Perceraian dan Kok Bisa Yaa?

Posted on January 22, 2011

0


Saya tertegun agak lama ketika membaca berita bahwa Susan Bachtiar, pembawa acara siraman rohani Katolik yang terkesan alim, sabar, dan damai itu ternyata telah bercerai dari suaminya.

Pertanyaan saya yang langsung terucap spontan adalah: “Kok bisa ya? Bukankah dia banyak membawakan acara rohani? Bukankah semestinya dari semua nara sumber rohaniwan yang dia wawancarai itu sedikit banyak dia mendapatkan pelajaran untuk mengayuh hidup bersama pasangannya? Dalam suka maupun duka?”

Lebih mencengangkan lagi membaca lanjutan berita itu: “Sudah tidak ada lagi niatan di antara keduanya untuk saling menyayangi dan memperhatikan, sehingga jalan keluar satu-satunya adalah bercerai.”

Tragis. Ironis. Penampilan yang sangat menginspirasi banyak orang di berbagai media ternyata tidak diimbangi dengan kedamaian di rumah tangganya.

Saya pribadi juga tidak tahu – dan barangkali tidak mau tahu –apa sebenarnya masalah utama yang membawa SB pada keputusan bulat untuk bercerai. Tapi sejauh pengalaman saya, kalau dua insan sudah bertekad bersatu dalam pernikahan dan bersama-sama mengarungi suka duka kehidupan, akan sulit sekali untuk dipisahkan.

Ketika sepasang pria dan wanita menjadi satu dalam perkawinan, mereka akan berubah dari sejak mula ketika berpacaran dulu. Perubahan itu bisa berupa kembali pada warna aslinya, atau bertumbuh menjadi seseorang yang baru, agak berbeda dengan ketika masih lebih muda. Pertumbuhannya bisa mengejutkan, bisa membawa pada konflik. Tapi pertumbuhan yang sehat ternyata juga dibarengi oleh kemampuan dan kemauan untuk menerima pasangannya secara apa adanya. Satu sama lain jadi lebih toleran terhadap kelemahan, lebih mau memberi cukup banyak ruang untuk menikmati dirinya sendiri, dan lebih berkualitas ketika menjalin komunikasi. Kalau dulu ketika pacaran mereka bisa menghabiskan waktu berjam-jam hanya untuk ngomong barang remeh-temeh, ketika menikah mereka cukup memerlukan satu jam saja, bahkan kurang, untuk berkomunikasi secara intens dan efektif. Quality time, istilah orang jaman sekarang.

Tak kalah pentingnya adalah kepercayaan. Mutual trust. Tanpa mutual trust, apalagi jaman sekarang, akan sulit sekali menghadirkan suasana nyaman di rumah atau di ranjang. Tanpa mutual trust, saya bisa mencak-mencak tidak karuan melihat akun FB istri saya (kebetulan namanya juga Susan) yang penuh dengan komentar, pujian, bahkan kata-kata menggoda dari mahasiswa pria atau pria lain yang asalnya gak jelas. Saya bisa depresi berat melihat bagaimana beberapa pria di fitness center langganannya tidak kunjung berhenti menyapanya dan berupaya mengajak ngobrol, bahkan mengirim aneka bentuk perhatian kepadanya.

(Istri saya khas idaman pria Tionghoa: anak tunggal. Beberapa bulan yang lalu seorang tante mengira bahwa dia masih lajang, lalu bicara tentang anak cowoknya yang belum punya calon istri. Si tante nekad datang ke rumah, dan kaget setengah mati begitu yang keluar dari rumah adalah dua anak kecil yang berteriak: “Mama! Ada tamu!”. Sejak itu sang tante tidak pernah lagi bertemu dengan Susan di fitness center tersebut).

Jadi, kembali pada kasus SB, mungkin hal-hal yang saya sebutkan di atas sudah tewas di rumah tangganya. Tidak ada toleransi, tidak ada komunikasi, tidak ada mutual trust, dus juga pasti tidak ada kerukunan atau kehangatan hubungan intim. Ya so pasti tidak heran kalau keputusannya bercerai. Di Barat, dikenal istilah Irreconcilable Difference, artinya: perbedaan yang tidak bisa lagi dijembatani. Kalau di dunia kesehatan, ini setara dengan vonis kanker stadium tujuh. Pasti cerainya.

Hmmm . . .

Posted in: Uncategorized