Hipnotis Ke Masa Lalu Hampir Saja . . .

Posted on February 6, 2011

4


Karena sudah mual berat dengan Facebook (bukan Zuckerberg yang salah, tapi orang-orang yang memakai ciptaannya itu), saya berkelana ke dunia spiritual. Kali ini saya tertarik pada Past Life Regression Hypnosis, yaitu hipnosis diri sendiri untuk kembali ke masa lampau, jauuh, jauuh, jauuuh sekali bahkan sampai sebelum saya lahir. Masa lalu sebelum lahir akan menyingkap siapa diri saya sebelum menjadi seorang Patrisius Istiarto D, dan sedikit banyak akan membuka kunci semua masalah personal yang selama ini saya sampai berdarah-darah berkelahi dengannya.

Lha dalah, kata seorang pakar, hipnosis macam ini harus dilakukan seorang yang benar-benar ahli, dan bisa membutuhkan waktu berminggu-minggu. Yaah, saya tidak punya cukup waktu. Maka, saya pun nekad mencermati video klip di Youtube tentang self-hypnosis for past life regression. Dapat. Ada 3 klip yang harus didengarkan sampai selesai, masing-masing panjangnya sekitar 8 menit. Yah, udah kepalang basah, nyebur aja.

Di keheningan malam itu saya menutup mata, menenggelamkan diri ke suasana rileks total sampai rasanya sudah mati, terus menyelam jauuh, makin jauhh makin jauh kembali ke masa lampau. . . . ke masa kecil . . . masa balita . . . bahkan sampai waktu masih orok . . . . kembali ke rahim Ibu . . . . dan sebelumnya . . . .

Musik syahdu dari klip itu terus mengalun, dan instruksi lisannya terdengar jelas: “rileks . . . rileks . . . makin dalam . . . makin dalam . . . rasakan semua dengan kelima panca inderamu . . . . jika kau melihat bayangan-bayangan menjadi makin jelas, that’s who you are in the past.”

Aneh sekali. Saya mendadak melihat seorang tinggi besar berpakaian seorang petinggi Tiongkok, biru terang, dengan topi lebar khas pembesar Cina, dan . . . seutas benda hitam di tangannnya. Apa itu? Cambuk? Pedang? Golok?

Di sekelilingnya banyak orang wanita dan pria bersimpuh, seperti meratap-ratap. Si pembesar Cina itu membuka mulutnya, berkata-kata, seperti meneriakkan perintah.

Lalu saya mulai ketakutan. Itukah diriku? Tidaaak! Nafas saya yang semula tenang mulai bersicepat seiring dengan detak jantung yang makin kuat. Saya tak tahan lagi. Saya memutuskan untuk ngacir terbirit-birit dari latar itu. Terbayang kembali apa yang saya baca tentang self-hipnosis seperti ini sesaat sebelum mengikuti video klip itu: “Jangan mencobanya sendiri tanpa pendampingan seseorang yang sangat ahli. Ini bukan barang mainan!”. Duh, kenapa juga saya mengacuhkan peringatan itu.

Saya muncul kembali ke tahun 2011. Sedikit tersengal, dengan tangan agak gemetaran saya matikan video klip itu dan saya bunuh sekalian netbook saya.

Malam bergulir. Makin larut. Saya tidur, setelah berdoa semoga alam bawah sadar saya menghubungkan saya dengan kedamaian.

Lalu saya bermimpi. ADa sebuah hall besar penuh dengan orang, dan saya berbaring bersama mereka, rupanya mau tidur karena suasananya kelam, lelah. Tengah saya mau memejamkan mata, pintu terbuka dan tiga orang pria masuk, wajahnya tak jelas karena gelap. Dua orang merebahkan diri di samping saya yang sudah sempit.

Lalu saya merasa seorang diantaranya mengelus dan memijat punggung saya. Pijatannya lembut, saya harus mengakui sedikit terlena dibuatnya. Tapi ternyata di samping perasaan nyaman itu, saya mulai merasa tercekik. Saya ingin bangun tapi mengapa berat sekali. Saya paksakan menoleh ke belakang, dan . . . oh, holy shit! Orang itu bukan seorang pria seperti yang saya sangka! Kali ini saya tidak tahan lagi. Saya meronta dan bangun memasuki alam sadar. Dan, ah, d-a-m-n, . . . tangan lembut itu masih di punggung saya. Saya ingin berteriak:” Hoei! Ini aku sudah bangun! Kembali sana, jangan ikut kesini!”. Celakanya, suara saya tidak keluar. Yang saya lakukan adalah secara instinktif saya meraih tangan istri saya yang sedang pulas di sebelah saya, memaksanya terbangun dan merasa terusik.

“There’s something behind me,” saya menceracau ketakutan (jangan ketawa, kalau saya merasa panik atau gelisah, yang keluar justru bahasa Inggris, bukan bahasa Jawa atau Indonesia).

Dia hanya membuka mata sejenak, menggumam tidak jelas, dan menarik tangannya, lalu kembali tidur. . . .

Gangguan itu berhenti seketika. Meninggalkan saya terduduk di ranjang, pikiran kacau dan badan menggigil, setengahnya karena dingin, setengahnya karena ngeri. Saya mencoba berpikir: apa yang saya doakan sebelum tidur? Apa saya salah?.

Saya terhenyak ketika menemukan jawabannya. Oh, no! Stupid me!

Di tengah malam buta itu saya nekad keluar kamar, pergi ke kamar sebelah dan mengirim sms ke seseorang. “How are you? Apakah semua baik-baik saja dengan dirimu?”

Mungkin itu terakhir kalinya saya mencoba bermain-main dengan past life regression hypnosis . . . .

Posted in: Uncategorized