Meditasi: Vipassana dan Saya

Posted on February 1, 2011

4


Pada mulanya adalah keheningan. Rileks. . . . rileks . . .


Fokus.

Fokus.

Fokus pada keluar masuknya nafas. Bernafas. Hembuskan pelan-pelan. Tarik nafas lagi. Hembuskan pelan-pelan. Terus, terus fokus pada aliran udara di hidung, masuk memenuhi paru-paru, . . . mengalir lagi keluar. . . . Tetap fokus.

Mengalir demikian terus menerus. Pikiran melambat, bahkan berhenti tak bergerak. Yang ada hanyalah nafas, . . . . keluar. . . . masuk. . . .

Sesekali bayangan masa lalu, atau bahkan kecemasan akan masa depan datang menyerbu.

Akui, akui saja pikiran-pikiran itu. Akui semua perasaan yang menyertainya: cemas, takut, bingung, marah, gundah, sedih, geram, dendam, nafsu. Sudah, semua diakui saja, tidak usah disangkal atau ditekan mati-matian. Katakan dalam hati sejenak saja: “Ya, saya akui pikiran itu ada. Saya akui saya merasakannya”.

Tapi secepat itu saya mengakuinya, secepat itu pula saya melepasnya. Let go. Lepaskan, lepaskan, pasrahkan pada dunia. Lepaskan bersama hembusan nafas keluar dari hidung. Bahkan jika terasa menganggu, aku hembuskan nafas dengan agak keras sambil membayangkan pikiran-pikiran itu lepas ke dunia fana, tidak abadi, punah ditelan waktu dan kefanaan. Lepas . . .

Lalu fokus lagi pada nafas. Tarik nafas . . . hembuskan keluar . . . tarik nafas lagi . . . biarkan memenuhi rongga dada . . . lepaskan lagi.

Lambat laun, serasa ada sesuatu yang terbuka. Seperti celah yang makin lama makin besar. Aku menyusup dan mengalir keluar dari tubuh, keluar dari pikiran yang senantiasa resah, layaknya asap keluar dari ujung teko yang airnya sudah mendidih.

Sekarang aku merasakan koneksi itu, makin lama makin kuat . . . aku terhubung ke alam kosmos ini . . . ke alam semesta . . . . .

Bahkan aku bisa merasakan ketiadaan yang hening luar biasa itu. . . .

Di keheningan maha luas dan ketiadaan itu, mendadak semua pikiran tentang dunia fana mengabur, menjauh, menjadi sangat tidak penting. Semua nafsu, amarah, kebencian, kesedihan, kecemasan, ambisi terasa seperti jauh. . . .

Dalam keheningan dan kemahaluasan itu, semua gejolak itu tetap ada, semua diakui, namun dari perspektif itu, tidak ada lagi judgment: ini salah, itu baik, ini kecil, itu besar, ini manis, itu mengerikan. Tidak ada lagi penghakiman. Selera nihil. Diakui keberadaannya, namun tidak lagi aku bergulat melawannya. Biarkan, biarkan semua terjadi.

Di keheningan maha luas itu yang ada hanyalah . . . keheningan. Rasanya seperti kita memandang dari balik kaca tebal nun jauh tinggi di lantai ke 120 suatu gedung, memandang semua kesibukan manusia di bawah sana, dan tidak melakukan apapun kecuali mengamati. Tanpa penghakiman, tanpa penilaian, yang terjadi di bawah sana biarlah terjadi.

Itu adalah sepenggal pengalaman meditatif yang disebut Vipassana. Yang paling saya suka dari meditasi ini adalah bagian dimana saya mengakui apapun yang muncul di pikiran, namun kemudian berhasil melepasnya, dan memandangnya menjauh tanpa judgment. Yang terjadi di dunia akan senantiasa terjadi, baik itu kemalangan, keberuntungan, bencana, atau kebahagiaan. Pikiran juga senantiasa bergerak, namun efek dari meditasi itu adalah saya jadi lebih tenang, lebih pasrah, lebih legowo; semua yang terjadi dan kenangan akan peristiwa-peristiwa hanya membangkitkan emosi sekejap, namun dengan cepat lepas dari masa kini dan meluruh . . . .lenyap tanpa bekas . . .

Yang kekal hanyalah keheningan itu . . .

Posted in: Uncategorized