Renungan Malam Sabtu 5 Maret 2011

Posted on March 5, 2011

0


Banyak yang telah terjadi hanya dalam tiga bulan pada tahun 2011 ini. Kalau saya tidak punya waktu untuk merenung, barangkali semuanya akan lewat begitu saja dan saya tetap seperti dulu. Untung saya punya blog ini, tempat dimana saya mencurahkan hasil renungan dan perasaan saya sebagai manusia.

Secara fisik, saya tidak banyak berubah. Tapi rupanya ada sesuatu yang tidak lagi sama seperti ketika saya masih dua puluhan atau bahkan tiga puluhan tahun. Tanpa saya sadari, saya telah dan sedang meredefinisikan beberapa konsep hidup. Kata “sayang” sekarang menjadi sangat lain dengan kata “sayang” yang saya ungkapkan beberapa belas tahun yang lalu. Kata “sayang” ketika saya masih dua puluhan tahun itu artinya “saya sayang dan saya ingin memiliki seseorang”; tapi di usia menjelang 44 tahun ini, kata itu sudah menjadi: “saya perduli, dan saya lakukan upaya terbaik untuk membuat seseorang berkembang, dan setelah itu saya biarkan dia lepas menjalani pilihan hidupnya sendiri.” Nampaknya pengertian yang kedua ini membuat saya relatif lebih mampu menyayangi dengan tulus, rela dan siap memberi—sejauh saya bisa—dan mempersetankan keinginan untuk diberi atau dibalas ucapan terima kasih atau sejenisnya.

Menjadi mentor. Sekarang saya tahu mengapa saya seolah menikmati kegiatan menjadi mentor ini. Rekan-rekan lain tidak terlalu peduli dengan mentoring. Saya paham: kerjanya tidak ringan, insentifnya ‘mengenaskan’. Tapi ternyata ada sesuatu dalam diri saya yang memaksa saya untuk bergiat di mentoring ini. Sekarang saya tahu alasannya secara hakiki: ternyata jauh di dalam hati saya memerlukannya untuk perkembangan saya pribadi! Jadi, sebenarnya yang diuntungkan oleh kegiatan ini bukan hanya para mentee saya, tapi terlebih-lebih adalah saya sendiri! Saya dengan tanpa sadar memilihnya karena jauh di dalam diri ada yang sedang ‘kelaparan’ akan perkembangan jiwa ke arah yang lebih matang. Mentoring, interaksi dan sharing dengan para mentee, memperhatikan para mentee dengan karakternya masing-masing, ternyata telah membawa perubahan yang cukup bermakna buat saya sebagai pribadi.

Pagi tadi saya memberi presentasi tentang pengembangan karakter untuk generasi muda bersama Bio sebagai hostnya. Ada tiga pertanyaan sangat sulit yang dilontarkan beberapa hadirin. Pertama, dengan nilai-nilai yang berubah sedemikian cepat, bagaimana kita membimbing para anak didik kita? Kedua, apa tidak sia-sia kita membina karakter baik mereka, sementara di dunia luar mereka melihat contoh-contoh buruk dari orang-orang berpangkat tinggi dan yang seharusnya menjadi panutan? Ketiga, bagaimana menangani anak didik yang sudah pasrah, tidak mau belajar, malas sekolah, dan tetap menganggap bahwa dirinya baik-baik saja?

Pertanyaan sulit. Sudah saya jawab di sesi tadi dengan bimbingan entah dari mana, yang jelas jawabannya panjang dan sangat mengena, karena sang penanya manggut-manggut sambil mengacungkan jempol. Jawabannya kayak apa sih? Sabar. Saya postingkan juga nanti di blog ini.

Posted in: Uncategorized