Film Horror Termanis

Posted on March 6, 2011

0


Film horor yang saya tonton kemarin adalah “The Devil”.

Ini sebuah flashback dari seorang detektif. Dia sedang menyelidiki kasus tewasnya seorang pria yang diduga terjatuh dari sebuah gedung pencakar langit. Tengah dia sibuk menyelidiki, sebuah lift di gedung itu macet, menjebak kelima penumpangnya—tiga pria dan dua wanita—di dalamnya.

Tengah upaya pertolongan dilakukan, satu persatu para penolong mati secara misterius. Ada yang terjatuh ke atap lift, ada yang kesetrum. Celakanya, listrik di dalam lift mati, lalu menyala lagi, kemudian setiap kali mati dan menyala, seorang penumpang di lift celaka itu tahu-tahu ditemukan sudah mati. Ada yang tersayat pecahan kaca di lehernya, ada yang tahu-tahu ditemukan sudah tergantung dari atap lift, ada yang terbentur tembok lift sampai lehernya patah. Tinggallah dua orang, seorang pria usia 30 an tahun, dan seorang wanita, yang ketakutan karena merasa yakin bahwa ada kekuatan jahat yang ikut di lift itu dan sekarang mengincar nyawa mereka.

Karena tegang sendiri dan panik, kedua orang itu malah bertengkar hebat. Buntutnya, si wanita terjatuh dan tewas. Sang pria yang merasa tidak bermaksud membunuhnya langsung panik. Sekuat tenaga dia mencoba menyelamatkan nyawa si wanita itu.

Tengah dia berjuang dengan sang Maut, di belakangnya, wanita pertama yang sudah mati karena digantung beberapa saat yang lalu mendadak bangkit. Dengan matanya yang hitam bak iblis dan raut mukanya yang pucat, si wanita memandang si pria dan mulai mengadilinya dengan pertanyaan-pertanyaan tentang masa lalu si pria.

Si pria tersentak kaget karena si Iblis itu tahu tindakannya lima tahun yang lalu: dia mabuk ketika tengah mengemudi, dan mobilnya menghajar mobil lain yang ditumpangi seorang wanita dan anak lelakinya. Mobil malang itu terguling-guling dan si wanita itu tewas seketika bersama buah hatinya. Si pria histeris karena merasa dia jadi pembunuh, tapi bukannya bertanggung jawab, dia malah ngacir dengan mobilnya yang penyok-penyok, meninggalkan korbannya mati di tempat kejadian.

Kembali ke dalam lift. Si Iblis berwujud wanita itu memaksanya untuk meminta maaf dan mengakui semua tindakannya itu ke suami si korban. Pada saat-saat terakhir, si pria meraih ponselnya dan menelpon seseorang. Dengan tergagap-gagap dia mengakui tindakan tabrak larinya itu lima tahun yang lalu.

Si pria yang ditelponnya ternyata adalah sang detektif tadi, yang juga sedang berusaha menyelamatkan lift maut tersebut. Si detektif langsung tertegun. Sekian lama dia berusaha mencari jejak pengemudi mabuk yang telah membunuh istri dan putranya, dan sekarang tahu-tahu si pembunuh itu menelponnya dan mengakui kesalahannya.

Adegan beralih ke lift yang akhirnya bisa dijebol dengan paksa. Si wanita iblis sudah lenyap, hanya tiga jenazah dan si pria tadi yang masih terduduk lemas di lantai lift. Dengan terbata-bata dia bercerita bahwa si wanita itu tadi adalah Iblis yang telah membunuh ketiga penumpang lift tersebut.

Sang detektif lalu membawa si pria itu ke mobilnya. Adegan beralih ke mereka berdua di dalam mobil. Sang detektif berkata, “sekian lama aku mencari orang yang sudah membunuh istri dan anakku. Kau tahu apa yang kauperbuat? Kau telah membunuh keluargaku!”.

Si pria tampak pasrah. Ketegangan saya memuncak, karena menduga bahwa adegan berikutnya adalah sang detektif yang pasti mengarahkan pistolnya dan menembak kepala sang pembunuh keluarganya itu.

Tapi tidak. . . .

Detektif itu berkata dengan pelan namun pasti, “Sekarang aku tahu siapa pembunuh itu. Namun . . . aku memaafkanmu!”

Saya terhenyak. Si pria juga tertegun. Dan sang detektif meneruskan ucapannya.

“Kau tahu?” katanya. “Kalau kau percaya bahwa Iblis itu ada, maka kau juga harus percaya bahwa Tuhan itu ada”.

Cerita tamat sampai disitu.

Sungguh, itu adalah film horor paling manis yang pernah saya lihat . . . .

Posted in: Uncategorized