Sarasehan Ma Chung 2011 full version Fun n Friendship

Posted on January 8, 2011

5


Sarasehan. Sengsara sambil lesehan. Sengsara karena biasanya akan ada game-game yang lumayan menguras fisik, bahkan emosi. Lesehan karena setelah main game, terus ada nyanyi-nyanyi bareng, nari-nari, jalan-jalan bersama, dan yang paling penting adalah makan enak, gratis, dan menjalin keakraban bersama-sama. Untuk Ma Chung ini adalah sarasehan yang ketiga. Temanya Fun and Friendship. Lokasinya di Hotel Selecta, Batu. Dari sekian banyak acara, yang paling enak dibuat postingan adalah : Pemilihan MESRA (Ma Chung Employee Sarasehan Award). Ada delapan kategori award. Setiap peserta mendapatkan hak untuk memilih satu dari sekian banyak karyawan Ma Chung yang menurut mereka paling pantas mendapat award untuk ke delapan kategori tersebut. Yang pertama adalah the Award for Most Deadly Serious Employee. Dari mula pertama melihat namanya, perasaan saya langsung tidak enak. Rasanya, tidak ada karyawan Ma Chung yang paling serius selain saya. Lihat aja kriterianya: “selalu serius di segala situasi, jarang tersenyum, bahkan kalau berpapasan pun tidak menoleh, apalagi tersenyum.” Aduuh, that is very me! (itu saya bangeet!). Kalau saya jadi pemenangnya, saya pasti akan langsung sedih. Nah, kan, benar kan?? The nominees are: muncul foto saya di layar LCD! Dhiengng! Semua ketawa bersorak-sorak, saya lemes di kursi dan sudah sulit ketawa. Nominee kedua adalah atasan saya, dan yang ketiga adalah kolega saya. Dua-duanya ladies. “And the award goes to . . . Mrs. Lee*&*&** ** tara, Ph.D!”. Yihaaaa! Saya kontan bersorak-sorai dan ketawa sekeras-kerasnya meluapkan rasa lega. Ternyata lebih banyak Ma Chungers yang berpendapat bahwa Ibu itu lebih serius daripada saya, horeee! (Ironis. Di antara ketiga foto itu, foto sang Ibu adalah yang senyum sendiri, sementara foto saya dan foto kolega saya yang lain tanpa senyum sama sekali. Lha kok bisa dia yang terpilih jadi Most Deadly Serious Employee? Ya gak tau. Terimalah nasibmu, ha ha haa!) Kategori yang lain-lainnya mah lewat. Sampailah pada kategori terakhir: Award for the Most Inspirational Employee, dengan kriteria: “tindakannya mencerminkan panutan dan teladan”. Foto pertama yang muncul adalah Bapak yang sudah tidak diragukan lagi keteladanannya: sabar, rendah hati, bijaksana, murah senyum. Nah, foto kedua yang muncul adalah foto saya! Saya kontan terhenyak. Gak salah kah orang-orang ini? Dari mana saya bisa jadi inspirasi? Mereka pasti tidak membaca blog saya, tempat saya mencurahkan perjuangan jatuh bangun mengatasi kelemahan diri sendiri. Untunglah akhirnya yang jadi juara adalah sang Bapak tadi. You deserve it, Sir! If I were the winner, I myself would be puzzled because I really don’t think I am inspirational. Well, ntar kalau sudah setua Bapak itu mungkin saya bisa menjadi sumber inspirasi. Esok paginya setelah breakfast saya ngobrol dengan Pak Renald Suganda, dosen Akuntansi. Saya suka sekali lagu yang dia bawakan dengan gitar listriknya pada malam sebelumnya: Instrumental No. 11. Asyik juga ngobrol sama kolega ini: muda, enerjik, ramah dan banyak pengalaman di bidang-bidang yang saya tidak pernah tekuni: main musik, main gitar, studi Akuntansi, hobi ngoprek mobil. Saya baru tahu bahwa gitar listrik itu macam-macam jenisnya, tergantung jenis kayunya, dan spesifikasinya bisa sangat rumit. “Mainnya tergantung mood, Pak,” dia cerita. Oh, bisa moody juga ternyata, gak nyangka mah kalau ngelihat penampilannya yang selalu menggebu-gebu. Dia cerita bahwa cita-citanya menjadi pemusik, namun keluarga lebih mendukungnya untuk menjadi seorang akademisi. Seandainya dia lebih bebas menentukan pilihan hidupnya, barangkali saat ini kita sudah melihatnya tampil sebagai the front man of a band di TV atau live show. Yang juga menarik, dia bilang bahwa dia lebih suka menekuni bursa efek daripada jadi akuntan publik, karena yang terakhir ini bisa tergoda untuk main manipulasi sana-sini sehingga pembukuan bisa terlihat bagus. “Di bursa efek, datanya lebih nyata dan kita bekerja dengan apa adanya, tidak ditutup-tutupi,” demikian dia bilang, kurang lebih. Hmm, good, good . . . Begitu habis makan atau coffee break, saya punya kebiasaan baru: menyelinap ke balik semak-semak atau di balik bus, dan melakukan hal yang tidak bisa saya lakukan di Ma Chung bersama beberapa kolega pria lain. “Ini kalau Bu Serius tadi datang, kita pasti langsung bubar!,” komentar saya sambil dengan nikmatnya melakukan perbuatan terlarang tadi. Esoknya, perbuatan itu ternyata sudah diketahui rekan-rekan lain, dan komentar mereka: “Astaga naga! Sungguh saya tidak menyangka bahwa Pak Patris ternyata merokok!”. Lha, kan, apa juga aku bilang? Saya memang belum pantas dijadikan the Most Inspirational Employee, not until I get rid of these goddamned cigarettes! Ada guyonan konyol dari salah seorang rekan Smokers: “Kalau perokok, penyakitnya paling cuma satu, yaitu paru-paru. Tapi kalau bukan perokok, penyakitnya rupa-rupa, alias segala jenis, mulai kanker sampai diabetes, ha ha haaa!”. Kurang ajar! Di sesi terakhir, ada pembagian hadiah antar peserta. Sebelumnya, kami sudah diberi tahu siapa nama kolega yang harus kami belikan hadiah. Jadi masing-masing akan membelikan kado sesuai dengan nama kolega yang diterimanya. Nah, saya menerima sebungkus kado tipis, begitu saya buka isinya adalah secarik saputangan berhiaskan bunga dan aksara Mandarin di bungkusnya. Selagi saya terheran-heran, datang seorang lao shi, a young lady. “Itu dari saya,” katanya. “Tulisan ini,” dia menunjuk ke aksara Mandarin itu, “artinya: Hunan embroidery. Ini adalah hasil kerajinan khas Hunan di China sana.” “Oh, tapi tahukah kamu bahwa di budaya kita, memberi saputangan kepada seseorang berarti mengucapkan selamat berpisah kepadanya?” goda seorang rekan pria. “Ah, masa sih? Nggak ah!?” tukasnya setengah ketus. Ok, terima kasih ya. Nice gift! Nah, kemudian terjadilah adegan agak memalukan yang selalu saya lakukan dengan lao shi-lao shi itu: saya tidak tahu namanya! Maka setelah acara bubar, diam-diam saya dekati dia dan saya tanya bisik-bisik: “Eh, maaf, namamu siapa ya?”. Sampai di rumah, saya buka lagi saputangan itu dan baru merasa heran kok bisa ya saya mendapat hadiah sefeminin itu? Kenapa dia gak belikan mobil-mobilan atau korek api saja, yang lebih macho? Ah, gak tahulah, diberi aja saya sudah berterima kasih. Thanks, Mollin! (Ada rekan pria yang mendapat hadiah celana dalam! Seisi hall terbahak-bahak melihatnya. Ini mah parrraahh, ha ha ha! Tega sekali yang memberi. Sejak kapan dan bagaimana dia tahu ukuran si rekan pria itu? Ha ha haaa!) Sarasehan. Sengsara sambil lesehan. Tahun ini tidak terasa sengsaranya. Yang terasa adalah saya menikmati satu malam dua hari kesempatan bersama rekan-rekan Ma Chungers yang lain untuk sejenak bersantai, ngobrol-ngobrol, dan yang sangat penting: ketawa puas-puas. Ya, ketawa. Saya menghabiskan sebagian besar waktu selama acara itu untuk tertawa dan tertawa sampai kepala rasanya mau lepas. Yah, biarin aja, nggak usah ja-im wis mumpung gak dilihat oleh mahasiswa atau mentee. Soalnya kolega-kolega Ma Chung ternyata memang gendheng kabeh dan sangat lucu. Di samping itu, ternyata tertawa lepas itu efek positifnya hampir menyerupai meditasi. Semua sel terisi oksigen segar, denyut jantung meningkat, dan aliran endorphine mengalir lancar memenuhi pikiran. Salut untuk rekan-rekan panitia yang telah bekerja keras membawa suasana ceria sepanjang acara. Karena saya juga pernah jadi panitia tahun lalu, saya tahu menyiapkan acara seperti itu bukan hal sederhana. Mesti kreatif, bekerja sama dengan baik, berdaya tahan tinggi, dan ekstra sabar. Salut and many, many thanks.

Posted in: Uncategorized