Kilas Balik 2010 (1)

Posted on December 15, 2010

0


“What have I done to deserve this?”

Ya, memang itu sepenggal lirik dari Pet Shop Boys band. Tapi itu juga yang terlintas di benak saya ketika memulai posting ini. Sekilas seperti tidak tahu berterima kasih, tapi tidak, . . . . coba lihat ulang, kalimat itu sebenarnya merupakan ungkapan terima kasih saya kepada Sang Hidup yang telah memberikan saya another excellent year in 2010! Pada saat yang sama, dengan masih banyak kekurangan pribadi, saya merasa yang sudah diberikan terlalu bagus. Makanya, tepat bukan? “What have I done to deserve this?”

Januari tahun 2010 saya menulis di FB saya: “The year 2009 is surely the best for me”. Saya tidak mengira bahwa 2010 bahkan jauh lebih menyenangkan!

Pencapaian paling menyenangkan tentunya turunnya SK dari Mendiknas tentang gelar saya sebagai Profesor. Berbeda dengan kisah saya untuk menjadi seorang Doktor, perjuangan menjadi Profesor tidak sedramatis itu. Saya sudah 3/4 pasrah, mau jadi Profesor ya ayo, mau enggak ya nggak apa-apa. Beberapa orang bilang: “waa, sulit kamu jadi Profesor! Uni mu itu masih baru, lagipula namanya kayak gitu, sulit itu dikabulkan oleh Pemerintah; Prodimu tuh belum diakreditasi” dsb, dsb. Saya dengarkan tapi tidak saya perdulikan. Bukan kenapa-kenapa, soalnya saya sendiri juga sadar bahwa itu merupakan hambatan, dan selebihnya saya juga sudah nggak terlalu antusias dengan gelar itu. Lho lha kenapa saya menulis dan meneliti terus-terusan? Sederhana: karena saya suka menulis, mengajar dan meneliti, supaya otak saya tidak bobrok karena nggak dipakai mikir. Bahwa itu akhirnya menumpuk kredit poin untuk jadi profesor, ya syukur; kalau enggak, ya enggak apa-apa juga. . . .

Seorang rekan yang juga sudah Doktor memproklamirkan niatnya untuk menjadi Profesor di depan umum. Yah,baiklah, mari kita tepuk tangan! Tapi jangan harap saya mau melakukan hal yang sama. Biarlah menggelinding saja. . . .

Mungkin juga karena sikap saya yang pasrah dan nggak maksa itu membuat Tuhan akhirnya jatuh hati dan entah bagaimana, tahu-tahu SK Profesor sudah di tangan saya. Saya masih ingat menulis e-mail kepada Pak Teguh di tengah-tengah ucapan selamat: “Now, dear colleagues, emulate me! (lebihi saya)”. Ya emang benar, kan, ketika gelar tertinggi itu sudah di tangan, yang saya langsung ingin lihat adalah pencapaian rekan-rekan lain untuk hal yang sama.

Lalu saya mulai sibuk memohon kepada rekan-rekan untuk tidak memanggil saya dengan sebutan “Prof”. Rasanya nggak nyaman aja di hati saya. Biarlah label itu menjadi komitmen bagi saya pribadi untuk menyumbangkan lebih banyak dan berkarya lebih banyak, tapi nggak usah deh disebutkan jelas-jelas seperti itu. Untung mentee dan mahasiswa saya nggak pernah mau repot-repot memanggil saya dengan “Prof”. Mereka tetap memanggil saya dengan sebutan yang sangat saya suka: “Pak” atau “Bapak”. Lho, namanya aja Patris; bukankah Patris itu bahasa Latin yang berarti “Bapak”?

Disertasi saya diterbitkan oleh sebuah penerbit di Eropa dan diedarkan disana. Itu juga merupakan karunia yang saya mengimpikannya pun tidak. Itu masih ditambah lagi oleh lolosnya buku saya yang lain sebagai buku ajar yang diakui oleh Dikti dan diberi grant. Ow, that was nice, God!

Hmm . . . saya baca ulang posting ini dan rasanya cukup sampai disitu dulu. Rasanya jadi terlalu self-promoting dan ini saya tidak suka. Posting favorit saya di blog ini adalah yang menggambarkan jatuh bangunnya saya dalam menghadapi diri sendiri dan kelemahan diri, bukan yang “memamerkan” pencapaian-pencapaian kayak gini. Tapi untuk yang itu entar aja deh, di bagian kedua. Sekarang saya mau makan siang dulu!

Posted in: Uncategorized