Anak Ayam, Mentee, dan Saya

Posted on February 27, 2011

0


Ketika masih kecil, saya punya beberapa ekor ayam. Ada yang masih kecil, dan karena lucu, saya sering memegangnya. Anehnya, setiap kali saya pegang dan genggam di tangan, si anak ayam sialan itu meronta-ronta minta dilepaskan.

“Coba kamu biarkan saja,” nasihat nenek saya. “Biarkan saja di tanganmu, jangan dipegang kuat-kuat.”

Saya turuti nasehat nenek. Ayam itu saya biarkan di tangan, saya hanya membelai-belainya beberapa kali, tapi tidak menggenggamnya.

Aneh, si anak ayam itu mulai tenang. Sesekali dia mematuk-matuk tangan saya, tapi selebihnya dia tenang dan nampak nyaman disitu.

Rupanya begitu jugalah anak manusia. Semakin kuat kita menggenggamnya, semakin ingin dia melepaskan diri. Tapi begitu kita kendorkan genggaman kita, dan kita beri perhatian secukupnya saja, dia mulai jinak, dan bahkan merasa ingin di dekat kita.

Nampaknya Tuhan juga begitu terhadap manusia. Alih-alih menegur saya setiap detik atau memberikan saya ungkapan nasehat panjang lebar, kadang-kadang saya merasa Dia hanya duduk tenang, berdiam diri tidak melakukan apa-apa kecuali melihat saya. Bahkan doa-doa yang saya unjukkan kepada Nya pun seolah tidak digubrisnya. Kalaupun akhirnya doa itu terjawab setelah sekian lama, terkabulnya doa itu ternyata lewat peristiwa-peristiwa kecil atau bahkan sepele yang sudah saya alami berkali-kali. Seolah-olah Tuhan mau mengatakan: “Ayolah, kamu sudah dewasa. Cari dan temukan sendiri jalan keluar dari masalahmu!”.

Hmmm . . .

Sekarang saya tahu mengapa kadang-kadang saya seolah ‘mengacuhkan’ beberapa mentee saya setelah sekian lama membanjirinya dengan perhatian dan nasehat-nasehat. Kalau saya tetap memberikan nasehat dan petunjuk ini itu, mungkin sama dengan saya ketika kecil dulu menggenggam si anak ayam itu erat-erat. Bukannya merasa nyaman, sang mentee pun, sama seperti si anak ayam itu, pasti tidak kerasan dan ingin hengkang.

Maka memang diam dan cuek bukan berarti tidak perduli . . .

Posted in: Uncategorized