Stress Karena Hubungan dengan Teman

Posted on February 8, 2011

0


Manusia memerlukan sesamanya untuk menjadi bahagia, namun kadang kala justru manusia-manusia lain itulah yang menjadi sumber stress.

Mentee saya yang satu ini sedang mengalami masalah relasi dengan teman-temannya. Dua hari ini textingnya tak putus, semuanya mengutarakan perasaan jengkel, tak habis mengerti, dan sedih karena dia merasa digosipkan oleh teman-temannya.

Sebagai mentornya, saya tidak bisa begitu saja mengambil kesimpulan bahwa dia selalu berada di pihak yang benar. Apa yang saya dengar kan hanya dari dia seorang. Saya memerlukan masukan dari teman-temannya juga untuk memperoleh taksiran yang lebih tepat tentang apa yang sebenarnya terjadi, dan siapa penyebabnya.

Tapi itu tidak mungkin saya lakukan. Di tengah kesibukan yang menggunung, saya hanya bisa menerima keluh kesahnya, dan berupaya mendengarkan sebaik-baiknya, dan membantunya mencari jalan keluar. Lagipula, dia mentee saya, sementara teman-temannya yang lain kan ‘hanya’ mahasiswa saja.

“Tidak semua orang tepat menjadi teman kita,” saya balas. “Kalau sudah sekian tahun kamu hanya sakit hati saja, itu artinya ada yang kurang beres dengan hubungan pertemanan itu. Ya sudah, omong saja seperlunya, sebatas urusan organisasi atau kuliah, kemudian jalan sendiri dengan stylemu.”

“Tapi kamu juga harus mau introspeksi diri,” saya melanjutkan. “Coba lihat lagi berapa hubungan yang dulunya baik sekarang menjadi dingin, bahkan saling benci. Tanyakan pada dirimu sendiri apakah ada sikap-sikapmu yang sebenarnya turut juga menyumbang pada perpecahan itu.”

“Baik, itu juga sudah dan sedang saya lakukan,” katanya. “Saya sedang dalam proses memperbaiki diri”.

A-haaaa, itu yang ingin saya dengar.

“Tuhan juga menjawab pertanyaan saya,” dia melanjutkan. “Ternyata saya punya kelebihan yang membuat orang lain hanya bisa iri”.

“Nah, kan , apa juga mentormu bilang?? Nggak ada manusia yang diciptakan seratus persen cacat, luar dalam. Pasti ada kelebihan yang bermanfaat untuk manusia-manusia lainnya,” saya membatin dalam hati melihat jawabannya.

SMS nya pagi ini menyebut nama Tuhan. I am thrilled. Lalu smsnya berhenti. Semoga dia tidak insomnia lagi malam ini memikirkan masalahnya. Cukup sudah 4 semester didera masalah seperti itu. She deserves much better and happier days at Ma Chung . . .

Posted in: Uncategorized