Penjelajahan Alam Bawah Sadar

Posted on March 4, 2011

0


Episode 1:
Sebagai mentor, saya tahu benar bahwa yang harus saya lakukan untuk mengarahkan para mentee saya adalah menukik ke alam bawah sadarnya dan membanjirinya dengan pesan-pesan positif. Maka, saya pun mempelajari ilmu komunikasi alam bawah sadar. Ketika liburan, saya mengajak Pamela untuk melakukannya bersama saya. Kami sepakat bertemu di alam bawah sadar ketika sedang tidur di malam hari. Manteranya sederhana. Masing-masing membatinkan kalimat ini dalam hati menjelang tidur: “Patris/Pamela malam ini saya menemuimu di alam bawah sadar ketika kita tidur; dan manakala kita bertemu, saya akan terbangun dan tahu apa yang kamu rasakan.”

Apa yang terjadi di malam itu?

Saya bermimpi datang ke rumah Pamela. Dia menemui saya di ruang tamunya. Ada meja rendah, lemari/rak kaca coklat di belakangnya, dan setelah menyambut saya, dia naik ke lantai atas melalui tangga yang melingkar ke kiri.

Paginya, dia kirim sms menceritakan bahwa dia ketemu saya, tapi saya kelihatan diam dan serius sekali. Saya ceritakan apa yang saya mimpikan, dan saya tanya: “apakah betul rumahmu seperti itu?”

Jawaban smsnya membuat saya terhenyak: “Ya, betul. Ada meja rendah, barang coklat di belakang itu adalah miniatur kereta api, dan ke belakangnya lagi ada tangga yang melingkar ke kiri.”

Episode 2:
Di sesi mentoring Selasa kemarin, saya mengajarkan teknik komunikasi alam bawah sadar itu ke mentee-mentee yang lain. Lalu kami menuliskan nama kami masing-masing di atas secarik kertas, mengacaknya, dan mengambilnya secara acak pula. “Kalian ulang mantera itu malam ini, dan tujukan ke teman yang namanya tertulis di atas kertas itu”. Tentunya, masing-masing tidak tahu kertasnya diambil oleh rekan yang mana.

Malam tiba. Saya buka kertas saya. Ah, nama Pamela lagi yang muncul. Ok, saya tidur setelah membatin kalimat ajaib itu. Dan, gila, saya mimpi lagi. Kali ini saya lihat Pamela berjalan memakai baju putih bersih. Saya panggil namanya tapi dia tidak menoleh sedikitpun. “Wah, kapok kon mentor dikacangin,” batin saya. Tapi terus saya lihat dia melangkah ke lift, dan lenyap dibalik lift yang membawanya ke atas. Saya tertegun, kemudian membatin: “Oh, baiklah. Mungkin memang sudah saatnya kamu mengambil jalan menuju Terang.”

Esoknya, saya baru tahu dari mentee-mentee yang lain, termasuk Pamela, bahwa misi mereka gagal total. Ivy yang mendapat nama saya bahkan tidak mimpi apa-apa.

Saya berpikir lagi. Apa ada yang salah. Ah, ternyata baru ketahuan salahnya dimana! Ah, dodol benar . . .

Episode 3:
Gagal bukannya kapok, malah tambah menggila. Malam berikutnya saya mengajak Bio untuk bertemu di alam bawah sadar. Dia setuju, dan saya pun bermimpi lagi. Kali ini saya menjadi seorang anggota panitia di suatu kampus. Sibuk kesana kemari, ketemu beberapa orang bule, dan agak bertengkar dengan seorang anggota panitia yang lain.

Esok paginya, saya cerita ke Bio dan bertanya “Apakah di mimpi itu saya sedang merasakan apa yang kamu alami akhir-akhir ini?” . Dia membenarkan, bahwa dia memang sedang sibuk menyelenggarakan beberapa event di bulan ini, tapi dia nggak sampai bertengkar dengan rekannya.

“Lha terus kamu mimpi saya enggak?”

“Nggak, Pak,” jawabnya. “Saya capek sekali. Jadi saya tidur pulas gak mimpi blas.” Jiyaahhh …..:( !

Lalu sore harinya, ganti Bio yang penasaran. “Ayo kita coba lagi, Pak,” katanya.

“Ok,” jawab saya, “tapi sekarang manteranya kita ubah. Bagian belakangnya kita ubah menjadi : “begitu bertemu dengan kamu, kita akan saling menyapa”.

“Wokay!”

Begitu terlelap malam kemarin, saya mimpi dua kali. Yang pertama, saya mimpi jadi anak kos yang harus pindah kamar. Di kamar itu saya terpaksa sharing dengan dua teman yang sedang ngorok ketika saya datang. Saya pandang ke atas dan melihat kelambunya agak bolong, ditambal, entah karena apa.

Di mimpi kedua, saya datang ke suatu gathering. Di depan saya duduk seorang wanita, agak tertutup oleh beberapa orang. Ah, ini dia, saya siap-siap menyapa: “Halooo Biooo!”. Begitu wajahnya tersingkap, saya membisu. Wanita itu bukan Bio, tapi seorang mantan mahasiswi saya di S2 yang sudah lama sekali tidak bertemu (jangankan ketemu, memikirkannya aja saya nggak pernah). Dia tersenyum, dan saya masih terdiam. “Kamu kemanaaaa, Biooo??”

Esoknya, pagi tadi, saya sms Bio menceritakan mimpi saya . Untuk mimpi pertama, dia bilang: “Itu saya, Pak. Beberapa hari ini saya memang share dengan teman lain karena di atap kamar saya ada kucing melahirkan (dasar kucing! Atap kamar mentee dianggap rumah sakit bersalin!). Tapi kemarin saya tidur sendiri di kamar dan ketakutan karena suara kucing melahirkan”.

Hmm,….jadi walaupun nggak sama persis, rupanya saya benar sedang menjadi Bio di mimpi saya pertama.

“Lha terus kamu mimpi apa, Bio?”

Ini jawabnya: “Saya mimpi bertamu ke rumah orang yang gak saya kenal. Sofanya berwarna terang, ada ruang makan dengan meja makan dengan taplak warna terang, lemari es ukuran besar, dan yang punya rumah sedang bicara dengan pasangannya tapi salah satu dari mereka sedang berbohong, dan yang satu tahu bahwa dia sedang dibohongi, tapi dia pura-pura tidak tahu.”

Wah, kok jadi tambah mbulet gini? Sofa rumah saya berwarna coklat gelap. Meja makan saya dari kaca, dan tidak ada taplaknya. Saya punya 2 lemari es kecil (satunya buat daging dan bahan masakan, satunya buat minuman dan buah). Setiap malam memang saya pillow talk dengan istri saya, but. . . . but . . . was I telling her a lie, or was she hiding something from me?

Makin lama makin ge-je, dan makin seram petualangan mentor nyleneh ini. Saya merasa agak ndak karuan sekarang, tapi satu hal: saya tidak kapok menjelajah alam bawah sadar!

Posted in: Uncategorized