Terbang dan Kagum (3): Atheists on Board!

Posted on December 3, 2010

0


Di posting yang lalu tentang pesawat terbang saya menanggapi komentarnya Fiona tentang ketakutan waktu di atas pesawat. Saya bilang: “makanya kita harus banyak berdoa supaya tidak terjadi kecelakaan”. Lha terus kan saya terpikir juga bahwa tidak semua orang bisa berdoa mengingat ada bangsa yang tidak percaya Tuhan. Dengan agak nakal saya tanyakan kepada seorang teman dari negeri semacam itu: “Ciyu, kalau naik pesawat China Airlines dan pesawatnya mau jatuh, apa yang dilakukan para penumpangnya? Kan mereka semua ateis, jadi pasti tidak berdoa dong?”

Pertanyaan setengah jahil itu dia jawab dengan lugas, entah guyon entah serius: “Iya, kalau itu terjadi maka kami akan menunggu: entah masalahnya yang lenyap atau kami yang lenyap (we will wait. Usually it’s either the problem with the plane dies or we die).” Saya ngakak, tapi juga kagum sekali jawaban ini. Tidak pernah terpikir bahwa dari sudut pandang seorang ateis, masalahnya bisa dilihat dengan begitu simpel!

Masih tentang Tuhan dan berdoa. Sehari setelah bencana letusan Gunung Merapi, Jakarta Post menayangkan foto sekelompok murid di sebuah sekolah Islam memanjatkan doa meminta perlindungan kepada Tuhan supaya bangsa ini dijauhkan dari malapetaka beruntun. Eh, di kolom komentarnya ada seorang pembaca menulis begini: “Aneh ni orang-orang, masa berdoa kepada Sesuatu yang juga mereka tahu menjadi penyebab dari bencana itu??”

Beda dengan orang-orang di lembaga formal yang (nampak) rapi, lurus, religius dan puritan, orang-orang di media cyber seperti Jakarta Post dan situs-situs lainnya berpikiran lebih terbuka, sangat spontan, sangat rasional, sangat tidak takut dikatakan berbeda dan ‘nyeleneh’; tapi justru itu yang membuat saya betah sekali membaca sentilan-sentilan mereka . . . .

Posted in: Uncategorized