Dari Murid untuk Sang Guru: Jia You!

Posted on March 26, 2011

0


Seorang guru baru saja sukses melepaskan dirinya dari nafsu-nafsu jahat dalam dirinya. Sebagian murid yang menyadari bahwa gurunya sedang berubah ke arah yang lebih baik dengan suka cita mengikutinya. Tapi ternyata, ada sebagian kecil murid yang merasa ilfil begitu melihat gurunya berubah. Mereka berhenti melangkah di belakangnya dan mulai kasak-kusuk mencoba mencari keburukan guru itu. Karena tidak berhasil, mereka mulai menentang arahannya. Yang dulunya baik menjadi makin lama makin liar; yang dulunya polos menjadi penuh dengan pikiran jahat; yang dulunya manis mulai memikirkan betapa nikmatnya menjadi acuh, keras dan tidak perduli lagi gurunya mau ngomong apa.

Sang guru pun menjadi bingung. “Kok jadi begini?” katanya dalam resah, “apakah aku salah?”.

Sementara dia merenung, sang murid yang membangkang tadi jatuh makin dalam ke kuasa gelap. Bukannya merasa ada yang salah, mereka malah asyik bercumbu dengan kuasa gelap itu. Sang guru yang pada dasarnya sangat menyayangi mereka kontan terjun seketika dan berperang sampai berdarah-darah melawan kuasa gelap yang mencengkeram murid kesayangannya itu. Celaka! Melihat sang guru jatuh bangun mencoba menariknya dari kuasa jahat, sang murid hanya diam saja di tempatnya, tidak bereaksi sama sekali. Himbauan dan teriakan gurunya untuk segera menyambut tangannya dan melepaskan diri tidak digubrisnya sama sekali . . . .

Sang guru pun menyerah. Dia lari tunggang-langgang meninggalkan medan, disambut oleh wajah prihatin murid-murid pengikutnya. “Wis embuh!,” katanya. “Tak kuat lagi saya melawannya. Biarlah dia tinggal di lubang dalam nan gelap itu. Ayo kita lanjut saja menuju Terang.”

Sepi sejenak. Tak ada yang berbicara.

Tiba-tiba seorang murid membuka suara: “Tapi, Pak Guru, bukankah kita harus menolong teman kita yang sedang jatuh dalam gelap? Bukankah kita semua juga sayang padanya?”

Guru itu termangu. Sang murid menyodorkan suatu kitab ke dalam tangannya. Sang guru masih termangu. Sang murid mengambil kembali buku kecil itu dan mulai membacanya:

“Saudara-saudara, kalau ada seorang dari kita yang sedang jatuh dalam kuasa gelap, maka kamu yang rohani harus memimpin orang itu ke jalan yang benar dalam roh LEMAH LEMBUT, sambil menjaga dirimu sendiri, supaya kamu juga jangan kena pencobaan. Bertolong-tolonganlah menanggung bebanmu! Sebab demikianlah kamu memenuhi hukum Tuhan: engkau yang telah menerima pengajaran dalam Firmannya, hendaklah membagi hal baik tersebut kepada yang lain. Janganlah kita jemu berbuat baik, karena apabila sudah datang waktunya, kita akan menuai, jika tidak, kita akan menjadi sama lemahnya dengan teman yang malang itu. Selama masih ada kesempatan, marilah kita berbuat baik kepada semua orang, tetapi terutama kepada kawan-kawan kita seiman.”

Sang guru tersentak, seolah menyadari kekeliruannya. . . .

“Roger that!” akhirnya dia berkata, disambut dengan desah nafas lega dan tepuk tangan dari murid-muridnya.

*) Penggalan yang dibaca sang murid tadi diambil dari Galatia 6 ayat 1-3 dan ayat 9 – 10 dari Kitab Suci.

Posted in: Uncategorized