Hubungan Gelap Menteeku denganNya

Posted on February 15, 2011

5


Salah satu pertanyaan tersulit dari seorang mentee saya adalah ini:

“Pak, mengapa ya orang yang percaya pada Tuhan hidupnya justru tidak sebahagia orang yang tidak percaya Tuhan? Saya sudah banyak melihat contohnya.”

Saya tertegun sejenak mendengarnya. Ya, benarkah begitu?

Lalu saya menjawab dengan setengah mengandalkan intuisi:

“Mungkin Tuhan memang tidak menjanjikan kebahagiaan seperti yang kita artikan selama ini, yaitu kebahagiaan duniawi yang sifatnya hanya sementara saja. Tuhan menjanjikan hidup sejahtera dan damai bersamaNya di kerajaanNya. Itu berarti jelas tidak di dunia yang fana ini.”

Saya ingat-ingat lagi dengan susah payah ayat-ayat atau ajaran agama saya yang relevan dengan hal ini. Ya, setahu saya Tuhan memang tidak pernah menjanjikan hidup bahagia dengan materi berlimpah di dunia ini untuk orang yang mempercayaiNya. Ya, barangkali masuk akal. Makhluk seperti Tuhan mana mau terikat dengan alam fana yang pada suatu ketika pasti akan hilang tak berbekas ini? Uang, mobil, rumah mewah, batangan emas, itu semua tidak kekal. Makhluk seperti Dia pasti melihat jauuh, jauuh melampaui ruang waktu dan materi di alam ini, jauh menuju ke alamNya yang maha kekal. Mungkin disitu letak kebahagiaan yang Dia janjikan untuk orang-orang yang mengimaniNya.

Kalau ada orang yang sekalipun percaya Tuhan, rajin beribadah dan beramal tapi hidupnya pas-pasan, tidak pernah menjadi yang unggul atau berprestasi cemerlang, ya mungkin juga karena karmanya di masa lalu membuatnya seperti itu. Tapi jelas Tuhan mendengarkan doa-doanya dan amal baiknya. Nah, karma baik itu suatu ketika akan matang dan menimpa dia ketika dia sudah tua kelak, atau menurun ke keturunannnya.

Tapi orang seperti mentee saya itu mana puas dengan penjelasan karma segala macam seperti ini. “Buat saya, hanya yang nyata, yang sekarang dan disini yang saya percaya. Yang tidak nyata berarti tidak ada, dan oleh karena itu saya tidak percaya,” demikian dia pernah berkata.

Benar, lho, seandainya saya punya ilmu atau aji-aji sukma, saya akan membunuh mentee saya ini, membiarkan dia mati, kemudian menghidupkannya kembali supaya dia bisa melihat bahwa jiwa, roh dan alam sesudah dunia fana ini nyata adanya, sekalipun dia tidak bisa melihatnya ketika dia masih hidup.

Tapi untungnya saya tidak punya ilmu untuk membangkitkan mentee yang sudah mati saya bunuh. Jangankan membunuhnya, ketika mendengar dia ingin mati saja saya sudah bergidik tidak karuan.

“Are you sure you want to delete the file? Recovery is impossible”

Saya jadi ingat paham Deisme: Tuhan menciptakan alam semesta dan makhluk hidup, lalu meninggalkannya begitu saja. Apa ini yang terjadi? Kalau itu benar, masihkah saya dengan sangat percaya diri mengatakan kepada mentee itu: “sekalipun kamu tidak percaya Tuhan, Tuhan tetap mencintaimu.” Masak iya? Lha kalau Tuhan sendiri sudah pergi, terus siapa yang mau merawat jiwa yang sedang meranggas seperti ini? Mentornya? Halah! Lha sang mentor itu ya bisa apa, wong dia juga sedang berjuang dengan his own dark sides, kok.

Hmm, kembali pada pertanyaan sang mentee tadi. Saya jawab: “kalau kamu punya contoh tentang orang-orang yang tidak percaya Tuhan tapi bahagia itu, saya juga punya contoh tentang orang-orang yang bahagia karena mereka percaya bahwa kasih Tuhan itu NYATA adanya, dan mereka sedang menikmatinya.”

Demikianlah, makanya debat tentang iman dan agama tidak akan habis. Kalau satu orang mengajukan contoh untuk mendukung pendapatnya, orang yang lain juga bisa mengajukan contoh yang berlawanan, lalu orang yang lain lagi bisa memberikan contoh atau kasus yang berlawanan lagi, dan begitu seterusnya sampai mulut mereka kram dan akhirnya berhenti sendiri.

Sang mentee itu sudah tidur ketika saya menulis posting ini. Saya hanya bisa berdoa untuknya setelah seharian mendengarkan celoteh dan curhatnya. Saya hanya berbekal iman, tidak punya apa-apa lagi selain itu. Iman saya mengatakan bahwa Tuhan itu ada, dan Dia sepenuhnya memahami kerisauan kami berdua, dan sedang membimbing sang mentee ini dengan caraNya yang ajaib, entah bagaimana itu. Perkara sang mentee besok bangun dan tetap tidak percaya Tuhan, ya sudah, yang jelas saya percaya Tuhan tetap mencintainya.

Posted in: Uncategorized