Ha Ha Haaaa!

Posted on January 29, 2011

0


Ketawa. Ketawa lebar. Terbahak-bahak. Sampai keluar air mata. Kenapa tidak?

Ok, saya tidak keberatan dipanggil sebagai Mr. Super Serius. Ya gimana lagi. Memang sakit rasanya, tapi lha memang faktanya sudah begitu, mau apa lagi. Tapi jangan kaget kalau mendapati bahwa saya bisa tertawa terbahak-bahak.

Saya pikir saya cukup beruntung karena dianugerahi kemampuan untuk bisa tertawa. Kalau lihat sekeliling, rasanya tidak salah kalau saya bilang bahwa orang-orang sebangsa dan setanah air saya makin sulit ketawa. Nah, dalam satu acara nih, host dan speakernya melontarkan banyolan-banyolan lucu dari tipe jayus sampai yang benar2 lucu. Saya sudah ketawa terpingkal-pingkal banyak kali, tapi orang-orang di sebelah saya—yang notabene adalah kolega-kolega saya di kampus—tenang-tenang saja, hanya senyum, atau ketawa kuda alias gak ikhlas. Napa ya??

Kemungkinan pertama, mungkin saya yang gak normal, hal-hal yang sebenarnya gak lucu bisa diketawakan sampai terbahak-bahak.

Kemungkinan kedua, mereka lah yang gak normal, sulit sekali ketawa karena memang urat tawanya sudah putus didera stress berkepanjangan. Atau mungkin otak kanannya sudah semaput, tidak bisa lagi menikmati hal-hal selain logika dan tata krama yang sumpah mati kering dan membosankan.

Tak ada yang merugikan dari ketawa. Begitu ketawa, semua urat wajah tertarik pada arah yang sehat. Udara segar membanjir masuk ke paru-paru, dan hormon endorphin mengalir lancar. Maka tidak heran setelah tertawa kita merasa nyaman, rileks, dan semua jadi terasa ramah, ringan.

“Ya, tapi kan Anda harus tahu ketawa yang sopan”, mungkin ada yang memprotes. “Kalau ketawa terbahak-bahak gitu apa ya kelihatan sopan?”

Nah, ini, ini contoh orang yang sudah tidak lagi bisa menikmati hidup. Buat saya, nggak ada itu ketawa sopan dan nggak sopan. Ketawa ya ketawa aja. Spontan. Terbahak-bahak. Makin lepas, makin enak rasanya. “Lha ketawa aja pakai tata krama: mulut dibuka seperempat, suara agak diredam, nafas diatur, blah! . . . . betapa sulitnya jadi manusia?” demikian batin saya.

Di beberapa negara sudah ada kegiatan tertawa rutin di beberapa kalangan bisnis dan komunitas spiritual. Memang disengaja, satu ketawa semua ikut ketawa, karena—seperti halnya tangisan dan menguap—ketawa itu menular. So, perasaan dan energi positifnya juga menular. Kalau di negeri ini, rasanya nggak mungkin ada acara kayak gitu. Sulit membayangkan presiden kita tertawa terbahak-bahak, apalagi setelah 7 tahun gajinya belum naik juga, ha ha haaaaa!

Mr. Bean. Opera van Java. Tawa Sutra. Itu acara-acara yang membuat saya tertawa. Bahkan film sekonyol Mr Mc Goo, Abbot and Costello, atau The Austin Powers sudah mampu membuat saya terpingkal-pingkal dengan hebohnya.

Paling sebal kalau nonton bersama dengan orang yang selera humornya gak sama, atau memang nggak bisa dan nggak suka ketawa. Sementara saya ketawa dengan gilanya, situ diam saja, bahkan mrengut karena terganggu mendengar kebisingan tawa saya. Lama-lama ngefek juga ke saya, karena saya jadi mengharapkan supaya dia mulas sehingga segera pergi dari sisi saya dan membiarkan saya menikmati tawa, bwa ha haaaaa!

Saya menulis ini di tengah-tengah deraian texting dengan seorang mentee saya. Suatu ketika, saya nulis “khe khe khe”, dan dia balas, “Wah, bapak ketawanya kayak keroro!”. Ha ha haaaaa, langsung meledaklah tawa saya di ruang belajar yang tenang itu . . . . . Keroroooooo! Ha ha haaaa!

Posted in: Uncategorized