Energi Negatif

Posted on March 25, 2011

0


Saya tidak perlu membaca banyak buku atau artikel untuk memahami energi negatif.

Karena tanpa membaca pun saya bisa merasakan manusia-manusia yang menjadi sumber energi negatif.

Mereka adalah orang-orang yang menganggap bahwa semua di dunia ini adalah jelek. Semua akan dipandangnya buruk, tidak masuk akal, tidak elegan, terlalu muluk, tidak realistis, ngawur, dan semua label negatif. Kalau orang seperti ini dibiarkan memimpin, anak buahnya akan cenderung pesimis, bahkan sinis. Semua rencana dan cita-cita, apalagi impian, akan dipandangnya dengan sinis dan dicacinya habis bahkan sebelum seorang pun mencobanya. Akibatnya unitnya jadi lethargic, lemez, tidak ada greget atau gairah membara. Kalaupun ada greget, gregetnya adalah untuk menjelek-jelekkan, mematahkan semangat, bahkan mengadu domba.

Anda pasti pernah punya rekan atau bahkan pimpinan seperti ini. Setiap kali ada ide baru keluar, hal pertama yang dikatakannya adalah; “Wah, itu sulit nantinya”, atau “kita ini sudah tidak punya apa-apa. Kenapa masih saja mau bersusah payah seperti itu?”, atau seribu satu hal lagi yang intinya tidak menggambarkan semangat hidup untuk mencoba dan menggali hal baru.

Orang sumber energi negatif jenis kedua adalah orang yang tidak se vokal yang pertama, namun di balik kediamannya, saya bisa merasakan kuatnya aliran yang kacau balau, seperti pusaran angin yang menggoyang pesawat terbang di udara, yang menguar dari dalam dirinya. Hal lain yang juga sangat terasa adalah tiadanya gairah atau semangat dalam dirinya. Dan celakanya, aura gelap itu seperti pusaran air di bawah permukaan: kalau tidak hati-hati, tanpa sadar saya akan terseret makin dekat dan akhirnya lenyap ditelan pusaran air itu.

Tidak sulit menangkap energi negatif. Saya cukup duduk agak dekat, bicara beberapa patah kata, bertanya sesuatu, dan manakala orang tadi menjawab, saya bisa memperkirakan dari semua komponen bahasa tubuhnya–mulai dari tekanan suara dan tinggi rendahnya nada, sampai pada kontak mata dan gerak anggota tubuh yang lain–bagaimana semangat hidupnya. Saya baru saja mewawancara tiga orang pelamar beasiswa. Ketiganya menyalami saya di akhir wawancara, dan hanya satu yang saya rasakan mempunyai semangat dan keyakinan untuk sukses. Dua dari ketiga mahasiswa tersebut mengemukakan rencananya setelah lulus; saya bisa memperkirakan mana yang akan bisa mencapai cita-citanya dengan mudah, dan mana yang masih harus berjuang karena dia harus memompakan dulu ke dalam dirinya semangat dan pandangan hidup positif.

Menurut salah seorang teman saya di FB, murid dengan energi negatif tidak pantas mendapat respek dari saya sebagai dosen atau mentornya. Hmm, . . . kalau ini sih harus saya pikir-pikir dulu secara mendalam. Bukankah sudah tugas dan keinginan saya untuk menularkan energi positif yang saya miliki ke orang-orang atau anak didik ber energi negatif seperti ini??

Posted in: Uncategorized