The Subconsciousness (Alam Bawah Sadar)

Posted on December 31, 2010

0


Tidak banyak orang yang menyadari pengaruh dan kekuatan alam bawah sadar (the subconscious mind), padahal banyak penelitian psikologis menunjukkan bahwa inti masalah dan kunci pemecahannya banyak kali terletak pada the subconsciousness. Kita semua tentu sudah mengenal buku “The Secret”, yang pada intinya mengatakan: “semua tujuan dan impian Anda bisa Anda capai dengan kekuatan pikiran dan penciptaan kondisi yang diinginkan melalui kekuatan imajinasi.” Tapi tahukah Anda bahwa bahwa ada banyak orang yang telah mempraktekkan kiat “The Secret” ini dan ternyata gagal total? “Saya ingin mendapat lingkungan pekerjaan yang saya impikan, maka saya ciptakan kondisi itu dan saya fokuskan pikiran kesana” kata seorang wanita, “saya tunggu hasilnya. Seminggu, dua minggu, sebulan, setahun, ternyata tidak terwujud juga impian itu.”

Apa yang salah?

Menurut para ahli yang bertekun di bidang ini, masalahnya terletak pada perbedaan tajam antara the conscious mind (pikiran sadar), dan the sub-conscious mind (pikiran bawah sadar). Sekalipun pikiran sadarnya terpusat dan bahkan menciptakan kondisi ideal itu, alam bawah sadar sang wanita tersebut tetap bertahan pada satu keadaan: merasa bahwa dia adalah yang paling pintar, paling rajin, paling baik, dan semua orang di sekitarnya adalah orang-orang berkualitas rendah yang tidak sehebat dia. Dia merasa bahwa lingkungan pekerjaan yang dihadapinya selalu buruk, tidak pernah bisa mencapai standar yang dia inginkan. Nah, jelas sudah. Pikiran bawah sadarnya menyabot pikiran sadarnya, sehingga betapapun keras dia berusaha memvisualisasikan dan menciptakan kondisi ideal itu di pikiran sadarnya, tetap saja apa yang dialaminya tidak sesuai dengan apa yang diinginkannya. Pikiran sadarnya berteriak-teriak: “Aku ciptakan lingkungan pekerjaan yang ideal! Aku fokuskan pada kondisi yang membuatku senang! Aku visualisasikan kondisi pekerjaan yang ideal!”, sementara pikiran bawah sadarnya tetap saja mengatakan: “aku lebih hebat daripada yang lain; orang lain di sekitarku ini sampah semua. Standarku tentang lingkungan pekerjaan ideal tidak pernah bisa tercapai oleh situasi kerja seperti ini”. Lama-lama pikiran sadarnya capek berjuang terus-menerus, kemudian berhenti begitu saja, dan dia pun mengeluh: “Lho, aku sudah secara sadar menciptakan kondisi ideal itu seperti yang buku “The Secret” bilang, kok gagal yaa??”

The subconscious mind has sabotaged the conscious mind . . .

Ada baiknya kita kaji dulu perbedaan mendasar antara the subconsciousness dan the conscious mind. The subconsciousness (buset, sulit sekali ya mengucapkan dan mengeja kata ini  ) adalah timbunan perasaan, emosi, pengalaman pribadi, kepercayaan (belief system), bahkan bayangan dan citra yang pernah Anda lihat dan alami sepanjang hidup Anda. Sebaliknya, the conscious mind sepenuhnya merupakan hasil pemikiran logis dan reaksi impuls otak yang sifatnya sangat terkendali, runtut, dan sistematis. Jadi, kita lihat perbedaan yang besar disini: subconscious lebih bersifat emosional/perasaan dan naluri, sementara conscious lebih bersifat logis, runtut, sistematis, nyaris tanpa emosi.

Untuk lebih mudahnya, ambil contoh mengemudikan mobil. Ketika pertama kali belajar nyetir dulu, semua tindakan kita sepenuhnya adalah hasil kerja the conscious mind, karena kita masih baru belajar dan sadar sekali apa yang harus kita lakukan: menginjak kopling, memasukkan gigi satu, menginjak pedal gas sambil pelan-pelan melepas kopling, jalan sampai sekian rpm, injak pedal kopling lagi, pindah gigi dua, . . . eitt! Awas, ada kambing nyebrang! Injak rem! Injak kopling, pindah gigi satu, dan seterusnya. Semua dilakukan secara sangat sadar, bahkan waspada.

Nah, apa yang terjadi setelah kita mahir menyetir? Kita mendapati bahwa kita bisa nyetir sambil mendengarkan musik, bercakap dengan penumpang di kursi sebelah, makan kacang, bahkan ngelamun. Semua proses sadar yang tadi saya gambarkan di atas sudah masuk ke alam bawah sadar karena saking seringnya diulang-ulang, dan oleh karenanya menjadi sedikit banyak otomatis: tindakan terhadap kopling, gas, rem dan persneling sudah terjadi begitu saja tanpa kendali penuh dari pikiran sadar.

Maka kita belajar satu lagi dari uraian di atas: sesuatu masuk ke alam subconscious ketika hal tersebut dihadapi atau dikerjakan berulang-ulang.

Analogi menyetir mobil di atas hanya simplifikasi untuk memudahkan kita memahami perbedaan keduanya. Di dunia nyata, mari kita lihat siapa saja yang telah ikut membentuk alam bawah sadar kita: ada orang tua,saudara, lingkungan pergaulan, guru, dosen, sistem pendidikan, tayangan iklan dan film-film, adegan kasih sayang atau kekerasan, ucapan-ucapan orang, petuah, nasihat, makian; semuanya kita hadapi berulang-ulang; semuanya ikut membentuk perasaan kita, semuanya masuk ke alam bawah sadar kita dan . . . membentuk the subconsciousness.

Sebagai guru bahasa, saya sering menghadapi murid usia dewasa yang sulit sekali membuat kemajuan dalam pelajaran bahasanya. Selidik punya selidik, para murid ini bercerita bahwa mereka sangat tidak menyukai pelajaran bahasa Inggris. Lho, kenapa? Ternyata, ketika masih duduk di bangku SD atau SMP, mereka merasa ketakutan dengan guru bahasanya yang galak, keras, dan tidak segan menghukum bahkan memaki dengan ungkapan kasar dan merendahkan jika mereka membuat kesalahan berbahasa. Karena terpapar berulang-ulang pada perlakuan yang sama, lama-kelamaan perasaan minder, takut dan benci itu akhirnya menjadi bagian dari subconsciousness nya, yang terus terbawa sampai mereka dewasa. Ketika gurunya sudah berganti menjadi dosen yang lebih ramah dan menyenangkan, tetap saja perasaan bawah sadar itu—karena tidak pernah dirawat dan disembuhkan—menyabot pikiran sadar untuk mau dan bisa belajar. Setiap kali mereka mau belajar, sang alam bawah sadar yang celaka tadi membisikkan: “Kamu goblok; kamu tidak bisa membedakan kata sifat dengan kata benda; tensesmu selalu kacau balau; kamu selalu dapat nilai jelek; pronunciationmu morat-marit sampai katak pun bingung kamu ajak ngomong!” dan sebagainya dan sebagainya yang jelek melulu.

Nah, saya mau potong sepenggal kalimat pertama di paragraf di atas itu:

“Saya sulit sekali membuat kemajuan dalam pelajaran bahasa”.

Sekarang gantikan dua kata terakhir itu—pelajaran bahasa—dengan apapun yang Anda rasakan sebagai masalah pribadi.

Maka kemungkinan Anda akan menuliskan ini: “belajar dengan rajin dan tekun; disiplin diri; mengendalikan pikiran negatif; mengendalikan amarah; kepercayaan diri; mengenyahkan perasaan hampa dan moody; mengurangi rasa malas; mengurangi rasa gugup dan cemas”, dan masih banyak lagi.

Coba renungkan . . . .

Jangan-jangan ada yang harus dibenahi di alam bawah sadar Anda . . .

Sudah panjang posting ini. Sebaiknya saya berhenti dulu disini. Lain kali saya sambung dengan bagian selanjutnya tentang bagaimana merawat the subconsciousness, dan mencegah perasaan bawah sadar menyabot pikiran sadar.
Ini saya beri beberapa kata kunci jawabannya:

– Meditasi

– Gelombang Alpha

Post note:
Posting ini khusus didedikasikan untuk mentee-mentee saya: Pamela Wijaya, Bio Novika, Stella, Ivanna Magdalena, Didi Pratama, Edo, dan Imawan Suteja.

Posted in: Uncategorized