Film Horor dan Saya (2)

Posted on December 4, 2010

15


Hadeeeh, . . . barusan juga bangun tidur siang sudah dibikin gatal oleh komentarnya Fiona dan Susilo. Bentar, ya, habis ini saya nulis lagi menanggapi mereka. . . .:) Please come back after these commercials . . .
==================================================================

Komentar Fiona, Windra dan Susilo pada posting sebelumnya membuat saya lupa bahwa ada film-film horor yang juga patut dikupas. Fiona menyebutkan horor-horor Korea dan Jepang yang punya style lain. Betul yang dia bilang: suasana yang dibangun memang lain, dan kejutannya potensial membuat penontonnya kena serangan jantung. Biasanya ada suasana yang minim musik, hanya gerak sang aktor di suatu ruang, sepi . . . . tiba-tiba ada seraut wajah menyeramkan muncul begitu saja dari dinding atau kaca. Ya, bisa Anda bayangkan lah, lagi enak-enak membaca posting ini di suatu kamar yang tenang pada malam hari, mendadak dari layar PC Anda muncul wajah sang blogger sambil menyeringai dengan gigi taring dan mata hitam semua . . . . apa Anda tidak sak kal njerit terus pingsan? Hi hi hi hiiiiiii . . . . . . .!

Jeu On, ya saya ingat. Chen Kao Li, mantan mahasiswi S2 saya ketika saya kerja di Surabaya yang memperkenalkan film ini. Dia juga yang membawa film SAW yang disebutkan Susilo di komennya itu. Wah, ini film gendheng. Saya rasa sutradara atau penulis ceritanya memang harus jenius dan psikopat benar untuk bisa menghasilkan film ini. Saya nontonnya di kamar kos di Surabaya, jam 9 malam sampai jam 11. Sambil nonton, sms an sama Chen Kao Li yang juga belum tidur karena tahu dosennya pasti sedang dicekam kengerian melihat film gendheng itu. “Ntar deh, Pak, tunggu aja endingnya,” kata dia ketika saya agak penasaran menanyakan adegan berikutnya. Nah, ketika film mencapai klimaksnya, saya kuaget setengah hidup (soalnya dari tadi sudah setengah mati melihat alur ceritanya). Wah, wah, wah . . . efek baiknya nonton film horor sendirian di kamar kos malam hari ya gini ini: sebelum tidur saya jadi lebih khusyuk berdoa supaya tidak didatangi setan sungguhan, ha ha haaaa! LMAO (Laughing My Ass Off)!

Nah, Fiona menyebutkan Mirror. Ya, ini film horor setengah teror juga. Saya nontonnya bareng istri minggu lalu. Ceritanya tentang cermin yang bisa membuat orang yang sedang bercermin mendadak melihat bayangannya di cermin berubah. Sang bayangan itu lalu mengambil benda tajam entah silet atau kaca, kemudian mulai mengunyahnya atau menyayat urat nadinya sehingga darah bercipratan kemana-mana. Hueekkss! Nah, di tengah menonton film itu, saya mendadak lemas dan pucat. Texting dari Ivy yang katanya belum nonton film itu tidak menolong. Wah, gimana ini? Akhirnya karena nggak tahan, saya bangkit dan bilang mau keluar aja. Susan (my wife) bertanya dengan nada kecewa kenapa mendadak saya mutung. Saya hanya bergumam nggak jelas. Besok paginya dia tanya lagi dan kali ini saya tidak bisa berbohong: “aku gak tahan lihat darah! Lha masak dari tadi adegannya orang menyilet nadi, makan kaca, membelah perut . . . . darahnya itu lho! Jangkrik tenan!”. Istriku sampai nggak tahu harus ngomong apa lagi mendengar alasan aneh itu, tapi akhirnya dia berkata. “Untung ya kamu bukan perempuan. Kalau iya, setiap datang bulan kamu terus semaput di kamar mandi gitu ya??” Wah, benar juga

Masih ada film-film sejenis SAW yang saya rasa lebih ke teror daripada horor, semacam Hostel, dan Texas Chainsaw Masssacre, Hills Have Eyes. Kalau melihat adegan-adegan sadisnya disitu, saya sempat terpikir bahwa sutradara atau scriptwriternya pastilah orang edan yang sedikit beruntung kesasar menjadi sutradara, sehingga nafsu sadis mereka bisa diumbar secara sah melalui film-film yang mereka buat. Begitu? Gak tahu, ntar saya tunggu aja komennya Fiona atau Windra.

Betul kata Bambang Suryanto, teman saya di FB yang dulu teman sekelas waktu di S1: saya sudah suka film horor sejak masih kuliah. Suatu siang saya ajak teman-teman sekelas, termasuk Bambang, nonton video horor di rumah ortu. Kalau gak salah ya Amityville Horror itu. Saya lihat mereka semua tercekam ketakutan karena film itu. Padahal itu sekitar jam 11 siang. Bambang beberapa kali setelah itu menonton film-film horor lain bersama saya di rumah. Biasanya, saya udah nonton duluan sebelum saya mengundangnya nonton. Nah, selama nonton itu, begitu alur film mulai makin menegangkan, saya masih ingat dia berkali-berkali mengeluh: “Duh, Tris, habis gini gimana Tris? Si ini mati enggak, Tris? Duh, gak tahan aku Tris!”. Ha ha haaaa! Entah kenapa saya puas sekali bisa membuat teman sendiri ketakutan kayak gitu. Dasar jahat! Nah, biasanya, setiap kali dia bertanya begitu, malah saya panaskan suasana dengan mengatakan : “Ya. . . entar kamu lihat aja deh! Tapi siap-siap lho ya, bakal tambah mengerikan tuh!”. Yiaaa, . . . lengkap dah ‘penderitaannya’, ha ha haaa!

Nah, sekian puluh atau ratus kali melihat film horor, saya mulai bisa menebak plot klasiknya: ada penampakan yang dulu berasal dari suatu kematian yang tidak damai, yang terkait dengan dendam atau permusuhan, kemudian mencoba mencari koneksi dengan alam fana ini untuk menuntaskannya. Nah, tapi ternyata tidak ada yang lebih mengagumkan daripada film “The Others” yang dibintangi oleh Nicole Kidman. Saya melihat film ini sekitar empat tahun yang lalu dan sampai sekarang masih terkagum-kagum dengan ide penulis cerita/sutradaranya. Luar biasa kreatif. Horribly fantastic, tak pernah terpikir sedikitpun bahwa bisa menjadi seperti itu! Betul-betul saya dibuat ternganga dengan nikmat dan tegang. Gimana sih ceritanya? Ya tonton sendiri aja, Anda yang belum nonton pasti akan mengumpat-umpat saya kalau saya ceritakan semuanya disini.

Ok, puas berhoror-horor? Sekarang matikan komputer Anda dan pandangi pantulan wajah Anda di layar kacanya . . . .

Posted in: Uncategorized