He Loves You, Always . . .

Posted on March 14, 2011

0


Berapa lama waktu yang diperlukan untuk membuat seseorang merasa dicintai?

Mungkin hanya sedetik. Mungkin sehari, seminggu, sebulan, atau . . . berpuluh tahun kemudian.

Masalah paling sulit yang saya bisa bayangkan dihadapi oleh sebuah entitas bernama Tuhan adalah membuat ciptaanNya sadar bahwa dia dicintai oleh Penciptanya. Begitu jiwanya diciptakan, sang empunya jiwa ini hidup kering karena dia tidak pernah merasa dicintai. Ibaratnya ikan yang malang di lautan, dia senantiasa merindukan air, tanpa sepenuhnya sadar bahwa dia sudah sejak lahir hidup di dalam air. Orang dengan jiwa yang kering ini juga begitu: mulai dari nafas yang Dia berikan, rejeki, kesehatan, akal budi, sampai pada kecantikan fisik, semuanya adalah bukti cinta Tuhan, tapi sayang seribu sayang, sang jiwa ini tidak pernah menyadarinya, apalagi mensyukurinya . . .

Mungkin juga karena sang empunya jiwa ini telanjur keliru mendefinisikan cinta. Buat dia, cinta itu seharusnya datang secara nyata, berupa benda yang kasat mata, berupa manusia dengan seribu kata dan seribu perilakunya, berupa perhatian dan pemanjaan, limpahan kesenangan dan kegairahan. . . . Ya betul, semuanya itu menyenangkan, tapi sayang, sifatnya sangat tidak kekal. Begitu habis gairahnya, ya sudah, bosan dan jenuh pun melanda. Lalu sang jiwa merana kembali. . . . .

Cinta yang Tuhan berikan jauh melampaui kepuasan daging seperti itu. Cintanya kekal, bahkan tak bersyarat, namun juga sangat tidak kelihatan, sangat subtle (susah nemu padanan katanya dalam bahasa Indonesia) , tidak senyata benda seperti meja atau duit atau wajah tampan yang jelas-jelas bisa kita pegang dan kita rasakan.

Ya pantas lah dia tidak bisa merasakan cinta itu, karena hanya yang nyata yang dia percaya, padahal yang “tidak nyata” di matanya itu justru inti cinta sejati.

Lalu bagaimana nasibnya? Ya manusia seperti saya mana tahu. Saya hanya bisa menduga bahwa karena cinta Tuhan yang penuh dan jauh melampaui nafsu daging itu, Dia tidak membiarkan jiwa ini merana sampai akhirnya mati dan dibuang ke api, lalu lenyap sia-sia begitu saja. Tuhan itu, disamping Maha Kuasa, ternyata juga maha cerdik. Dia kerahkan segala macam cara untuk merawat si jiwa yang kering ini: lewat pengalaman hidup, lewat teman-temannya, lewat guru, dosen, bahkan mentornya, lewat pergulatan hidup, kekecewaan, kesukacitaan, bahkan sampai pada mimpi-mimpi . . . . semua Dia kerahkan untuk menyiram sang jiwa ini dengan kesegaran baru dan kesadaran bahwa dia sedang dan akan terus Dia cintai!

Karena bukankah Dia sudah mengatakan : “I Love You, Always”. Yes, always . . . . Always, ALL-ways. SEMUA cara Dia tempuh untuk merawat dengan penuh kasih sayang si jiwa yang merana ini.

Akankah sang jiwa ini pada akhirnya mau mendengarkan, memperhatikan, dan mengikuti Nya?

Posted in: Uncategorized