UFO

Posted on February 11, 2011

0


Ketika masih usia 10 tahun di kelas 5 SD, saya mulai takjub dan penasaran dengan fenomena yang disebut UFO (Unidentified Flying Object). Benda serupa piring, terbang atau mengapung sekian ratus meter di permukaan tanah atau di atas laut, dan melesat dengan kecepatan ndak lumrah blas ketika dikejar oleh pesawat-pesawat jet. Gaya manuvernya luar bisa tajam. Jika pesawat-pesawat kita dipaksa bermanuver seperti itu, nisacaya pilotnya akan berantakan karena gaya G yang terlalu besar. Wah, kereeen!

Itu masih ditambah dengan cerita-cerita penampakan pengendaranya, yang disebut ETI (Extra Terrestrial Intelligence). Banyak yang menyebutkan mereka berbentuk seperti manusia, namun dengan kepala gedhe, mata hitam tanpa kelopak yang juga lebar, dan kaki, tangan serta tubuh yang cenderung kurus. Sungguh dahsyat jeleknya! Ya, tapi itupun kalau benar, karena ternyata setelah saya setengah percaya pada kabar-kabar itu, santer juga yang mengatakan bahwa itu semua tipuan foto, atau barang hasil ciptaan negara-negara maju seperti AS dan Soviet (waktu itu belum pecah jadi Rusia) yang konon sedang bereksperimen maha rahasia untuk membuat senjata tercanggih.

Demikian terobsesinya saya sampai membayangkan dan setengah mengharapkan saya diculik ETI sehingga bisa melihat bagian dalam pesawat luar angkasanya, dan syukur kalau diajak tur gratis ke planetnya sana. Ah, khayalan anak kecil . . . .

34 tahun setelah itu, saya tak satu kalipun melihat UFO, apalagi ETI. Langit yang saya pandang setiap kali insomnia tetap langit gelap nan luas, kadang diaksentuasi oleh terangnya bulan purnama dan kemerlip jutaan bintang, tapi ya hanya itu.

Kalau mau dipikir-pikir, di tengah alam semesta yang maha luas ini, apa iya kita hidup sendirian? Bintang seperti matahari kita itu jumlahnya milyaran lho! Lha masak tidak ada satupun di antaranya yang mengandung kehidupan cerdas?

Pada usia sekarang, saya sudah tidak lagi terobsesi dengan UFO. Namun saya meyakini bahwa mereka ada. Mereka mungkin juga sudah pernah menginjak Bumi ini ratusan atau ribuan tahun yang lampau. Tahu Candi Borobudur dan piramid-piramid di Mesir, lukisan-lukisan aneh di tanah Aztec, bahkan juga crop circles? Ada yang mengatakan bahwa pada jaman itu, mustahil manusia bisa membuat bangunan maha besar dengan akurasi simetris yang menakjubkan kalau tidak dibantu oleh teknologi cerdas dari luar Bumi. Bahkan, para ahli meyakini bahwa letak penempatan piramid itu sedemikian rupa sehingga sebenarnya bisa dibaca sebagai kode atau pesan dari mereka untuk umat manusia. Menjadi tugas kita dan para ahli semiotik untuk mengurai artinya.

Saya juga setengahnya agak yakin bahwa para aliens itu tidak lagi berbentuk makhluk aneh yang jelek abis seperti yang saya gambarkan di atas tadi. Ada satu bacaan, saya lupa judulnya, yang mengatakan bahwa mereka telah menyusup ke dalam gen manusia, dilahirkan sebagai manusia, tapi dengan kepribadian dan kemampuan pikir yang melebihi rata-rata manusia. Masih ingat jaman tabung hampa? Nah, loncatan dari tabung hampa ke transistor, kemudian ke IC yang menjadi cikal bakal prosesor komputer berkecepatan luar biasa diyakini terjadi karena ada bantuan giant leap (lompatan raksasa) yang dimotori oleh para aliens yang telah mewujud menjadi manusia ini.

Di Kompas ada ulasan tentang upaya tak kunjung henti dari manusia untuk mendeteksi kehidupan di luar sana. Ratusan piringan antena diarahkan ke langit tak bertepi, mencoba menangkap sinyal-sinyal dari makhluk luar angkasa. Hasilnya: masih nihil. Hanya kesunyian yang tertangkap. Sebagian ahli meyakini bahwa itu karena jarak rumah mereka yang trilyunan mil dari kita, sehingga bisa jadi pesannya sudah terkirim namun baru sampai ke Bumi sekian ratus atau bahkan juta tahun kemudian. Sebagian lagi mengatakan: “Tidak ada yang salah dengan kemajuan teknologi pencarian ETI ini. Nah, mengapa belum berhasil juga? Jawabannya sederhana: karena sebenarnya mereka itu tidak ada!”. Wadaw!

Menarik untuk membayangkan apa yang akan kita katakan pertama kali ketika melihat mereka nongol di depan kita. Saya tanya beberapa murid saya dan jawabannya hampir seragam:

“Kamu ngapain kesini?”

mungkin bisa berlanjut dengan: “Rumah kamu dimana? Bagaimana kamu datang dari jarak yang sedemikian jauh? Apakah kamu punya agama? Apakah kamu tahu apa itu cinta? Kamu makan apa? Terus, sekarang setelah kenalan gini, kamu mau apa?”

Posted in: Uncategorized