Sang Ayam Malang dan Kita

Posted on January 2, 2011

2


Ayam di lumbung padi mati kelaparan.

Lho, kok bisa ya, ayam di tempat yang penuh dengan makanan itu bisa masti kelaparan? Pemiliknya yang sedih membawa ayam malang itu ke dokter hewan. Sang dokter memeriksa semua organ vitalnya. Tidak ada yang sakit. Semua sehat, kecuali ususnya yang mengkeret karena tidak terisi makanan berminggu-minggu. Maka dokter pun bingung, apa yang membuat ayam itu tidak mau makan?

Tidak ada yang tahu bahwa si ayam mati karena dia tidak pernah mensyukuri dan menikmati makanan yang berlimpah-limpah di kandangnya. Dari menit ke menit, hari ke hari, dia hanya murung memikirkan kenapa dia tidak bisa menjadi kucing yang bisa makan tikus, atau kenapa dia tidak menjadi burung yang bisa terbang tinggi ke mana-mana. Dia murung, merasa hidupnya hampa, dan sama sekali tidak sadar bahwa dia sudah dirawat dengan baik, disediakan makanan, diberi penerangan yang cukup, diberi kawan-kawan sekandang yang ramah dan ceria.

Pernahkah kita merasa seperti ayam itu?

Kita sudah diberi makan yang cukup, diberi orang tua yang penuh perhatian, disekolahkan di lembaga terkenal, diberi fasilitas mulai dari baju dalam sampai laptop dan Blackberry, diberi teman-teman yang baik, tapi tetap saja kita berpikir bahwa kita kekurangan. Kita murung karena kita selalu mengimpikan hal-hal lain di luar itu: kenapa aku tidak bisa menjadi seperti si A yang kaya raya, setiap akhir pekan bisa keluar negeri? Kenapa aku tidak bisa memiliki si B yang gorgeous itu? Kenapa harus orang seperti Z yang memilikinya? Kenapa aku tidak jenius seperti si C? Kenapa aku tidak bisa menikmati siaran TV kabel? Kenapa aku tidak sekolah di universitas yang ada kolam renangnya seperti di Puncak Tidar itu? Kenapa aku tidak begini? Atau begitu?

Sedemikian larutnya kita di keinginan-keinginan yang belum terwujud itu sampai akhirnya jatuh murung, jatuh sakit, dan akhirnya luka batin parah di dalam. Maka akhirnya memang kita tidak jauh beda dengan si ayam itu . . .

Count your blessings, kata orang bijak. Mungkin kita perlu sekali waktu bangun di pagi hari dan melihat sekeliling. Kita lihat dan sadari semua yang telah diberikan kepada kita, dan mensyukurinya! Saudara kandung, lingkungan sekitar, benda-benda yang kita miliki, apapun itu, kesehatan, udara yang segar, dan sebagainya. Ketika kita bersyukur, kita jadi sibuk menikmati semua karunia itu, dan tidak lagi sempat berpikir: “kenapa aku tidak menjadi ini atau itu?”

Di suatu situs yahoo saya pernah membaca artikel hasil penelitian yang berjudul “How To Get Lucky (Bagaimana Menjadi Beruntung). Wah, yang membaca sampai puluhan ribu! Apa isinya? Apakah ada temuan yang membuka kunci keberuntungan sehingga kita bisa menang judi terus-terusan, atau selalu dapat A dan dapat kenaikan gaji mendadak?

Ternyata bukan. Bukan semua itu. Resep sang penulis sederhana saja: nikmati dan syukuri apapun yang Anda punya sekarang, dan Anda akan merasa beruntung!

Jiaah! Ha ha ha! Seorang pembaca menuliskan responsnya: “Ah, saya kira saya akan dapat petunjuk tentang bagaimana menjadi sukses dan kaya raya dalam waktu singkat! Ternyata, apa yang diresepkan sederhana saja: count your blessings! Ah, pertama saya merasa agak glodak, tapi kemudian saya menyadari makna mensyukuri apapun yang sudah saya dapatkan. Thanks a lot!”

Glossary:
Gorgeous = ramah, baik hati, sangat perduli, sangat memikat.
Bangun di pagi hari = pagi hari setelah tidur adalah waktu terbaik untuk berkontemplasi, karena selain suasana sekitar masih sunyi, gelombang otak kita masih berada di tingkat Alpha. Tingkat ini paling kondusif untuk menanamkan hal-hal positif ke alam bawah sadar kita.

Posted in: Uncategorized