Mengapa Tuhan Memberi Saya Begitu Banyak Kelemahan?

Posted on February 5, 2011

0


Hampir tengah malam ketika saya terbangun dari tidur yang lumayan nyenyak. Kenapa? Yang ini bukan sekedar insomnia. Nampaknya ada sesuatu yang membangunkan.

Benar dugaan saya. Ada seseorang yang sedang ingin didengarkan, bahkan di malam selarut ini. Saya raih ponsel yang lampu indikatornya berkedip-kedip itu. Saya baca pesannya.

Saya menghela nafas. Mentee yang satu ini jarang sekali texting dengan saya, kecuali ketika ada masalah yang membebani pikirannya. Seperti malam itu. . . .

Di balik penampilannya yang senantiasa ceria, energik, bahkan cenderung heboh dan lucu, dia menyimpan satu kegelisahan mendalam: “Kenapa Tuhan memberi saya begitu banyak kekurangan??”

“Kadang-kadang ada beberapa hal yang memang tidak dimaksudkan untuk kita punyai,” saya balas. “Sedih dan kecewa boleh, tapi jangan disesali berkepanjangan. Kelak kamu pasti akan menemukan jalan yang telah disediakan olehNya”.

Saya termangu-mangu menunggu balasannya. Saya baca lagi sms nya yang pertama. Yah, mungkin dia kecewa sama Tuhan, tapi syukurlah dia masih percaya Tuhan itu ada. Saya masih ingat update status FB nya yang sangat menyentuh: “Today is beautiful. Thank you God.”

Sms balasannya makin gawat. Nampaknya dia makin terbenam dalam perasaan bahwa dia manusia yang hanya penuh kelemahan. Bahkan kelebihannyapun dia rasakan sebagai kekurangan.

Sebagai mentornya, saya tidak mau mengkhotbahi panjang lebar. Percuma. Seorang mentee yang sedang larut dalam kekecewaan dan mungkin kemarahan tidak akan mendengarkan, apalagi menyerapnya. Saya hanya mengatakan: “Iya, saya tahu perasaan kamu. Pasti kecewa, pasti sedih. Saya sangat memahaminya. You are down but not out! Sekali ini kamu gagal, dan mungkin merasa kurang disana-sini, tapi sadarilah bahwa kamu juga punya banyak kelebihan yang orang lain hanya bisa iri.”

“Mungkin saya hanya belum menemukan kelebihan yang membuat saya merasa berhasil itu ya, Pak?” balasnya, kali ini agak melegakan mentornya.

“Ya, pasti Tuhan sudah memberi kamu kelebihan dan berkat yang nyata, hanya kamu belum sepenuhnya menyadarinya. Kamu juga masih sangat muda. Kelak kamu akan menemukan jalan itu dan menjadi jauh lebih bahagia.”

Saya tidak ragu kalau hal yang satu ini. Saya melihat teman-teman saya, bahkan saya sendiri pada usia yang sama dengan mentee itu, yang merasa kurang lebih sama: penuh energi, penuh ambisi, tapi begitu gagal beberapa kali langsung merasa jadi sampah masyarakat. Perjalanan hidup yang panjang—nyaris dua puluhan tahun kemudian—yang akhirnya membuka mata kami akan bakat, kelebihan dan berkat yang sudah Tuhan berikan.

Kalau mentee itu sudah seusia saya sekarang, saya masih 60 an tahun, masih cukup waktu untuk menyapanya kembali: “Aloo, ***! Gimana? Benar kan apa yang saya katakan dua puluh tahun yang lalu?”

Texting itu kami tutup dengan saling mengucapkan selamat insomnia (karena sebenarnya like mentor like mentee, dua-duanya punya penyakit yang sama: insomnia!). Lalu saya diam dalam keheningan malam. . . .

Wajah-wajah mentee saya hadir satu persatu. Tak ada satu pun dari mereka yang sama. Setiap mentee punya kepribadian dan masalah yang unik. Maka saya pun merawat mereka dengan cara yang unik. Tapi apa pun itu, saya tidak pernah kecewa sekalipun mereka datang dengan masalah yang sungguh dahsyat. Bahkan untuk seorang mentee sangat dekat yang tidak percaya pada Tuhan pun saya hanya kaget dan prihatin, namun tidak pernah kecewa. Saya percaya pada apa yang dikatakan Stephen Covey: “seek first to understand before you seek to be understood”. Saya bisa dengan telaten menyelami perasaannya, melihat dunia dari sudut pandangnya, sambil pelan-pelan namun pasti membukakan jendela yang akan memasukkan sinar terang ke dalam jiwanya . . . .

Posted in: Uncategorized