Menjadi Happy

Posted on December 30, 2010

0


Menjadi happy berarti tidak khawatir akan masa depan. Tidak khawatir akan masa depan berarti percaya bahwa masa depan akan selalu dapat dilewati dengan baik. Itu juga berarti belajar dari masa lampau tentang pengalaman, masalah yang dihadapi beserta solusinya, dan percaya bahwa esok hari, jika masalah yang sama timbul, kita bisa menyelesaikannya dengan baik karena toh kita sudah mengalaminya di masa lampau. Jadi kalau semester ini Anda terjebak dalam sikap malas dan bisa menemukan solusinya—entah lewat diri sendiri atau terpacu oleh bimbingan dan teladan orang lain—maka ketika semester depan rasa malas itu melanda lagi, Anda tahu bagaimana mengatasinya. Percaya bahwa masa depan akan baik-baik saja berarti juga percaya bahwa ada Sesuatu yang menjaga Anda setiap detik, dan ketika Anda mempercayai dan memasrahkan hidup kepada That Force, maka Anda tidak khawatir lagi. Anda happy.

Menjadi happy berarti menikmati masa kini dan disini (here and now). Masa lalu dan masa depan hanya ada dalam ingatan, yang nyata senyata-nyatanya adalah masa kini. Maka menjadi happy berarti menikmati kekinian ini, dengan siapapun Anda berada atau apapun yang Anda lakukan. Berbelas tahun lalu di sebuah negara asing, saya ditanya seorang teman: “Gimana? Sudah krasan disini?”. Entah dapat ilham dari mana, saya menjawab dengan satu ungkapan yang masih saya rasakan gemanya sampai detik ini: “Oh, yes! I am enjoying every minute of it!”.

Menjadi happy berarti juga bersyukur atas apapun yang telah Anda nikmati dan alami. ‘Count your blessings’ kata orang bijak. Suatu ketika saya pulang kerja dengan agak kecewa karena acara yang telah saya susun jauh-jauh hari sebelumnya jadi berantakan. Di tengah persimpangan antara Jl. Murung dan Jl. Happy itu, saya mengingat ungkapan bijak itu, dan mulai satu-persatu menghitung dan mensyukuri apapun yang telah saya nikmati hari itu—yang mungkin menjadi agak kabur karena saya masih dilanda kekecewaan–: acara itu toh akhirnya selesai; saya bisa belajar dari pengalaman; saya masih punya teman dan rekan kerja yang setia dan handal; saya masih melihat beberapa hadirin yang menikmati acara tersebut; dan yang lebih penting, saya masih sehat, pulang dalam kondisi selamat dan sehat, bisa bekerja lagi, bisa berkarya lagi, dan lain-lain. Count your blessings, indeed.

Menjadi happy juga kadang-kadang berarti membuat orang lain menjadi happy. Aneh, tapi nyata. Ketika kita berupaya membuat orang lain bahagia dan ternyata dia benar-benar bahagia, kita pun bisa langsung merasakan kebahagiaan itu.

Menjadi happy berarti membebaskan diri dari ikatan. Ikatan itu bisa berarti pengharapan atau ambisi yang berlebihan, dan keinginan untuk memiliki secara eksklusif. Beberapa orang yang truly happy tidak pernah menganggap semua yang ada di dunia ini adalah miliknya. Mereka percaya bahwa ada saatnya benda-benda dan orang-orang itu akan terpisah dari mereka: mobil rusak, rumah dijual, anjing kesayangan mati, saudara meninggal, guru tempat curhat pindah tempat kerja, kelompok mentoring bubar dan mentor harus menangani mentee baru, dan sebagainya. Karena itu, orang-orang happy ini menyediakan waktu dan perasaan terbaik ketika mereka bersama benda-benda kesayangan itu, tapi sadar benar bahwa pada saatnya semua akan berakhir dan mereka tidak akan bersama-sama lagi. Ini membuat mereka lepas, tidak terikat, rela, dan masih bahagia ketika pada akhirnya semua hal itu terlepas darinya.

Menjadi happy berarti punya harapan dan optimis bahwa harapan itu sedikit banyak akan bisa terwujud. Optimisme, harapan, dan bukan pesimisme serta apatisme yang membuat kita happy. Esok adalah tahun yang baru. Sikap pesismis dan apatis membuat kita berpikir: “ah, matahari yang sama, hari yang sama, pekerjaan yang sama, rutinitas yang sama. Apanya yang baru?”. Sikap optimis dan penuh pengharapan membuat kita berkata: “ini tahun yang baru! Saatnya untuk menaruh harapan baru dan sikap yang baru untuk mewujudkan cita-cita dan keinginan!”.

Selamat Tahun Baru 2011!

Posted in: Uncategorized