Natal Putih Salju Maut

Posted on December 19, 2010

0


Natal Putih Salju, Seputih Mayat . . .

Gimana enggak? Salju putih yang tiga puluhan tahun lalu identik dengan suasana Natal yang syahdu dan menenangkan, sekarang berubah menjadi kekuatan alam yang ganas. Benua Eropa diterjang badai salju hebat. Tebal salju mencapai 20 cm, memacetkan lalu lintas, membatalkan sekian puluh penerbangan, membatalkan laga Chelsea vs Manchester United, bahkan merenggut nyawa penduduk.

“I’m dreaming of a white Christmas . . “ lantun seorang penyanyi bersuara bariton, sekian puluh tahun yang lalu ketika saya masih kecil.

“I am having a nightmare of white Christmas . . .” demikian liriknya sekarang berubah. Lha gimana enggak mimpi buruk, wong sedang enak-enak nyanyi “White Christmas” di pinggir jalan, tahu-tahu badai salju menerpa. Wis, gak kepikiran Natal Putih lagi wis. Kontan semua berhamburan menyelamatkan diri.

Tragis.

Siapa penyebabnya? Ya kita semua manusia, siapa lagi? Deepak Chopra mengatakan satu kalimat yang sulit sekali dipahami: semua bencana di alam kita ini yang menyebabkan adalah kita sendiri. Secara kolektif, kita “sepakat” untuk menciptakan sendiri bencana-bencana itu. Ketika mendengar dia mengatakan itu di Larry King Show, saya tertegun. Pikiran yang aneh, batin saya. Tapi begitu membaca sendiri semua rentetan sebab musabab semua perubahan alam ini dan mendapati bahwa ternyata ujung-ujungnya ya ulah manusia sendiri sebagai penyebabnya, baru saya mengerti.

So, tema apa yang tepat untuk Natal tahun ini? White Christmas, as white as the dead? Global Warming Christmas? Panicky Christmas? Who-Cares Christmas (Natal cuek)?

Tapi Natal adalah Natal. Mau dunia jungkir balik dan manusia kalang kabut, Yesus tetap lahir sebagai bayi tanpa dosa, pembela kaum sederhana yang tahunya hanya bersahabat dengan alam dan segala iramanya. Yesus lahir buat umat manusia. . . . ya okelah, buat saya pribadi, kalau Anda merasa keberatan untuk dimasukkan ke golongan umat manusia yang dikasihiNya. . .

Resolusi pribadi tahun 2011 adalah mengundang Dia untuk tinggal lebih lama dan berkarya lebih giat di dalam hati saya. Tahun depan saya sudah tidak tertarik lagi untuk mendaki gunung akademis, semua sudah saya tutup dengan turunnya SK Profesor dan keberhasilan merebut gelar MBA (Makin Botak Aja). Saya mau menjadi lebih baik dari segi interaksi sosial dan pengendalian ego.

Pasti Anda juga tidak ketinggalan mau membuat tekad di tahun 2011. Ya, silakan saja. Mau menjadi lebih kaya, lebih tinggi gelar akademisnya, lebih baik IPK nya, lebih rajin kuliahnya, lebih setia sama kekasihnya, lebih patuh kepada orang tua dan guru. Kita semua menjalani agenda hidup kita masing-masing. Jangan lupa untuk senantiasa berpegangan pada pedoman yang Anda yakini: mungkin Yesus, mungkin Nabi lain, mungkin Sang Buddha, atau Pancasila dan UUD 45. . . .

Selamat Natal untuk yang merayakan, dan selamat Tahun Baru 2011 untuk semuanya!

Posted in: Uncategorized