Hidup Hampa dan Obatnya (1)

Posted on January 16, 2011

0


Merasa hampa. Tak ada sesuatu pun dalam hidup ini yang membuatnya bergairah, senang, excited, bangga atau bahagia. Semuanya lewat begitu saja. Tanpa greget.

Rumah mewah di Wilis, mobil sedan ganti setiap 3 tahun, suami kaya dan anak sehat, lewat begitu saja. Hampa. Sudah puluhan psikiater dikunjunginya untuk dimintanya penyembuhan. Nihil. Tak ada hasilnya.

Bertahun-tahun seperti itu. Maka tak heran suatu kali dia pun nekad menyeberang jalan JA Suprapto dengan menutup mata di balik kaca mata ray bannya, berharap ada mobil kencang yang menghempaskan tubuh langsingnya ke aspal dan mengakhiri penderitaannya. Tak ada hasil. Jalan potong kompas itu terputus oleh cericitan rem dan makian seorang pengendara. Dia masih hidup sampai ke seberang jalan. . . .

Jangan tertawa. Ini kisah nyata. Diceritakan oleh seorang rekan guru tentang salah seorang muridnya di kelas English for Housewives belasan tahun yang lalu.

Hidup hampa. Berapa banyak orang modern yang menderita dari penyakit ini? Tak ada yang tahu. Tak ada riset, tak ada data statistik, tapi para pakar kejiwaan yakin bahwa jumlahnya semakin banyak dalam dunia modern ini.

Menurut adik saya, manusia yang hidupnya hampa seperti ini bukannya tidak berusaha. Mereka dengan susah payah lari ke hal-hal yang dikiranya akan mengisi hidupnya:

1. Minum. Saya tidak tahu bagaimana efek alkohol terhadap otak, karena saya tidak pernah mencobanya. Eh, pernah ding, sekali waktu kuliah di New Zealand dulu. Pertama ada perasaan santai, lalu euphoria, lalu semua kendali diri dan emosi seolah meluruh dan saya bebas merasa happy. Setelah itu saya tidak pernah minum lagi. Tapi kata orang-orang, minum itu memang sejenak bisa membuat perasaan menjadi ringan dan riang.

2. Merokok dan narkoba. Nikotin membuat otak merasa santai dan membantu melepaskan ketegangan. Ide-ide seperti mendadak mengalir begitu saja. Tapi orang hampa makna pasti nggak puas hanya dengan merokok; mereka pasti beranjak ke narkoba. Efeknya sama dengan minum: perasaan menjadi ceria, energi seolah tiada habis, hidup menjadi bergairah.

3. Ngebut. Efeknya memang tidak sekejam nomer 1 dan 2. Yang pasti langsung terasa adalah gerojokan adrenalin dalam darah dan sensasi ketegangan yang sejenak mengusir rasa hampa itu. Kalau yang ini ujungnya hanya ada dua: (1) mobil sampai di tujuan dan akhirnya semua kenikmatan tadi selesai, (2) mobil berakhir berkeping-keping di trotoar atau terjun bebas ke lembah curam.

Jadi inilah jalan keluar yang dianggap cepat oleh para zombie (= orang yang hidupnya hampa makna). Cepat, instan, nikmat, tapi begitu selesai, ya habis begitu saja. Lha ini kan sama saja seperti mengisi ember yang sudah bolong gedhe dengan air; mau sampai seberapapun air diisikan ke ember sialan itu, ya hanya terisi sejanak setelah itu langsung habis.

Jadi, apakah ada cara lain untuk menghilangkan kehampaan itu selain jalan nikmat-tapi-celaka tersebut?

Dunia menawarkan cara lain yang jauh lebih lambat, perlu ketelatenan, kesabaran, dan ketekunan, namun jika berhasil, akan mengisi kembali jiwa-jiwa gersang itu, bahkan menjadikannya cahaya untuk jiwa-jiwa yang lain.

Ada meditasi. Ada retreat rohani. Ada olah spiritual.

Tapi itu nanti saja di bagian 2 dari posting ini. Sekarang saya mau ke Surabaya, makan-makan di Shangri-La dengan lulusan kuliah online dari PTS di Amerika. Apakah akan ada tawaran untuk ngebut, minum dan ngerokok? Ya, mungkin juga. Tapi saya tadi pagi sudah meditasi lama, dan walaupun masih terputus-putus, saya yakin saya ke Surabaya tidak untuk self-destruct seperti itu . . .

Posted in: Uncategorized