Ayo Main Tembak-Tembakan dengan Senapan Otomatis

Posted on March 1, 2011

0


Apa yang saya lakukan kalau saya punya pistol?

Saya ingat salah satu film yang dibintangi oleh Michael Douglas. Judulnya lupa. Di film itu dia memerankan seorang yang frustrasi, jenuh, dan sebal sama situasi sekelilingnya. Lalu suatu ketika di tengah kemacetan lalu lintas, kekesalannya memuncak. Dia turun dari mobilnya, membawa senapan laras panjang, dan mulai menembaki orang-orang di sekitarnya: sesama pengendara, pejalan kaki, pengendara sepeda, tukang burger, bahkan sampai pemilik restoran Korea pun disikatnya.

Di Amerika, hal seperti ini bukan lagi sekedar rekaan atau imajinasi penulis cerita dan sutradara. Sudah banyak sekali kasus penembakan membabi buta oleh seorang sipil. Yang paling akhir adalah penembakan di Cumbria; sebelum itu ada penembakan di lokasi kampanye seorang politisi wanita. Sembilan tewas, termasuk seorang gadis cilik.

Yang paling tragis tentunya yang terjadi di awal dekade ini. Di sebuah SMA bernama Columbine, dua orang pelajar SMA yang sudah lama merasa terasing mengambil senjata semi-otomatis dari gudang ayahnya, membuat bom dari kaleng, kemudian meledakkan bom-bom tersebut di sekolahnya. Ketika guru dan murid-murid lainnya yang sedang belajar berlarian dengan panik, mereka tembaki satu persatu korban-korban naas itu. Puluhan siswa dan guru tewas mengenaskan. Darah berceceran di sepanjang koridor. Tubuh tanpa nyawa dengan dada dan kepala bolong bergeletakan di halaman parkir, di lapangan basket, di laboratorium, di depan kelas. Seperti juga di kasus-kasus penembakan lainnya di Amerika Serikat, kedua murid iblis itu akhirnya menembak kepalanya sendiri dan mati bergelimang darah. . . .

Teknologi senjata api makin dahsyat. Peluru yang dipakai sudah dibuat sedemikian rupa sehingga kalau peluru itu menembus daging, putarannya bisa mengoyakkan daging itu sehingga lubang keluar peluru itu akan lebih besar daripada lubang masuknya. Untuk mendapatkan gambaran lebih jelas efek dahsyat peluru seperti ini, coba buka Youtube. Cari President Kennedy assassination. Lihat sendiri bagaimana kepala presiden yang terhormat itu berantakan dihajar peluru seperti itu. Semoga Anda ngeri dan tersayat, karena saya pun iya.

Tak ada yang manis dari senjata api. Yang ada hanya luka menganga, darah, dan kedukaan mendalam. Bayangkan dirimu sedang enak-enak ngobrol dengan teman baikmu di kelas; kemudian mendadak ada seorang mahasiswa atau dosen atau mentor gila menembaki orang-orang di sekitarmu. Hanya dalam waktu tak lebih dari semenit temanmu sudah jadi mayat bersimbah darah segar. Kamu suka??

Kalau nasib membawa saya menjadi penjual, perakit, atau perantara senjata api, saya hanya akan menikmati uangnya, tapi tidak mau melihat barang ciptaan saya itu dipakai.

Tapi kembali pada pertanyaan saya di atas tadi: apa yang saya lakukan kalau saya punya pistol?

Ingatan saya melayang ke sesi mentoring siang tadi. Singkat namun berkesan. Topik yang saya pilih adalah: Life is a choice. Hidup adalah sebuah pilihan. Mau memilih jalan gelap atau jalan terang, terserah. Namun ingat, setiap pilihan membawa konsekuensi. “Karma”, katanya Stella. “Saya tidak mau memilih jalan gelap karena tahu hal itu akan membawa akibat gelap juga ke saya, atau ke orang-orang yang saya kasihi, atau ke keturunan saya.”

Persis. . . .

Posted in: Uncategorized