Mentor dan Nasehat-Nasehatnya

Posted on March 18, 2011

0


Kamu pasti lama-lama sebal kan sama orang yang kerjanya menasihati kamu melulu? Ya, kamu tahu maksudnya pasti baik, tapi lama kelamaan telingamu pekak mendengar nasihatnya yang itu-itu saja dari waktu ke waktu, entah itu via sms, atau via FB, atau ketika bicara langsung.

Jangan khawatir, saya juga pernah kok seperti itu. Rasanya pekak dan budeg mendengar nasihat dari orang-orang tua untuk menjadi manusia yang lebih baik. Sebal, jengkel dan buosen bercampur-campur sehingga saya akhirnya menulikan semua panca indera terhadap semua nasihat itu.

Waktu berjalan. Mendadak saya sadar bahwa nasihat-nasihat itu sudah tidak terdengar lagi. Orang-orang tua itu masih ada, namun sekarang mereka diam saja, tidak melakukan apa-apa, tidak ngomong sepatah katapun sama saya. Saya ditinggalkan begitu saja . . . .

Saya ditinggalkan sendirian. Celakanya, masalah dalam diri belum juga selesai. Tapi sekarang saya benar-benar sendiri. Kadang-kadang timbul keinginan minta saran atau nasehat ke orang-orang tua yang dulu saya maki-maki dalam hati itu, tapi saya takut jatuh gengsi. Masa minta saran ke orang yang dulu diemohi? Ya gengsi dong. Maka saya pura-pura cool, padahal dalam hati sudah meratap-ratap minta tolong . . . .

Kamu pernah nggak mengalami yang seperti itu? Atau sekarang sedang mengalaminya?

Saya tahu kamu pasti sebal, tapi lebih baik kamu tidak sedungu saya dahulu yang kemudian menulikan telinga dan membuat orang-orang berniat baik itu akhirnya menyingkir dari hidup saya. Coba luangkan waktu sebentar saja, sejenak saja, untuk merenungkan nasihat-nasihat dan panduan hidupnya. Tidak jarang mereka akan menyebut-nyebut nama Tuhan, ya sudah, gak mengapa, diamkan saja nggak usah diprotes sekalipun kamu tidak atau belum percaya Tuhan. Dengarkan saja, renungkan sejenak dan coba lakukan; kalau belum berhasil ya tidak mengapa, lain kali dicoba lagi. Percayalah! Mereka semua punya niat baik untuk membantu kamu menjadi lebih dewasa, lebih matang, lebih bisa berdamai dengan dinamika hidup ini, lebih bisa mengatasi semua masalah, dan akhirnya menjadi manusia yang lebih happy.

“Ya, tapi mengapa nasihatnya masih tetap itu-itu saja??” demikian kamu mencoba protes.

“Ya, karena kamu juga masih berkutat di masalah yang itu-itu saja,” jawab saya. “Coba lihat, lha wong mulai dari masuk ke sini tahun 2008 sampai sekarang, masalahnya samaaaa aja. Nggak berubah. Itu tandanya memang kamu bebal, nggak membuat kemajuan sedikitpun, makanya ya jangan heran si dia atau mereka akan selalu kembali dengan nasihat yang itu-itu juga.”

Siapa yang paling kamu percaya dalam hidup ini? Mentormu? Fine. Mentor. Jangan heran kalau si mentormu ini akan potensial menjadi orang yang benar-benar ‘menyebalkan’ di matamu karena dia akan selalu datang dengan seribu satu nasehat, petuah, ayat-ayat suci dan segala macam untuk membuatmu menjadi lebih baik. Kenapa ya? Sederhana saja: ya karena dia perduli sama kamu (kalau kata “sayang” dianggap terlalu tinggi dalam konteks ini).

Bagaimana kalau kamu akhirnya benar-benar tidak tahan dengan perlakuan seperti itu? Maka bahasa tubuhmu akan menunjukkan betapa sebalnya kamu sama dia. Nah, karena dia juga manusia biasa, dia lama-lama akan membaca bahasa tubuhmu ini dan merasa bahwa sudah saatnya dia pergi. Dia menyerah, tak bisa memenangi pertarungan dengan iblis yang bersarang dalam dirimu.

Lalu suatu ketika kamu akan mendapati dirimu sendirian . . . .

Posted in: Uncategorized