Anakku Hilang, . . . Namun Dia Pasti Kembali

Posted on March 28, 2011

0


Pada suatu masa, ada seorang ayah yang memiliki dua anak lelaki. Atas permintaan si bungsu, dia menyerahkan sebagian hartanya kepada si anak itu. Celaka, bukannya menabung dan belajar berwirausaha, si bungsu ini malah menghabiskan uangnya untuk berjudi, mabuk-mabukan, berpesta pora di tempat-tempat maksiat, sampai akhirnya hartanya ludes tak bersisa.

Ketika dia kembali ke rumah ayahnya, dilihatnya pembantu-pembantu ayahnya bahkan hidup jauh lebih berkecukupan dari dia. Maka dia pun berniat ingin menjadi pembantu ayahnya supaya bisa makan. Dia merasa sudah berdosa berat sehingga dia tidak pantas lagi meminta ayahnya untuk mengakuinya sebagai putra bungsunya.

Namun sang ayah yang penuh belas kasih itu jatuh iba melihatnya. Bukannya menjadikannya sebagai pembantu, dia menyambut si anak sialan itu dengan penuh suka cita, bahkan dia menyuruh pembantu-pembantunya untuk menyediakan hidangan enak untuk sebuah pesta syukur menyambut si bungsu. “Anakku yang hilang telah kembali, dan dia berniat memperbaiki hidupnya. Aku pantas bersyukur untuk hal ini,” katanya.

Nah, si sulung yang senantiasa baik dan patuh melihat pesta ini ketika dia pulang. Seketika hatinya diliputi rasa cemburu dan iri. “Bapak,” katanya, “selama ini aku telah menjadi anak yang baik dan patuh pada semua perintah dan nasihatmu, tapi kenapa Bapak tidak pernah sekalipun mengadakan pesta buatku? Sekarang, Bapak malah mengadakan pesta untuk menyambut adikku yang nakal dan hidupnya amburadul itu!”

Sang ayah tersenyum dan berkata dengan lembut, “Anakku, engkau selalu bersama-sama dengan aku, dan segala kepunyaanku adalah kepunyaanmu juga. Kita patut bersukacita karena adikmu yang hidupnya kacau balau itu sekarang telah kembali dan memutuskan untuk menjalani hidup baru sebagai manusia yang lebih baik. Ia telah hilang, tetapi hari ini dia telah kudapatkan kembali.”

Pertanyaan pertama: Anda memilih menjadi siapa dalam cerita itu? Si anak bungsu? Atau si anak sulung? Atau si Ayah? Atau bahkan si pembantu?

Pertanyaan lebih tajam: dalam hidup Anda, Anda melakoni peran yang mana dalam cerita itu?

Kalau Anda merasa disingkirkan, tidak pernah disapa, kesepian, murung, merasa kecil, merasa aneh, sudah pasti Anda adalah si bungsu.

Anda mungkin bertanya dan merasa nelangsa, “kenapa saya dijauhi? Kenapa saya didiamkan saja, tidak pernah lagi disapa? Kenapa semua teman bergembira, dan saya tetap saja murung seperti ini?”

Coba renungkan lagi. Jangan-jangan bukan sang Ayah atau pembantu-pembantunya itu yang menjauhi Anda, tapi Anda sendirilah yang menjauh dari mereka. Sama seperti si bungsu tadi yang bergaya hidup bohemian dan acakadut, mungkin juga Anda sedang mengambil gaya hidup yang nyeleneh, aneh dan gelap, sehingga Anda menjauh dari kehangatan sang Ayah, si sulung, dan pembantu-pembantunya yang setia dalam sebuah rumah yang memancarkan kehangatan kasih.

Lalu, Anda bertanya: “apa yang harus saya lakukan?”.

Jawabnya jelas. Lakukan hal seperti yang si bungsu tadi lakukan: kembalilah ke kehangatan keluarga itu. Percaya atau tidak, Anda akan disambut dengan sangat hangat oleh pelukan sang Ayah, senyum para pembantunya, dan juga ungkapan selamat datang dari si Sulung yang akhirnya sadar bahwa adiknya yang hilang telah kembali. Tak ada kegembiraan seorang Ayah yang melebihi pulangnya si anak hilang ke dalam pelukannya kembali.

*) Diilhami oleh injil Lukas 15: ayat 11 – 32 di Kitab Suci.

Posted in: Uncategorized