Kilas Balik 2010 (2): Berjuang Melawan Diri Sendiri

Posted on December 15, 2010

3


Tahun 2010, hampir sama seperti tahun-tahun sebelumnya, adalah tahun penuh perjuangan dalam hal hubungan interpersonal dan kemampuan mengelola emosi. Kalau di bidang akademis saya sudah mencapai puncak, di bidang interpersonal skills dan pengelolaan emosi, saya sudah menyandang gelar MA alias Mahasiswa Abadi, soalnya rasanya dari dulu nggak lulus-lulus di bidang yang satu ini. Ouch!

Saya sudah banyak menulis tentang jatuh bangunnya saya di bidang ini. Sedikit banyak gesekan-gesekan itu memang menghanguskan dan membuat saya kehabisan tenaga, tapi gesekan dan kegagalan itu yang juga membuat saya banyak belajar dari kesalahan. Maka ungkapan saya di satu status FB saya “masa lalu kujadikan pelajaran, masa kini kunikmati, dan masa depan kurancang” benar-benar tepat buat saya.

Baru-baru ini saya membeli sebuah buku sederhana berjudul “Yesus yang Tak Pernah Kau Kenal”. Inti buku ini sederhana saja: Yesus itu sumber kasih; manakala saya mengundangnya dan membiarkan Dia berkarya di dalam batin dan pikiran saya, maka segalanya menjadi lebih ringan, lebih damai, pasrah tapi tidak menyerah. Satu hal yang pasti dan saya alami sendiri: saya harus mengundangNya dan membiarkan Dia berkarya, bahkan merasuki semua sel dalam tubuh dan semua isi hati saya. Kalau saya tidak mengundangNya dan lebih membiarkan ego dan sisi gelap saya lebih merasuki saya, maka Yesus pun juga nggak mau repot menolong. Saya akan dibiarkanNya menjadi gusar, kehilangan kendali dan akhirnya nyaris kalap . . . lalu menyesal, lalu merasa down . . . . literally a living hell!

Sekian lama bergulat dengan kelemahan diri saya membuat saya sadar bahwa sebenarnya ada jiwa lain yang bersemayan dalam diri saya. Jiwa itu penuh amarah, sangat sensi dan negative thinking. Saya kewalahan menghadapinya: Patrisius vs Patrisius, and you’ll never know who’s going to win in the end. Sampai suatu kali saya membaca di Kompas seorang rohaniwan Buddha dari Thailand. Masih relatif muda. Namanya saya lupa. Tapi yang membuat saya sangat terkesan adalah bahwa dia juga mengidap kelemahan kronis dalam dirinya: kecemasan! Nah, alih-alih berusaha sampai mampus berjuang melawan kecemasan itu, dia sapa kecemasan itu; dia ambil jarak darinya, dan dia tanya: “apa yang kamu maui?”

Saya meniru caranya berkonfrontasi dengan kelemahan itu. Kalau sedang merasa gusar atau ada badai bergolak di dalam tanpa alasan jelas, saya akan duduk dengan tenang, membayangkan bahwa bagian diri saya yang buruk rupa itu keluar dari diri saya, dan saya pandangi saja dia menggeliat-geliat disitu sambil bernafas nyala api dari hidung dan telinganya. Saya akan menanyakan kepadanya: “ok, apa yang kamu maui? Saya punya sejuta alasan untuk hidup bahagia, dan semua yang saya alami adalah kebahagiaan: pekerjaan, kehangatan keluarga, kemampuan akademis, reputasi, keberhasilan, mahasiswa dan mentee yang sekalipun kadang nakal tapi tetap menyenangkan. Apa yang kamu maui? Kenapa kamu selalu membuatku merasa sedih dan moody? Saya hanya ingin menikmati kebahagiaan. Kalau kamu mau begitu terus ya silakan, tapi saya akan mengacuhkanmu.”

Begitulah. Dipandu dengan ingatan tentang Yesus, dan saran dari seorang Fiona Hartanto tentang meditasi Vipassana, saya mempersenjatai diri saya sendiri untuk melawan sang bagian jiwa yang serba negatif itu. Berhasil atau enggak? Saya hanya bisa mengatakan: semoga.

Di sesi mentoring terakhir kemarin, saya agak gemetaran setelah mengakui kelemahan diri itu di depan keenam mentee saya. Ingin rasanya membubarkan saja sesi itu karena saya tidak tahan jengah: lha masak mentor kayak begitu?? Eh, tapi setelah saya tanya satu-satu apa kelemahan mereka, ternyata semua menjawab hal yang kurang lebih sama! “Saya sering marah,” kata si A. “Saya sering moody,” kata si B. “Saya sering bad mood,” kata yang lain-lain. Walah, ternyata sama. “Ternyata mentor dan mentee sama aja,” kata saya dengan nada keheranan. “Kita sama-sama harus belajar mengelola sisi emosi dan ego kita!”.

Pantas para mentee itu seperti tidak kaget sama sekali waktu saya membeberkan kelemahan diri saya. Wajah mereka datar saja, seperti seolah-olah mengatakan: “Yaah, . . . yang kayak gitu mah biasa, Pak, namanya juga manusia. Kita juga kayak gitu, kok, malah kadang lebih parah!”. Hiyaaaa . . . .!

Dari sekian mentee itu, hanya satu yang benar-benar mengalami sendiri dan tahu benar bagaimana saya berjuang mati-matian mengalahkan diri saya yang nyaris kalap. Kasihan, dia mungkin berada pada saat yang tidak tepat dengan mentor yang tidak tepat! Tapi saya berjuang luar biasa dan dia hanya bisa melihat dari jauh nyaris tidak bisa berbuat apa-apa, . . . sampai akhirnya saya menang, walaupun dengan tercabik-cabik penuh luka menganga disana-sini. But I survive! Holy shit! I survive! Dia dengan lega hanya bisa mengucapkan selamat dan hati-hati jaga diri saya.

“Watch,” I said to this person. “Once again I fall into this and I make an unforgiveable mistake, I will surely shut myself out from you and the rest of the mentoring group. Nggak ada bagusnya punya mentor yang nggak beres dengan dirinya sendiri.”

Posted in: Uncategorized