Figur Ayah dan Kita

Posted on March 9, 2011

0


Seperti apa teman Anda? Seperti apa dosen Anda? Mentor Anda? Mentee saya?

Lihatlah keluarganya. Terutama ayahnya.

Kita semua, dan semua yang saya sebutkan di atas tadi, ibaratnya segumpal tanah liat lembek yang dilahirkan dari rahim Ibu, kemudian dibentuk oleh interaksi antara kita dengan Ayah.

Maka, ayah yang keras, berdisiplin tinggi, tak segan menghukum bahkan memukul anak-anaknya jika bersalah, kebanyakan akan membentuk manusia-manusia yang juga teguh memegang disiplin, tahu tujuan hidupnya dan tahu betul kapan dan dimana dia harus menampakkan keunggulannya untuk mencapai tujuannya.

In a way, that’s what my Dad was like . . . .

Ya, tentu bukan tanpa kekurangan. Anak yang pada dasarnya sensitif yang dibentuk oleh tipe ayah seperti itu juga cenderung sulit membina interaksi yang renyah dengan orang lain. Dalam bawah sadarnya tertanam: “I’d better talk and perform perfectly, otherwise my Dad will punish me.” Akibatnya, sekalipun prestasinya cemerlang, anak-anak ini juga dikenal sangat formal, kurang gaul dan mahal senyum. . . .

Prinsip itu berlaku untuk tipe-tipe Ayah yang lain. Ayah rasialis akan membentuk manusia-manusia rasialis. Sampai keturunannya tua dan mati pun, mereka ini tetap rasialis karena di alam bawah sadarnya sudah ditanamkan bahwa rasnya nomer satu, ras yang lain adalah kelas kambing. Bahkan kadang-kadang akal sehat mereka mengalahkan prinsip bawah sadar yang sudah erat ditanamkan oleh sang Ayah ketika mereka masih kecil.

Ayah atheis apalagi. Sulit mengharapkan seorang anak menjadi percaya Tuhan kalau Ayahnya sudah atheis. Ceramah agama sepuluh jam dan mentoring enam hari penuh tidak akan mengubah anak atheis menjadi percaya Tuhan, karena akarnya sudah terlanjur ditanamkan kuat-kuat oleh pandangan dan sikap hidup Ayahnya dalam jiwanya. Kan sudah saya bilang: It is your subconsciousness which dictates how you behave and determines your attitude toward life.

Sebaliknya, sering sekali saya melihat anak-anak yang berkarakter baik, punya altruisme (suka membantu orang lain) tinggi, penuh belas kasih, dan berjiwa sosial tinggi. Ternyata, ayah mereka pun seperti itu.

Lha terus, masih bisakah membentuk karakter seorang mahasiswa yang sudah delapan belas tahun bawah sadarnya dibentuk oleh Ayahnya?

Jawabannya: ya bisa, tapi saya harus menjadi figur Ayah juga untuk anak-anak itu.

Sekilas gampang diucapkan, tapi pelaksanaannya nggak tahu lagi. Apa ya bisa? Lha kalau kebetulan saya ini dosen wanita, apa ya bisa menjadi Father Figure?

Bukan tanpa kebetulan saya menunda acara mentoring sampai tanggal 22 Maret 2011. Kepada beberapa mentee saya mengaku sibuk, tapi sebenarnya saya sedang merenung panjang: “Is that something worth doing? I did not have a mentor myself when I was at their age, yet I can reach success, too.”

“Kalau mentee saya masih emosional atau murung berkepanjangan, apa saya yakin mereka berubah jadi lebih terkendali dan bahagia tahun depan ketika mereka lulus? Kalau jawabannya nggak yakin karena saya hanya punya waktu dua jam per bulan untuk menjadi Father Figure di depan mereka, lha terus ngapain saya susah payah merancang sesi mentoring segala macam??”

Hmmmm . . . .

Tapi, baik, saya sudah bertekad menjadi mentor. Saya sudah berjanji akan menjadi pembimbing mereka sampai Juli 2012. Tanpa mereka berkata-katapun, saya bisa membaca bahwa mereka sebenarnya menikmati sesi mentoring itu dan merindukannya. Ok, akan kelihatan konyol luar biasa kalau saya mundur pada titik ini hanya karena mengira bahwa yang sudah terlanjur dibentuk oleh Ayah mereka masing-masing tidak akan bisa berubah lagi.

I’ll go on . . .

Posted in: Uncategorized