Losing My Religion

Posted on February 9, 2011

5


I am losing my religion. So sad. Bukan maksud saya untuk meninggalkannya. Saya dibaptis di gerejanya. Nama depan yang sekarang jadi nama panggilan saya adalah bukti baptis itu. Tapi manakala sesuatu sudah tidak lagi mengisi jiwa, lha masa saya harus bersikeras mendekapnya?? Untuk apa?

Anda bilang: “Tanpa agama kamu sesat!”. Saya bilang: “SALAH besar! Benar, saya mulai meragukan agama, tapi saya tidak kehilangan pegangan sama sekali terhadap Allah, yang dalam hidup saya mewujud menjadi Yesus. Saya memperoleh banyak nilai spiritual dan pelajaran kehidupan dari pengalaman hidup, dari buku-buku yang mencerahkan (nota bene: bukan buku-buku agama saya), dari kaum bijak nan welas asih seperti Buddha, Mother Theresa, Mahatma Gandhi, Yesus, bahkan orang-orang ‘biasa’ seperti Stephen Covey, Edward de Bono (pengarang buku “Think” yang sangat saya sukai), Deepak Chopra dan sebagainya. Khotbah Pastor di gereja? Halah! Itu mah saya gak ngerti. Ya gak tau, entah saya yang dungu atau Pastornya yang geblek, yang jelas saya ndak mudeng.

Anda bilang: “Lha, gimana itu? Menyembah Yesus tapi mengemohi gereja dan agamanya?”.

Saya jawab: “Yesus kan tidak menciptakan agama? Setahu saya Dia datang untuk semua manusia, bukan pemeluk agama A atau B.”

Anda bilang: “Ya, tapi itu kepercayaan model apa? Ambil sana, ambil sini, comot sana, comot sini? Itu namanya sinkretisme.”

Saya diam. Bukan karena kalah omong. Tapi merasa percuma. Lha ya apa betul Tuhan nanti di pengadilan terakhir akan bingung karena saya main comot sana-sini pelajaran hidup yang baik? Lha wong Tuhan kok bingung?? Itulah, kadang-kadang saya melihat manusia-manusia beragama ini jauh lebih ‘tuhan’ daripada Tuhan sendiri. Hueks!

Suatu ketika, waktu saya masih mahasiswa S1, saya dibuat patah hati parrah oleh sorang frater. Ceritanya, dia itu menjadi pembimbing di kelompok rohani kami, sekelompok anak muda. Suatu ketika, diskusi rohani kami melebar sampai ke masalah ras. Si frater menceritakan insiden yang dia alami dengan seorang yang kebetulan dari ras berbeda. Komentarnya tidak pernah saya lupakan sampai sekarang: “Kalau ngelawan ras itu, mana saya mau kalah? Kalau mereka gak sopan, ya saya balas kasar!”. Haaahh? Saya tertegun, ternganga. Rasanya seperti melihat Malaikat Mikael keluyuran di lokalisasi wanita penghibur sambil mabuk. Ini frater! Frater yang seharusnya setiap omongan dan tindakannya mencerminkan kasih Yesus, yang nota bene tidak akan mengenal batasan ras dan setiap perbedaan lahiriah manusia! Bagaimana mungkin dia bisa dengan enteng dan geramnya mengucapkan kalimat sangat rasis seperti itu?? Lha terus doa-doa dan hidup kontemplatif sekian lama di biara itu apa gunanya???

Kepercayaan saya terhadap figur rohaniwan langsung jatuh dan terbanting keras, dan terus menurun . . . sampai sekarang. So sad.

Kasus lain. Ada sepasang pria dan wanita dari dua agama yang berbeda. Mereka mau menikah. Celaka, sang rohaniwan dari agama si pria tidak bersedia memberkati atau meresmikan pernikahan mereka, semata-mata karena calon istrinya berasal dari agama lain. Nah, maka pasangan yang malang itu terpaksa hanya menikah di gerejanya si pengantin wanita, yang tidak keberatan dengan pernikahan campur agama.

Cerita belum selesai. Ketika tiba saatnya pesta di lingkungan si pria, si ketua lingkungan menyebar ‘himbauan’ supaya umatnya tidak datang ke resepsi itu. Kalau mereka datang, itu artinya mereka merestui pernikahan sepasang pengantin yang nota bene bernaung di bawah dua agama/dua gereja yang berbeda.

Jadi begitulah kerjanya orang-orang yang lebih “maha kuasa” daripada Tuhan ini: menghakimi orang lain, menonjolkan perbedaan, merasa dirinya benar dan yang tidak ikut pahamnya patut dibinasakan.

Ini juga yang akhir-akhir ini mencabik-cabik persatuan bangsa ketika sekelompok umat beragama menyerang dengan brutal kelompok lain yang dianggapnya menodai agama dengan ritualnya yang aneh. Sesudah itu, kebuasan mereka merembet ke tempat-tempat ibadah agama lain! Sama sekali ndak masuk dalam pikiran saya: kalau saya tidak setuju dengan suatu kepercayaan atau suatu ritual, saya paling banter hanya membatin, tapi saya tidak akan merusak apalagi melukai dan membunuh orang yang berlainan kepercayaan itu!

Sebenarnya ingin saya tanyakan dengan keras ke orang-orang ini: “Anda mau kemana sih dengan atribut agama-agama seperti itu?? Anda ini mau kemana sebenarnya dengan agama-agama Anda??? Kalau memang mau ke surga, apa ya sudah benar jalan yang Anda lewati yang bernodakan ceceran darah, pembatasan dan penghakiman atas orang-orang lain itu??”

Anda tidak bisa mengatakan: “Dengan agama, negara kami akan lebih maju dan sejahtera”. Lha wong buktinya negara Anda tertinggal jauh dibanding negara-negara lain, kok.

Anda tidak juga bisa mengatakan: “Dengan agama, hidup kami lebih beradab!”. Lha wong buktinya, orang-orang sebangsa dan setanah air Anda dibantai atas nama agama, kok.

Anda tidak juga bisa mengatakan: “Dengan agama, hidup kami jadi lebih bersih”. Mana buktinya? Bukannya korupsi itu sudah jadi bagian dari filosofi bangsa ini?

Mungkin John Lennon gendheng dari Liverpool itu benar: “Imagine there’s no religion”. No religion means no division, no separation among human beings who originally are created by the Single Source.

Mungkin bagus juga ide untuk meniadakan identitas agama di KTP. Kelak, tiga empat dekade lagi waktu agama sudah benar-benar gak laku (dan saya yakin itu akan terjadi), orang-orang akan mengatakan: “Saya gak mau tahu Anda beragama apa, atau tidak beragama sama sekali, karena itu ternyata gak ada hubungannya dengan urusan kita di Bumi ini.”

Posted in: Uncategorized