Studi Lanjut S2 S3 dan Saya

Posted on December 7, 2010

4


Saya masih ingat betapa wajah Bapak Ibu saya berubah merah padam mendengar ucapan saya sore itu:

“Aku capek studi. Mau nikah aja.”

Itu terjadi tahun 1994, setelah saya menyelesaikan S2 dan gelar Master sudah di tangan. Total sudah 22 tahun saya duduk di bangku sekolah non-stop, mulai TK kecil sampai tembus S2. Non-stop. Tancap terus, sampai akhirnya saya mulai merasa jenuh, dan yang lebih parah adalah: saya sudah mulai berpacaran sejak 1988, sehingga rasanya sudah ndak karuan studi sambil pacaran. Orang tua sebenarnya ingin saya meraih gelar Doktor dulu sebelum akhirnya bertunangan dan menikah. Tapi apa daya? Sang anak sudah mulai capek, dan sudah kebelet kawin. Kalau kebelet ke belakang atau kebelet makan masih nggak apa-apa, masih bisa ditahan, tapi ini kebelet kawin!

“Lha terus apa rencanamu kalau sudah nikah? Studimu gimana?” tanya Bapak saya.

“Ya, S3 nya nanti aja setelah nikah dan kerja beberapa tahun,” saya jawab dengan muka masam.

“Ya, itu kan ironis sekali,” tukas beliau. “Sementara orang lain pada ngimpi bisa sekolah S3, kamu yang tinggal nggelundung aja kok malah mau berhenti kuliah.”

Waktu itu saya benar-benar nggak ngerti apa maksud Bapak saya itu. Atau mungkin karena sudah kadung capek, jenuh, sekaligus sebal karena kayaknya orang tua tidak merestui rencana saya itu, saya malah bergeming. “Pokoknya aku ingin married dulu.”

Baru bertahun-tahun kemudian setelah akhirnya meraih gelar Doktor dan bekerja sebagai dosen, saya baru benar-benar paham ucapan ayah saya itu. Sekarang, setelah dengan prihatin melihat betapa susah payahnya upaya beberapa rekan mengambil studi S2 atau S3, saya baru benar-benar mensyukuri punya Bapak yang berpandangan jauh ke depan dan tidak segan bertikai hebat dengan putranya supaya sang anak yang sudah mabuk mau kawin ini tetap melanjutkan studi S3 nya!

Duh, kasihan melihat ada rekan mantan teman sekelas S2 dulu yang sampai depresi berat dan akhirnya drop out karena secara mental dia sudah nggak bisa lagi belajar di jenjang lebih tinggi.

Prihatin melihat atasan saya yang sudah menyimpan keinginan sangat lama untuk bisa studi S3, dan sampai detik ini belum juga kesampaian. Saya tercekat ketika suatu sore dia berkata, “Saya sudah lama sekali kepingin ambil S3, Pak, tapi nampaknya Tuhan belum mengijinkan . . . “. Aduuh, Paak!

Masih ada lagi kolega di Prodi Akuntansi sana yang saya tahu juga sangat ingin bisa studi S3. Bagaimana rencananya tahun depan, akankah impiannya tercapai atau hanya tinggal menggapai-gapai, saya nggak tahu juga.

Senang melihat kolega saya, Pak Windra Swastika , yang akhirnya bisa studi S3 di Jepang. Jatuh bangunnya dulu untuk mendapatkan beasiswa S3 ke Jepang juga mengharukan; saya tahu sendiri karena kadang-kadang membaca blognya dan melihat betapa keras perjuangannya untuk meraih gelar tersebut. Bahwa dia sekarang akhirnya menempuh jalur itu pasti harus dia syukuri dan nikmati. Tidak semua orang bisa mendapatkan kesempatan istimewa itu!

Patah hati saya ketika kemarin menerima telpon dari suatu PTS tempat saya mengajar di Surabaya: “Pak Patris, mohon saran untuk bimbingan tesis Bapak atas nama Sdri. XXXX. Dia semestinya sudah harus drop out karena batas masa studinya sudah lewat jauh. Menurut Pak Patris, apa masih pantas diberikan kesempatan untuk menyelesaikan tesisnya?”. Ya Gusti,. . . . saya mau ngomong gimana? Dengan kemampuan menulis dan meneliti yang ternyata masih parah, si XXXX itu tidak akan bisa menyelesaikan S2 nya, padahal bimbingan saya juga sudah tidak kurang-kurang. “Saya masih mau membimbing, Pak, tapi jujur saya katakan, sebenarnya dia tidak bisa menjadi Master,” ungkap saya terus terang, walaupun terasa nylekit di hati saya sendiri. . . .

Impian studi S3 di tengah karir dan usia antara 30 an sampai 40 an tahun itu luar biasa kendalanya: (1) ada dananya nggak, (2) kalau nggak ada dana, ada beasiswa yang tersedia nggak, (3) kalau beasiswanya ada, lembaga mengijinkan nggak, (4) lembaga umumnya mengijinkan dengan syarat masih harus menjalankan sebagian tugas di lembaga. Bisa nggak studi S3 sambil bekerja, (5) kalau harus studi di luar kota atau bahkan di luar negeri, bagaimana dengan keluarga di rumah, mengingat gaji yang diterima pada saat studi pasti tidak akan sepenuh yang diterima ketika masih bekerja full-time di lembaga, (6) kalau sudah masuk ke S3 atau S2, bagaimana kalau ketemu dosen pembimbing yang ‘nyentrik’, sok sibuk, egonya besar, sulit ditemui, marah-marah melulu, mengancam lewat nilai dan cenderung memaksakan pandangan-pandangannya yang belum tentu sesuai dengan kondisi sang bimbingan? Survei menunjukkan bahwa hanya 1 dari 4 dosen pembimbing yang benar-benar tulus membimbing, smart, cakap (dan juga cakep), sangat suportif, sangat bijaksana dan ngayomi, ramah dan menyenangkan, hangat dan terbuka tapi tetap tegas, sementara tiga yang lainnya benar-benar sen cin ping kabeh (sen cin ping = sinting).

Demikianlah, Bapak saya benar: “begitu banyak orang yang sangat ingin studi ke S3 dan belum juga berhasil, lha kamu yang sudah tinggal ngglundhung (tinggal masuk) saja kok malah mau mutung??!”

Nah, bagaimana akhirnya kelanjutan episode saya dengan orang tua di atas itu? Apakah saya akhirnya mengalah, ataukah orang tua yang akhirnya mengalah? Mengapa saya menulis “tidak segan bertikai hebat dengan putranya”? Apakah terjadi konflik dahsyat? Ikuti posting saya selanjutnya tentang kisah studi lanjut ini. . . .

Posted in: Uncategorized