Ingin Mati

Posted on February 13, 2011

2


Agak aneh bahwa dengan tingkat pengetahuan kita secanggih yang kita punya sekarang, kita belum bisa menjamah misteri kematian. Padahal kematian begitu dekat dan pasti dengan kita semua, jauh lebih dekat dan lebih pasti daripada UFO atau makhluk alien. “Tak ada yang pasti di dunia ini, kecuali kematian”, kata seorang bijak. Betul.

Apa yang terjadi sesudah kematian? Bagaimana alam kematian itu? Tak ada seorangpun yang berani menawarkan jawabannya, karena memang belum ada yang mati beberapa hari terus hidup lagi untuk menceritakan pengalamannya. Ya, mungkin juga ada, tapi sayangnya waktu dia mau cerita, semua yang dia hampiri langsung pontang-panting ketakutan. Akhirnya karena frustrasi nggak bisa cerita, dia pun mati lagi dan tak pernah hidup kembali. Jadi begitulah, kematian tetap suatu misteri.

Maka saya hanya bisa menduga-duga bagaimana kematian itu. Berbekal hasil penelitian Raymond Moody tentang orang-orang yang mati suri (mati beberapa saat lalu hidup lagi), dan sedikit logika, mungkin seperti inilah kematian itu:

Mati berarti melepaskan diri dari raga dan pikiran yang memang tidak kekal. Tanpa raga dan pikiran yang sarat dibebani ego, nafsu dan naluri duniawi, yang ada hanyalah nyawa atau jiwa. Tanpa raga dan pikiran, sang jiwa melayang tanpa ego, tanpa beban sama sekali, seperti kapas dihembus angin, berkelana kemana-mana tak terikat ruang dan waktu. Wow! Sampai disini saya jadi ngiler akan mati. Ternyata mati bisa enak juga yah? Ketika Anda mati, Anda bisa melihat kembali momen kelahiran Anda, kembali ke masa kecil, lalu secepat kilat kembali ke jaman Anda pacaran di SMA, jadi orang tua, sakit, lalu mati, kembali lagi ke masa remaja, bolak-balik; demikianlah Anda bergerak dengan sangat lincahnya seperti sebuah mouse bergerak mengelilingi layar komputer yang dipenuhi sejarah hidup Anda.

Beberapa orang beriman percaya bahwa sebenarnya kata “mati” itu salah kaprah. Orang tidak mati lalu lenyap begitu saja, tapi dia tetap hidup di tingkat pengalaman yang lebih tinggi daripada ketika masih terbatasi oleh darah dan daging. “Living in another higher perspective of life”, demikian istilah kerennya. Di alam itu, sang jiwa melihat kembali semua tindakannya semasa dia hidup sebagai darah dan daging dan ego, lalu mulai ‘menyesali’ kesalahan-kesalahannya. Kata ‘menyesali” itu sengaja saya beri tanda kutip, karena tanpa pikiran dan perasaan, sang jiwa sebenaranya sudah tidak bisa lagi merasa ‘menyesal’. Apa yang dia rasakan sebagai penyesalan itu terwujud dengan keinginan yang kuat untuk kembali ke alam bawah itu dan mengalami semuanya lagi, kali ini sebagai manusia lain yang menjadi subyek dari perbuatannya di masa lalu. Nah, rupanya disini muncul pengertian “karmic cycle (siklus karma)”: kalau kita pernah menyakiti orang lain, si A, misalnya, ketika sudah mati kita terlahir kembali untuk menempati posisi sebagai si A dan merasakan sendiri akibat dari perbuatan kita dulu. Sebaliknya, kalau kita dulu menolong si A, kita juga akan terlahir kembali di posisi si A dan merasakan betapa manisnya bantuan yang dulu kita berikan. Karma. Hukum timbal balik. What you give is what you get.

Hmmh, sampai disini saya makin ingin mati . . . . aduuh . . .!

Beberapa orang dari budaya tertentu juga meyakini bahwa di alam kematian, si mati tetap merasa lapar dan butuh uang saku untuk belanja-belanja ke mall di alam barzah sana, atau sekedar menyogok malaikat maut supaya tidak terlalu bengis menyiksanya. Maka ketika Anda mati, anak dan cucu Anda akan membakar semua miniatur barang-barang kesukaan Anda: rumah, lengkap dengan antena TV kabel, mobil, uang bergepok-gepok, mungkin juga karet KB, pil Viagra, dan sebagainya. Tujuannya supaya Anda bisa tetap hidup makmur disana. Saya terus terang bergidik membayangkan kematian seperti ini. Amit-amit, kalau ternyata setelah matipun saya masih tetap ingin ini, ingin itu, butuh duit, butuh nikmat dan sebagainya, saya tidak mau matiii! Jangaaaann! Saya ngerii!!

Ah, maka mari kita cari mati versi lain saja. . . .

Mati itu berarti lepas dari ikatan emosi dan ikatan waktu. Tidak ada lagi kata sifat “benci”, “dendam”, “sedih”, atau “penasaran” (makanya jangan percaya kalau ada judul film “Arwah Penasaran”); tidak ada lagi konsep sekarang, masa lampau, besok, atau masa depan. Timeless realm! Tidak ada waktu. Karena tidak ada waktu, maka berarti juga tidak ada rencana, tidak ada penyesalan akan masa lampau, tidak ada kenikmatan masa kini. Anda berada pada sesuatu yang nihil . . . . tidak ada apa-apa. . . . . nihil . . . . nir makna!

Itu sebabnya pemikir-pemikir mistis pernah mengatakan bahwa puncak kebahagiaan itu sebenarnya kembali pada kehampaan, ketiadaan yang maha abadi. Nirvana, kata orang Buddha. “There is nothing out there” kata Neale Walsch, seorang penulis spiritual. NOTHING.

Saya ingat samar-samar seorang komunis berteriak: “Kita akan mati!Mati seperti kecoak yang baru diinjak! Setelah mati, lalu lenyap begitu saja!”. Dulu saya pikir dia sedang menghujat Tuhan dan surga/neraka, tapi setelah saya pikir sekarang, h m m m m . . . .mungkin apa yang dia katakan ada benarnya juga.

Masih ingin mati?

“Kematian dan kehidupan itu sama saja. Yang mencekam adalah transisinya,” kata seorang bijak yang lain.

Seorang yang dekat dengan saya mengatakan suatu ketika bahwa dia ingin mati. Mati dengan indah, katanya. Sekalipun hati saya berkeping-keping mendengarnya, saya tetap paksakan diri untuk bertanya dengan tenang: “Ok, kamu boleh mati, dengan satu syarat: setelah mati, kamu bilang ke saya dan orang tuamu bahwa kamu berbahagia disana. Bisa?”

“Nah, itulah,” jawabnya. “Saya sendiri juga tidak tahu apakah saya akan bahagia atau tidak di alam kematian.”

Baik.

Gimana, masih ingin mati?

Yah, ingin nggak ingin, kita semua toh akan mati,” kata seorang bhiksu di NDTV. “Jadi nggak usah repot-repot bunuh diri; nanti suatu ketika Anda pasti mati, kok, tenang aja”.

Tapi kapan? Kapan Anda mati?

Ya, itu lagi satu misteri kematian: tak seorang pun tahu kapan akan mati. Mungkin besok, meungkin lusa, mungkin enam puluh tahun lagi, mungkin setelah membaca blog ini. Tak ada yang tahu kapan. Kapannya itu tak pasti. Yang pasti adalah Anda dan kita semua pasti mati. Pasti.

Posted in: Uncategorized