Shrapnel Jam 6 Pagi Rabu 23 Des 2010

Posted on December 23, 2010

2


Ternyata ada tempat nyaman di Ma Chung selain kantor ELTISI dan kolam renang: perpustakaan! Sofa warna terang dan tumpukan majalah serta berbagai surat kabar disitu membuat saya terlena. Enak sekali membaca Jakarta Post atau jurnal Linguistics di sofa panjang itu. Gini ini, kalau ada segelas kopi Espresso panas dan kue-kue coklat plus musik-musik lembut, waduh, . . . bisa serasa di kafe. Untung juga di depan sofa itu ada counter pengembalian buku yang selalu ada kolega saya disitu. Coba enggak, mungkin saya udah ketahuan ngelamun puanjangng di sofa itu sambil duduk santai setengah merebahkan diri dengan kaki bersilang.

Kantor saya di ELTISI lumayan nyaman, karena di depannya tembok dan meja kerja staf saya, terus di sebelah kirinya jendela langsung keluar. Enak juga sih. Yah, tapi saya nulis gini ini mungkin karena sudah jenuh di kantor QA. Hal paling mengusik ternyata adalah lalu lalangnya orang-orang di depan jendela saya. Bukan salah yang lalu lalang, tapi emang saya sendiri yang kebangeten seriusnya atau sifat solitarynya. . .

Setiap Senin dan Selasa saya makan sama Susan di kantin. Suatu ketika, kami berjalan bersebelahan. Sampai di depan salah satu depot, saya yang sedang mencari-cari menu yang tepat akhirnya menemukan yang pas, dan kontan berkata tanpa menoleh ke istri di sebelah saya: “nah, ini aja San mungkin enak!”. Lho tapi kok dia diam saja? Begitu saya toleh, astaga, ternyata seorang cewek mahasiswi Akuntansi yang pernah saya ajar sebelumnya! Ternyata Susannya sendiri malah sedang berhenti beberapa langkah di belakang saya. Pelajaran: siapa suruh punya istri yang tampang dan potongannya mirip mahasiswi Ma Chung??

Berjalan di lorong Bhakti Persada, saya baru sadar betapa enaknya jadi dosen disini. Setiap dosen punya satu ruangan sendiri, cukup luas, lengkap dengan komputer terkoneksi Internet, ber AC, berpintu dan berjendela kaca. Keren! Teringat waktu saya menemani mahasiswa Inggris study tour ke salah satu PTS di Yogya. Di satu kantor yang lebih kelihatan seperti sel penjara terpampang tulisan: Ketua Jurusan Sejarah. Begitu saya lihat ke dalam, walah, Bapak tua yang duduk disitu udah persis fosil, duduk dengan wajah muram dikelilingi tumpukan berpuluh-puluh buku, map dan kertas-kertas hasil kerjaan mahasiswanya. Saya sampai harus menahan tawa. Ha ha haaa! Tepat benar dengan papan namanya: Kajur Sejarah! Pelajaran: jangan somboong . . . mentang-mentang kerja di universitas yang fasilitasnya mewah dan keren . . .!

What Am I Doing?
Pekerjaan makin ge-je. Jabatan resmi mah Direktur QA, tapi percaya atau tidak, saya pontang-panting mengerjakan hal-hal lain. “Pak, minta tolong jadi juri lomba debat di SSAW, ya? Ini minta tolong dibuatkan rating scalenya”, terus satu lagi “Pak, proposal beasiswa mahasiswa udah selesai diperiksa?”, terus ada lagi “Pak, gimana proposal penelitian dosen? Sudah bisa saya ambil?”, masih ada lagi “Pak, tolong dong saya dibuatin surat referensi kayak teman-teman yang lain.”, masih ada lagi “Pak, kapan saya bisa ngambil ujian susulan?”, eh masih ada lagi “Pak, awal Januari langsung menguji PKL ya? Ini naskahnya.”

Jia yoooouuu!!

Posted in: Uncategorized