Menjadi Idiot yang Happy

Posted on February 19, 2011

0


Sabtu pagi. Minum teh dingin sambil duduk santai di Atlas. Tak lupa netbook di atas meja. Dunia boleh kiamat tapi saya mau mereguk nikmat setelah seminggu penuh bekerja dan berpikir keras di kantor. Wenak!

Page favorit saya selain blog ini adalah twitter saya. Saya mengikuti tweetsnya orang-orang dari luar negeri yang selalu mencerahkan, membuka wawasan dan terutama perasaan. Salah satunya menulis begini: “I hate saying ‘hi’ to people and they don’t see me and I feel like an idiot!”

Ha ha haaa! Ya iyalah, saya juga sering kok merasa begitu: menyapa seseorang tapi dicuekin. Entah karena orangnya pas tidak melihat, atau memang dia sedang sebal melihat saya. Terakhir kali saya mengalaminya adalah di Hotel Shangri-La waktu diundang dinner oleh Kedubes US. Orang yang saya sapa adalah mantan bos saya di Ubaya yang dulu sempat berkonflik parah dengan anak buahnya, termasuk saya, karena memang pribadinya yang luar biasa sulit. Akhirnya Universitas sepakat melengserkannya dan menggantikannya dengan saya. Nah, itu sudah 6 tahun yang lalu! Dan dia masih menyimpan dendamnya sampai sekarang, sehingga dia melengos saja waktu saya memberinya senyum dan melambaikan tangan!

Hmm, sekitar beberapa detik saya terpana. “Feeling like an idiot,” kata tweet di atas. Memang iya.

Tapi terus saya pikir lagi: sebenarnya siapa yang lebih sakit dalam peristiwa itu? Saya jadi ingat salah satu kutipan bijak: “Anda perlu lebih sedikit urat wajah untuk tersenyum daripada untuk merengut.” Dengan kata lain, orang yang tersenyum dan menyapa dengan tulus sejatinya lebih bahagia daripada orang yang bersusah payah menjaga mukanya agar terus merengut! Capek lho merengut itu! Coba Anda sehari saja pasang tampang merengut. Di ujung hari Anda pasti merasa lebih capek dan lebih muram. Tapi coba Anda menyelingi hidup sehari dengan tersenyum lebar dan tulus, bahkan ketawa. Percaya atau tidak (lebih baik percaya deh), di ujung hari Anda akan merasa lebih ringan, lebih ramah, dan lebih pasrah terhadap apapun yang sudah terjadi di hari itu, baik atau buruk, cerah atau mendung.

Jadi, akhirnya saya memang masih merasa seperti idiot dalam kasus di Hotel Shangri-La itu, tapi setidaknya saya yakin bahwa saya lebih bahagia daripada mantan bos saya itu.

Hmm, pikir-pikir juga, mungkin ini pelajaran berharga untuk rekan-rekan atau bahkan mahasiswa yang sempat merasa menjadi “idiot” ketika berpapasan dengan saya di kampus. Sudah memandang, tersenyum, menganggukkan kepala, eh, sayanya dingin-dingin saja. Percayalah, pada saat itu Anda sedang menjadi manusia yang jauh lebih happy, lebih ramah, dan lebih santai daripada saya.

Satu lagi kutipan bijak dari twitter tentang senyum: “Hati yang cerah adalah sumber senyum yang manis; namun, seulas senyum yang manis juga bisa membuat hati menjadi cerah.”

Such is the power of smiles. Smile, people!

Posted in: Uncategorized