Jurusan Baru di Universitas

Posted on January 9, 2011

4


“Akan dibuka segera: jurusan Ibu Rumah Tangga di Universitas Arema. Syarat pendaftar: wanita belum menikah, usia 18 – 22 tahun, tamatan SMA. Tes masuk: tes bakat minat, tes memasak dan tes perawatan rumah tangga.”

“Haah??” seorang pengunjung di stand pameran pendidikan itu melongo membaca brosur itu. “Ini beneran, Pak??”

“Lho, iya, bener itu,” kata saya yang sedari tadi berjaga disitu. “Masak bohongan. Anda berminat?”

Dia tidak menjawab. Masih terhenyak rupanya. Dia teruskan membaca brosur itu lagi:

“Kurikulum pendidikan kami berbasis pada survey kebutuhan wanita muda modern. Riset kami menunjukkan bahwa seiring dengan tumbuhnya kondisi ekonomi dan makin rumitnya kehidupan sosial, semakin banyak perempuan usia produktif yang ingin membaktikan dirinya menjadi ibu rumah tangga yang baik. Kurikulum kami membantu mereka meraih cita-cita luhur tersebut. Secara garis besar, isi kurikulum adalah sebagai berikut:

Pendidikan Spiritualitas Lintas Agama (4 sks)

Pendidikan Anak Usia Dini, meliputi materi pentingnya ASI, pengenalan bakat anak, pengembangan bakat anak, pengajaran ketrampilan dasar (4 sks)

Pendidikan Kesejahteraan Keluarga, meliputi materi memasak, menjahit, merawat kebun dan seisi rumah (4 sks)

Pendidikan Perkawinan Bahagia, meliputi materi perawatan kecantikan fisik dan batin, mencegah perselingkuhan, teknik komunikasi suami – istri, pengelolaan keuangan rumah tangga. (6 sks)”

“Ini pelecehan terhadap kaum wanita!” kata seorang pengunjung lain. “Bagaimana mungkin Anda berani menawarkan program pendidikan seperti ini di tengah maraknya feminisme dan kesetaraan kaum wanita dan pria??”

“Justru kami tawarkan program itu karena ingin menghargai aspirasi sebagian kaum wanita,” jawab saya. “Coba Ibu lihat mahasiswi-mahasiswi Ibu di kampus. Berapa persen yang berminat menjadi pemimpin dengan cita-cita setinggi langit yang nyaris melebihi kaum pria? Berapa persen yang berminat dengan isu-isu kemanusiaan dan bercita-cita membuat terobosan baru di bidang teknologi, sosial budaya, dan politik? Hanya beberapa gelintir kan? Sisanya terbagi menjadi dua, Bu. Satu, yang masih bingung mau menjadi apa setelah lulus; dua, yang benar-benar ingin menjadi istri dan ibu rumah tangga yang baik.”

“Iya, tapi apa terus Anda mau tawarkan program ecek-ecek ini kepada mereka yang di dua kategori itu??” sergahnya. “Mereka juga harus tahu banyak ilmu lain.”

“Ya, yang bener ajalah, Ibu,” jawab saya masih ngotot. “Masak iya saya mau tawarkan kuliah kalkulus untuk wanita-wanita yang ingin menjadi ibu rumah tangga? Lha untuk apa? Masak iya mereka perlu belajar ilmu linguistik, atau nano teknologi, atau statistik LISREL untuk mengembangkan model ekonomi mikro dan makro. Lha ya untuk apa, wong mereka pinginnya jadi ibu rumah tangga dan—“

“Iya, tapi ini lho, nama-nama mata kuliah yang Anda berikan,” sahut dia. “Aduuh . . . ini melecehkan sekali. Ini akan mereduksi mereka menjadi makhluk yang hanya berkutat di dapur, kebun dan ranjang sajaa! Anda apa tidak tahu ya isu kesetaraan jender?”

“Iyaaa, saya tahu, Ibu, kan saya juga pernah sekolah dan baca koran,” jawab saya. “Tapi isu itu ternyata sudah sedikit banyak dijadikan alat untuk kepentingan politik, jadi agak lepas dari realita sesungguhnya. Iya, masih banyak wanita yang merasa itu penting, tapi banyak juga lho yang merasa bahwa yang namanya perempuan dan pria itu gak akan pernah bisa setara, wong secara kodrati saja sudah ditakdirkan untuk berbeda, kok. Jadi cita-cita mereka bukan menjadi setara dengan pria. Mereka hanya ingin menjadi pendamping pria yang baik, sesuai dengan kodratnya. Mereka percaya bahwa sudah selayaknya pria lah yang menjadi ujung tombak pembangunan dan kesejahteraan keluarga, bangsa, dan budaya, dan mereka ingin memberikan peran terbaiknya sebagai wanita untuk mendukung pria. Bukankah Ibu juga tahu pepatah: “behind a great man, there is a great woman?”

Pengunjung itu terdiam, tapi nampaknya masih belum puas. Maka saya putarkan satu rekaman video yang saya buat, yaitu hasil survey pendapat di kalangan wanita-wanita muda tentang aspirasi mereka. Oh, jangan bayangkan yang tampil disitu adalah wanita-wanita dari daerah pinggiran atau pedesaan yang lugu-lugu itu. Semuanya wanita perkotaan, bahkan beberapa tampil sangat trendi, lengkap dengan BB di tangan, untaian perhiasan di leher dan pergelangan, dan pakaian keluaran butik. Tapi pendapat mereka rata-rata mirip:

“Saya sudah punya pacar dan segera bertunangan. Saya ingin menjadi pendukung dan pendamping dalam hidupnya, sementara dia sibuk mengejar karir di bidang telekomunikasi. Saya ingin melahirkan anak-anaknya dan merawat mereka dengan baik sehingga menjadi manusia sehat, bermental baik dan berakal sehat.”

“Saya ingin mendapat ilmu tentang menjadi istri dan ibu yang baik. Di bangku kuliah, yang seperti ini tidak pernah saya dapatkan. Semuanya serba tinggi dan muluk. Rasanya pasti tidak akan terpakai ketika saya menjadi ibu dan istri nanti.”

“Siapa bilang merawat rumah tangga itu gampang? Lha buktinya banyak perkawinan berantakan karena nggak ada yang becus merawat rumah tangga, merawat pasangan, merawat anak. Maunya anak yang sehat dan cerdas, tapi menyusui anaknya aja males. Mau suami setia, tapi masak aja nggak bisa, fitness juga males, bisanya ngomel melulu. Iya kan? Makanya, saya pingin belajar ilmu itu, dan kalau ada jurusan seperti itu di perguruan tinggi, wah, saya akan senang sekali!”

“Yah, kalau gitu suruh aja mereka masuk SKKP, Pak!” kata pengunjung pro-feminisme tadi.

“SKKP? Oh, itu kan kepanjangan “Sekolah Karepmu Gak Sekolah Karepmu?” itu kan? Ha ha haaa!” saya mencoba guyon.

“Huss!” sergahnya. “Ini gimana kok malah cengengesan! Bukan! Itu lho, Sekolah Ketrampilan Putri!”

“Lho, mereka kan tamatan SMA, Bu,” jawab saya. “Masak mau disuruh kembali ke bangku menengah lagi. Lagipula, well, ini sebenarnya marketing gimmick juga. Mereka yang kuliah di jurusan ini akan dapat simbol status sebagai mahasiswa. Ntar lulus juga diwisuda, dapat gelar sarjana. Yaah, gimana-gimana kan atribut-atribut yang mencerminkan status sosial kayak gini pasti akan tetap mereka inginkan, sekalipun ilmunya adalah ilmu baru yang gak lumrah.”

Pertanyaan renungan/pemicu kegegeran (khusus wanita):

1. Apakah Anda termasuk mahasiswi yang diam-diam mengidamkan menjadi ibu rumah tangga dan istri yang baik, atau mahasiswi yang ingin setara dengan pria dan mengejar apa pun yang pria ingin dapatkan? Jika Anda menjawab yang pertama, apakah Anda merasa ilmu di bangku kuliah yang Anda tekuni sekarang akan mampu membantu Anda menjadi ibu rumah tangga yang baik?

2. Setujukah Anda dengan pendapat di atas, bahwa isu kesetaraan jender sudah dibesar-besarkan out of its rational proportion, sehingga wanita yang tidak menyetujuinya akan kelihatan kuno dan lugu?

Pertanyaan khusus untuk pria:

1. Anda sudah menikah? Jika iya, pernahkah Anda berpikir betapa lebih bahagianya keluarga Anda kalau istri Anda mengerti dan memahami ilmu-ilmu merawat keluarga dan pasangan hidup seperti yang saya tawarkan di baris awal tadi? (Catatan: jika jawaban Anda adalah “ya”, segera ambil formulir pendaftaran di lembaga kami. Kami menerima kelas ekstension untuk lulusan non-SMA juga, kok)

2. Jika Anda sedang membina hubungan serius dengan seorang wanita, bagaimana pendapat Anda jika si dia minta didaftarkan sebagai mahasiswi di jurusan Ibu Rumah Tangga tersebut?

Posted in: Uncategorized