Film Horor dan Saya

Posted on December 4, 2010

7


Pamela bilang di FB bahwa mentornya suka film horor. Memang betul. Saya suka nonton film horor. Film horor membuat saya terbang ke dunia penuh misteri dan kengerian yang jauh berbeda dengan dunia serba lurus, rapi dan penuh kegemilangan di kantor, kelas, mentoring session, ruang rapat dan rumah saya. Film horor membuat saya tercekam, kadang-kadang nonton di tengah-tengah jam iblis pada menggeliat bangun (sekitar jam 1 – 3 pagi) dengan bantal atau selimut menutupi muka saking mencekamnya. Yah, bayangkan asyiknya . . .

Saya suka film horor yang tidak memunculkan wujud hantunya. Yang seperti ini jauh terasa lebih dahsyat ngerinya. Film “Amytiville Horror” sangat saya suka karena di sepanjang film ada adegan seprei terbang menutupi salib, suara manusia yang tiba-tiba berubah, dan seorang anak yang semula baik menjadi kalap dan menembaki anggota keluarganya sendiri. Oh, masih ada lagi: di kamar pengakuan dosa seorang Pastor terkesiap melihat wajah seorang wanita di depannya tiba-tiba berubah dan dengan suara mengundang mengatakan: “But admit that you do want me, Father?” (Tapi, akui saja bahwa Pastor sedang menginginkan saya, kan?). Hiiihh . . .

Film “Exorcist” juga seperti ini: tidak kelihatan setannya, namun dengan jelas bisa saya lihat ‘hasil karyanya’ pada seorang wanita yang sedang dirasukinya (eh, btw, kenapa film-film horor selalu melakonkan wanita yang sedang kerasukan setan ya? Apa benar bahwa wanita lebih mudah dirasuki setan? Rasanya memang iya, coba aja lihat kisah Adam dan Hawa). Film ini bagus sekali dari segi akting pemeran utamanya dan sudut shooting kameranya. Saya pikir si aktris itu harus benar-benar kerasukan untuk bisa memainkan peran segemilang itu.

Baru-baru ini saya lihat film “Paranormal Activity” yang kata orang low-budget tapi top-selling itu. Sekilas membosankan: hanya adegan sepasang pria dan wanita di sebuah rumah, makan, ngobrol, tidur, ngobrol, tidur lagi, tapi tahu-tahu jam 3 pagi pintu tertutup sendiri, kemudian ada tenaga tak berwujud yang menyeret mereka ke bawah. Di tengah-tengah film, saya texting Ivy (Ivanna, my mentee) yang saya tahu suka nonton movie: “Ivy, udah pernah lihat film ini?”. Dia bilang “Ah, itu film boring, Pak!”. Saya hampir sependapat dengan dia, ketika akhirnya menyaksikan sendiri ending dari film itu. Astaga! . . .

Karena nontonnya bareng istri, saya pura-pura cool, padahal dalam hati masih takut sih. Nah, ketika tidur, adegan terakhir film itu terbawa mimpi dan saya girap-girap saking ngerinya. Untung istri saya yang sangat rational-minded itu menggebuk saya dengan bantal supaya suaminya yang sok jaim tapi penakut itu segera bangun dari mimpi buruknya! Ha ha haaaaa. . . . !

Tapi tak ada film semencekam “What Lies Beneath” yang dibintangi Harrison Ford. Film ini menceritakan istrinya yang senatiasa dihantui oleh arwah seorang wanita muda di rumahnya. Lagi mau berendam di bath tub, tahu-tahu hantu wanita itu muncul dengan wajah pucat pasi dan sorot mata tajam. Si istri yang mulai merasa menderita dan depresi mengadu ke suaminya (Harrison Ford). Si Ford ini lalu menyelidiki ke sana kemari apa yang sebenarnya membuat rumah mereka jadi berhantu. Semakin lama, bukannya semakin jelas, si istri mulai merasa ada sesuatu rahasia yang sebenarnya belum terungkap di balik penampakan arwah gentayangan wanita muda itu. Lalu sampailah pada adegan klimaksnya: si Ford, sang suami yang berprofesi sebagai dosen itu, mengaku bahwa dia mengenal sekali siapa wanita muda itu. Ternyata dia adalah mahasiswinya yang menjalin kisah asmara dengan sang dosen beberapa tahun silam. Pada suatu titik, sang profesor ini merasa bahwa hubungan itu sudah terlalu jauh dan bisa membahayakan reputasinya. Dia bersiap mau meninggalkan si mahasiswi yang sudah jatuh ndak ketulungan ke gurunya sendiri. Merasa mau ditinggalkan, si wanita ini tidak terima dan marah luar biasa. Terjadi pertengkaran yang memaksa sang dosen untuk menghabisi nyawa muridnya sendiri. Begitu kekasihnya sudah mati, si Ford kebingungan mau dibuang kemana jenasahnya. Karena kehabisan akal, dia angkat tubuh si mahasiswi ke mobilnya, dia buat seolah-olah si mahasiswi sedang menyetir mobil itu ketika terjadi kecelakaan. Lalu mobil itu dia dorong sampai tercebur dan tenggelam ke sebuah danau yang tidak jauh dari rumahnya sendiri. . . . Hantu wanita itulah yang kemudian muncul di rumahnya, membayangi istri sang dosen seolah-olah mau menunjukkan siapa sebenarnya suaminya dan apa yang telah dilakukannya terhadap dirinya.

Begitu sampai pada adegan klimaks itu, saya langsung lungkrah saking tercekam dan kagetnya. Hati rasanya jebol dan tulang berserakan. Horor Amityville, Exorcist dan Paranormal Activity memang sangat menyeramkan, tapi masih bisa saya tahan. Tapi yang ini? Ya Gustiii . . . . kenapa jadi terasa menohook sekaliiii? T_T. . . . . . . .

Di layar masih tersisa adegan dimana hantu sang mahasiswi malang itu akhirnya bebas dari penasarannya, terbang meraih surga dengan wajah berseri setelah bebas dari bangkai mobilnya . . . . tapi saya sudah tidak kuat lagi melanjutkan.

Dengan tangan gemetaran saya mengambil remote dan mematikan TV dan DVD player, lalu beringsut pelan merebahkan diri di samping istri yang sudah tertidur pulas di alam mimpi, saya istirahatkan diri setelah tak lupa berdoa Bapa Kami . . .

Catatan:

Jam 3 pagi diyakini oleh sebagian orang Nasrani sebagai jam Iblis, karena jam 3 itu berkebalikan dengan jam 3 sore ketika Yesus wafat di kayu salib. Makanya, kalau Anda insomnia seperti saya, hati-hati ketika terbangun jam 3 pagi . . .

Girap-girap ( bhs. Jawa) = kejang-kejang dengan mata terbeliak sambil meracau ndak karuan. Ini berkebalikan dengan gayanya Bio (mentee saya yang lain) yaitu loncat-loncat, salto, kayang-kayang . . .

Posted in: Uncategorized