Otak Kanan

Posted on January 28, 2011

0


Awalnya mualess pool datang ke acara AMA sore hari kemarin. Seharian saya jadi presenter untuk penulisan artikel ilmiah; balik kantor jam 5 kurang, udah capek, eh ada undangan dari AMA dan kali ini saya yang terpilih (alias biasanya saya ndak pernah memperhatikan udangan-undangan semacam itu). Ya wees, dengan agak enggan saya nyetir ke Hotel Tugu. Untung ada makan malamnya.

Tema seminar AMA kali ini adalah manajemen otak kanan, yang dibawakan oleh Pak Ipphos Santosa dari Batam. Pada intinya, dia menekankan betapa pentingnya otak kanan. Melalui otak kanan kita mengembangkan imajinasi, kreativitas, mimpi, hubungan dengan orang lain, komunikasi, dan sejenisnya. Tragisnya, pendidikan bahkan sejak awal menekankan pentingnya otak kiri: logika, matematika, analitis, individualisme (yang biasanya dikemas dengan kata yang lebih halus: “kemandirian”), prosedur serba urut, dan sejenisnya. Di dunia nyata, justru orang-orang yang sukses adalah orang yang tidak melulu menggunakan otak kirinya. Makin lama seminarnya makin menarik. Dasar pembicara kawakan, selama hampir dua jam presentasi itu, Pak Ipphos dengan gayanya yang memikat plus banyolan-banyolan segar mampu memukau semua hadirin untuk menyimak dengan cermat:

Urut vs Tidak Urut
“Satu-satunya profesi yang harus dikerjakan secara urut adalah tukang urut (tukang pijat),” katanya. “Soalnya kalau urutannya dibalik, maka “urut” bisa berubah jadi “turu (tidur)”; lha masak jadi tukang turu!”. Hadirin pun langsung tertawa.

Orang dengan otak kiri akan berfikir dan menyusun rencana secara logis: jika sudah kaya, baru menabung; jika sudah mapan, baru nikah; jika sudah selesai kuliah, baru cari kerja. Nah, orang dengan otak kanan tidak mau terikat pada pola seperti ini. Buat mereka, hidup tidak harus dihadapi dengan urutan seperti itu. Kalau perlu, ya nggak usah urut. Maka, menabunglah walaupun masih miskin, (karena sedikit banyak menabung itu adalah kebiasaan orang kaya; jadi dengan meniru kebiasaaan orang kaya, akhirnya jadi kaya sungguhan); nikah dulu, baru nanti berupaya untuk jadi mapan (kalau nunggu mapannya, lha kapan nikahnya? Padahal udah pingin nikah); cari kerja sambil kuliah, kenapa tidak? Bahkan kalau ternyata dunia kerja jauh lebih menghasilkan daripada ketika sudah bergelar sarjana, ya sudah, drop out saja (jangan lupa, Bill Gates yang orang terkaya di dunia itu drop out dari kuliah untuk mengembangkan usahanya sendiri).

“Dulu saya belum punya cewek pun udah nulis surat undangan nikah,” katanya. “Ya gak papa, kan, sambil mengharapkan segera dapat jodoh. Jadi undangannya tuh lengkap kecuali nama pengantin wanitanya”. Entah ini guyon atau serius, yang jelas saya terkesan dan tertawa lebar mendengarnya.

Imajinatif dan kreatif
Orang dengan otak kanan yang dominan umumnya menjadi pemimpin. Mungkin secara akademis mereka tidak cakap; mungkin IPK nya juga pas-pasan, tapi mereka punya kelebihan dibanding teman-temannya yang selalu juara kelas: mereka lebih bisa memahami orang, dus bisa berkomunikasi dengan lebih baik, dan mereka tidak segan memanjakan imajinasinya untuk membentuk impian-impiannya. Mereka bisa mensinergikan keunggulan-keunggulan dari orang-orang yang diajaknya bekerja sama, sehingga semuanya berpadu mewujudkan impian-impian itu. Hmm . . . saya belum bisa komentar banyak disini. Saya mencapai puncak karir akademis dengan berbekal otak kiri. Mahasiswa-mahasiswi yang saya lihat berprestasi di Ma Chung juga nampaknya sangat otak kiri. Tapi jangan-jangan kami semua juga menggunakan otak kanan tanpa pernah kita sadari sepenuhnya? Walahuallam . . . .

Sedekah/Amal
Satu yang paling saya suka dari seminarnya Ipphos malam itu adalah nasihatnya tentang sedekah. ‘Law of Reciprocity’ (hukum timbal-balik): apa yang kamu berikan adalah apa yang kamu akan dapatkan. Sebanyak kamu memberi, sebanyak itulah kamu akan menerima.

Maka dia menghimbau supaya kita tidak segan beramal. Memberikan secara ikhlas itu menyehatkan jiwa, dan pada gilirannya menyehatkan raga. Ya, kalau ini memang saya amini betul-betul. Memang iya, giving wholeheartedly makes you feel so good.

Dia patok angka 20% dari penghasilan sebagai standar untuk menetapkan amal. Wih, tinggi juga tuh. Tapi seperti yang dia katakan: “memberi banyak, berarti akan juga menerima banyak”. Ya, begitulah Hukum Timbal Balik itu, nggak masuk di logika kehidupan sehari-hari, tapi setidaknya dia telah meyakininya. Hmm, mungkin benar juga sih apa yang dikatakannnya itu. Saya belum pernah mengalami kekurangan duit hanya karena saya beramal. Entah gimana, dengan gaji ‘hanya’ Rp X sebulan dan pengeluaran yang kadang-kadang bisa Rp X + 2, ternyata di akhir bulan saya mendapati bahwa saldonya adalah 2.9 ! Lho lha darimana yang 4.9 itu? God knows . . .

Berbakti pada Orang Tua
Ini juga satu hal yang berkesan di ceramahnya malam itu: hormati orang tua dan jangan segan memberikan mereka rejekimu. “Setiap kali saya masuk hotel atau restoran mewah” demikian dia bercerita. “Saya selalu bertanya: “sudahkah ayah dan ibu saya pernah menikmati makanan dan fasilitas serupa ini?”

Memberi kepada orangtua itu sangat baik, dan tersirat dari pesan-pesannya bahwa balas budi itu akan melapangkan jalan sukses dan rejeki kita.

Otak kanan. Hmm, oke. Sudahkah saya berotak kanan? Di mata mahasiswa dan rekan-rekan, saya pasti sangat left-brained, sangat otak kiri: serba logis, terstruktur, urut, jaim, tidak spontan. Tapi mereka tidak tahu bahwa anggapan mereka salah, karena saya juga sangat gemar tertawa terbahak-bahak dengan spontan, sangat gemar menulis blog dan menghamburkan apapun yang saya rasakan di blog, dan menikmati interaksi di Facebook. . . .

Posted in: Uncategorized