kita akhirnya memilih yang membawa kepada hidup. Kalau mengandalkan diri sendiri, banyak keok-nya. Maksudnya ‘hidup’ di sini adalah hidup yang rejuvenate, yang sustainable, yang damai, yang fruitful. Itu yang saya yakini sebagai Kerajaan Allah yang disebutkan pada posting sebelumnya dikutip dari Galatia 5. Ketika saya sudah menjadi milik Roh yang Kudus itu, maka Dia yang akan berjuang untuk saya, dan membantu saya untuk selalu memilih yang membawa kepada hidup.

*) disarikan dari komentar di posting sebelumnya “Hidup dengan Roh”, yang diberikan oleh adik bungsu saya, Caecillia Triastuti Djiwandono.

Posted in: Uncategorized