Shrapnel 25 Feb 2011

Posted on February 25, 2011

0


“Setiap orang yang datang dalam hidupmu membawa pesan untukmu”.

Itu sepenggal kata bijak yang saya dapat dari twitter malam ini. “Ya, betul,” batin saya dalam hati. “Tapi setiap orang yang meninggalkanmu juga pasti membawa pesan tersendiri buat kamu.”

Apakah karena itu mantan mentee ini datang kembali ke kehidupan saya dan menanyakan sesuatu yang membuat saya terhenyak? Ya, sebenarnya dibilang “mantan mentee” pun tidak tepat. Setiap mahasiswa/i yang datang kepada saya dan meminta saran atau sekedar ingin didengarkan akan saya anggap sebagai mentee.

Tapi saya sudah mulai malas ber YM atau texting dengan dia. Bukan kenapa, tapi untuk masalah seperti itu, saya ingin dia datang dan berbicara langsung kepada saya, sehingga saya bisa lebih dalam menyelami perasaannya dan mengajaknya berpikir panjang untuk hal-hal yang dia rencanakan. “Kalau kamu ambil langkah itu, apa konsekuensinya? Sudah siap menanggung konsekuensi seperti itu? Kalau jenuh, lalu enaknya ngapain? Kalau tidak tahu, terus bagaimana caranya tahu?’. Ya begitu itu, kadang-kadang kesembuhan atau kelegaan itu bersumber dari diri sang mentee, bukan mentornya. Sebagai mentor, saya hanya mau menuruti cara pikirnya saja dan membukakan matanya akan akibat-akibat–entah baik atau buruk–yang akan diterimanya untuk setiap keputusan yang dia ambil. Dia sudah dewasa, dia pasti tahu secara naluri hal-hal apa yang membuatnya menjadi lebih bahagia.

Mentee yang agak aneh: seharian mondar-mandir di depan kantor saya sambil texting atau YM, tapi tidak mau masuk dan bicara.

Hmmm . . . .

Posted in: Uncategorized