Studi Lanjut S2 S3 dan Saya (Part 2)

Posted on December 8, 2010

2


Lanjut? Lannjuuutt . . . ceritanya. . . .

Jadi pada posting yang lalu ada yang belum saya ceritakan: apa yang akhirnya terjadi pada pembicaraan antara saya dengan orang tua itu? Saya ngotot mau break dulu sebelum lanjut ke S3, ayah dan ibu saya ngotot harus selesai S3 dulu baru memikirkan berumah tangga dengan segala tetek-bengeknya. Ibu saya yang sebenarnya paling keras bertahan pada pendapatnya bahwa saya harus selesai studi dulu sebelum mikiri jodoh segala macam. Nah, ternyata anaknya sudah pacaran sejak S1. Untung S1 nya selesai dalam waktu singkat; S2 saya pun selesai dengan hasil baik, dan sementara itu hubungan dengan sang pacar juga makin serius.

Maka terjadilah ketegangan yang makin berlarut-larut antara si sulung dengan kedua orangtuanya. Pembicaraan yang semula tenang dan pelan pun menjadi makin cepat dan bernada tinggi semua. Wis, gawat wis! Yang saya ingat, saya tetap mau melanjutkan S3 dengan syarat saya boleh bertunangan dulu. Tapi nampaknya orang tua masih sangat keberatan. Untuk mereka, jenjang ke pernikahan itu mungkin sama beratnya kalau mau mengirim manusia ke Planet Mars: nanti disana mau makan apa? Kalau ada bahaya gimana? Kalau terjadi pertengkaran terus yak apa? Nggak membayangkan si sulung yang dulu masih mancing ikan di sungai depan rumah dan sepedaan kemana-mana sampai kulitnya gosong sekarang mau membina rumah tangga sendiri. Opo iso? mungkin demikian pikir mereka.

Akhirnya Bapak saya yang bersedia merubah sedikit pendiriannya. Mungkin karena dia sama -sama pria dan pernah merasakan menjadi orang muda seperti saya, akhirnya dia berkata: “Ya, baiklah. Terlalu lama pacaran juga nggak baik. Go ahead, tapi ingat penyelesaian studimu tetap nomer satu.” Ibu masih kelihatan kurang puas dan khawatir. . . . tapi ya sudah . . .

Jadilah saya memasukkan registrasi sebagai mahasiswa S3 dan kemudian kuliah dengan status sudah menikah. Saya masih ingat pada minggu pertama setelah married (saya married Juli 1995), semester kedua dimulai. Hari pertama karena terlalu asyik di rumah (maklum masih pengantin baru), nggak nyadar sudah mau jam kuliah. Terpaksa saya ngebut ke kampus sampai hampir menjatuhkan seorang pesepeda di bunderan dekat Gereja Kayutangan. Sampai di kelas, kuliah sudah mulai dan dosennya dengan senyum penuh pengertian menyambut dengan ucapan yang saya masih ingat sampai sekarang: “Lhaa, telat karena sibuk dengan urusan rumah tangga ya, he he he. . . “.

Tidak banyak yang bisa saya ceritakan tentang studi saya. Semuanya datar saja. Kami satu kelas hanya berempat, dan pria semua! Bayangkan, kurang datar kayak apa: udah S3, pria semua, blah! Gak ada yang menarik untuk dikisahkan. Saya mengerjakan tugas seperti sebuah robot yang sudah terprogram dengan baik: bles bles bles, selesai! Bles bles bles, selesai! Hey, I have been doing that kind of thing since I was 6 years old!

Sampai kemudian tibalah hari saya menjalani ujian Promosi Terbuka sebagai calon Doktor. Walaupun sudah siap-siap, ternyata saya stress juga. Sariawan bermunculan di mulut, kok ya untung saya masih bisa ngomong menjawab pertanyaan dewan penguji. Dari sekian banyak pertanyaan, hanya satu yang nggak bisa saya jawab dengan lancar, yaitu pertanyaan terakhir tentang statistik. Pikiran mendadak mampet begitu saja! Sekilas mau saya jawab ngawur, atau seperti teman saya sebelumnya yang dengan enaknya menjawab “Pas!” pertanda bahwa dia tidak bisa menjawab (gila ni orang, ujian disertasi dianggapnya Kuis Who Wants to be Millionaire!), tapi masak calon Doktor jawabannya ngawur?? Ya udahlah, diam aja, ha ha haa!

Dewan Penguji bersidang sekitar setengah jam, sebelum akhirnya mereka masuk lagi ke ruang sidang dan membacakan hasilnya: saya lulus Cum Laude! Wooo-yeaaah . . . . !

Sampai di rumah, Ibu memeluk dan mencium saya mengucapkan selamat. Dalam hati saya berkata: “Nah, kan, apa juga aku bilang?? Kehangatan pernikahan dan hidup berumah tangga tidak akan membuatku tumbang di tengah jalan sebagai mahasiswa S3. Buktinya, anakmu sudah Doktor sekarang!”.

I knew what I could do. I was a young man, longing for the warmth of a wife in a legal marriage while still aiming to be a Doctor, and I was quite sure I could do both! And I did that!

Post note:

Mungkin banyak yang tidak mengira bahwa saya sempat mau berhenti studi setelah meraih gelar Master hanya karena alasan ingin menikah. Mungkin banyak yang berkata, “Halaaah, ternyata ya dulu pernah mau berhenti studi karena urusan cinta!”. Ya, kalau ada yang berpikiran begitu saya ketawain aja. Saya melihat diri saya sendiri sebagai manusia sangat normal, lengkap dengan segala kelemahan dan kelebihannya, lengkap dengan segala keinginan dan insting naluriahnya. Di balik semua pencapaian dan bahkan dipuncaki dengan gelar Profesor yang sudah saya sandang, saya pribadi melihat diri saya sebagai tak lebih dari seorang pria yang terus-menerus harus belajar dari lingkungannya, kadang jatuh, kadang khilaf, sekali-sekali berjaya, tapi selebihnya adalah manusia biasa yang fana . . .

Posted in: Uncategorized