Sia-Sia

Posted on February 18, 2011

0


Sebenarnya semua ini sia-sia belaka.

Semua usaha ini, semua jerih payah ini, bahkan semua doa ini, sia-sia belaka.

Untuk apa juga Anda bercucuran keringat bahkan darah untuk memperjuangkan suatu cita-cita? Nanti setelah cita-cita Anda tercapai dan kemerdekaan itu terpenuhi, Anda toh akan mati pada akhirnya. Setelah mati, paling banter nama Anda hanya akan dijadikan nama jalan di kota itu. Mungkin kalau nasib Anda lebih baik sedikit, Anda dijadikan patung di suatu sudut kota, di tengah jalan atau di taman, tapi ya hanya itu: patung beku, sementara lalu lintas dan debu tak henti bersliweran dan beterbangan, tak ada lagi yang perduli . . .

Untuk apa juga Anda bersusah payah mengumpulkan serupiah demi serupiah, membangun usaha dari nol, jatuh bangun di tengah kompetisi ketat, lalu akhirnya berjaya di pasar nasional dan internasional? Nanti juga semuanya akan berakhir. Bahkan sebelum Anda mati pun, harta Anda sudah mulai diincar oleh generasi penerus Anda. Setelah Anda mati pun, sama seperti pahlawan di atas, nama Anda paling banter hanya ‘diabadikan’ sebagai nama gedung. Sementara itu Anda sudah mati tanpa membawa secuilpun harta benda tadi.

Jadi guru. Guru Besar. Untuk apa juga sih, susah payah studi dari SD sampai S3, tak henti-hentinya berpikir ilmiah, meneliti, menulis artikel untuk jurnal, dan mengajar? Setelah sekian belas tahun, makalah atau disertasi Anda juga tak lebih dari seonggok kertas di sudut perpustakaan, atau sudah direduksi menjadi soft copy dalam sebuah cakram rekam atau di Flashdisk. Murid-murid Anda sudah mejadi manusia mandiri, sibuk dengan urusannya sendiri dan pasti sudah lupa sama gurunya. Gone with the wind.

Seberapapun besar jasa Anda, semua juga akan lupa, atau hanya ingat samar-samar.

Jadi pada hakekatnya hidup adalah suatu kesia-siaan maha besar.

Hmm,. . . justru karena sangat sadar bahwa hidup sebenarnya sia-sia belaka, saya berupaya keras untuk menjadikannya bermakna. Kalau kehadiran saya pada akhirnya memang tidak membawa manfaat material untuk diri saya sendiri, setidaknya saya harus yakin bahwa kehadiran dan karya-karya saya membawa makna dan manfaat bagi orang lain. Kalau tidak sekarang, ya mungkin lima, sepuluh, atau dua puluh tahun lagi, bahkan lebih.

Lha tapi nanti saya pasti dilupakan. Bagaimana itu? Lha justru karena pada akhirnya saya akan dilupakan, pada saat orang lain masih bisa dengan mata kepala sendiri menyaksikan bagaimana saya berkarya, saya putuskan untuk melakukan yang terbaik dari diri saya untuk membuat orang lain mengeluarkan yang terbaik dari diri mereka. Karena saya seorang guru, ya saya berusaha keras untuk memberikan yang terbaik sehingga para mahasiswa dan mentee saya mampu mengeluarkan yang terbaik dalam diri mereka.

Hidup sama seperti sebuah rangkaian kereta super cepat yang remnya blong. Dalam waktu beberapa jam, kereta itu akan sampai ke ujung rel dan nyemplung ke jurang. Semua upaya penyelamatan pasti akan sia-sia. Kita semua punya pilihan untuk bersikap: tiduran sambil menunggu ajal, atau mulai melakukan sesuatu yang bermakna bagi orang lain dalam waktu yang makin lama makin sempit.

Your choice?

Posted in: Uncategorized