Bocoran Wikileaks tentang Pernikahan

Posted on December 11, 2010

0


“Pernikahan? Ah, nggak, ah, kenapa juga harus membuang kebebasan yang luar biasa ini hanya untuk seorang wanita/pria dan segerombolan anak yang merepotkan di saat mereka masih bayi, menjengkelkan ketika mereka tumbuh jadi remaja, kemudian makan ati ketika mereka sudah dewasa dan memilih jalan hidupnya sendiri-sendiri?”

“Tapi bukankah hidupmu nanti akan kesepian tanpa seorang pendamping?”

“Siapa bilang saya kesepian? Nggak, tuh. Saya punya beberapa teman baik yang ikatannya denganku bahkan sudah jauh melebihi saudara sendiri. Kami hang out bersama-sama menghabiskan liburan atau waktu senggang, dan rasanya sudah sangat menyenangkan.”

“Tapi nanti bagaimana dengan kehidupan seksmu? Bukankah—“

“Hmmm. . . nggak juga, ah. Masih banyak cara untuk mencapai orgasme. Secara fisik, kawin tuh salah satunya. Tapi secara batin, ketika saya melakukan pekerjaan yang saya sukai dan mencapai sukses, wah, luar biasa perasaan nikmatnya. Juga ketika saya merasa sangat bahagia bisa membantu orang lain, wah, nikmat betul. Spiritual orgasm? Altruistic orgasm? Embuh apa istilahnya, buat saya itu sudah orgasmik 7 skala Richter.”

“Oke, oke, sejauh ini masuk akal. Tapi coba lihat sekelilingmu. Teman-temanmu sudah menikah semua. Lihat si X yang dulu sempat kita kira nggak ada harapan waktu kuliah, ternyata sekarang nikah dengan pria baik dan hidupnya bahagia”

“Ya, kalau kamu menyodorkan si X, aku juga bisa mengambil contoh si Y. Tahu si Y kan? Yang dulu waktu kuliah kita juluki ratu karena saking gorgeousnya dia di mata pria? Nah, dia juga nikah tuh, malah lebih lama daripada si X. Tahu nasibnya sekarang? Nggak happy. Suaminya mapan tapi sangat mengekang. Bayangkan, aku tanya ‘apa lu punya FB’, eh, dia balik tanya, ‘apa itu FB?’. Selidik punya selidik, ternyata suaminya melarang dia menggunakan segala macam perangkat Internet sejak belasan tahun yang lalu, makanya jadi aneh kayak gitu. Bayangkan tersiksanya!”

“Ya, tapi kamu nggak bisa dong membuat generalisasi seperti itu. Siapa tahu kalau kamu nikah dengan seorang wanita, kamu bisa lebih happy.”

“Persiis! Kata ‘siapa tahu’ itu lah yang membuatku mualess poll mikiri pernikahan. Siapa tahu bahagia? Lha ya itu, siapa yang tahu? Nggak ada yang tahu apakah aku akan bahagia atau malah tambah susah gak karu-karuan kalau aku nikah! Kan kata orang pernikahan ibaratnya beli kucing dalam karung. Iya kalau pas dibuka yang keluar kucing Anggora, lha kalau anak macan gimana? Ha ha haaa . . . . iya nggak seh??”

“Baiklah . . . rasanya sulit sekali berdebat dengan orang yang benar-benar tahu menggunakan otaknya kayak kamu. Eh, tapi, tapi . . . . gimana kalau pembicaraan kita ini disadap oleh Wikileaks? Jangan-jangan nanti tau-tau muncul di blog seseorang? Gimana nih?”

“Wikileaks? Yah, . . .iya, ya, yak apa iki wes? Napa juga lu gak bilang dari tadi?? Tapi ah, biarin aja. Lagian juga kita ini kan ngggak ngomong ngawur. Kalau pun direkam diam-diam terus dibocorkan oleh sang blogger itu, ya sudah, siapa tahu bermanfaat buat yang membaca bocorannya”.

Posted in: Uncategorized