Terbang dan Kagum (2): Ja-Im Padahal Takut

Posted on December 2, 2010

4


Komentar Fiona dan reply saya di bawah ini membuat saya gatal untuk menulis lagi tentang naik pesawat.

    Fiona:

“Waaaahhhpak, makasih banget buat penjelasan teknis yg begitu mendetail tentang pesawat & seluk beluk take-off & landing… coba tulisan ini dalam bahasa Inggris, kan bisa saya pake untuk bahan mengajar hahahaaa….

Kalo saya sih sampe skrg masih katrok soal naik pesawat pak, soalnya pasti ketakutan sepanjang perjalanan. Apalagi pas take-off… waduhhh tersiksa banget, pikiran ini jadi begitu negatif membayangkan kalo gagal wuiiihh… trus kalo dah stabil di atas langit, tetep aja ketakutan, saya suka memandang penumpang2 lain di sekitar saya, sambil bertanya2 dalam hati “Are they gonna be the last persons I see?”…. pokoknya kacau deh pak…”

    Jawaban saya:

“You are welcome, Fiona. Tidak saya sangka posting ini bisa laris dibaca. Saya kira hanya posting mellow-mellow agak gelap gitu yang laris, ternyata yang teknis seperti ini juga laris:)

Ya, rasanya semua penumpang juga punya pikiran yang sama. Tapi karena pesawat itu dibantu oleh doa sekian ratus penumpang, makanya kebanyakan pesawat selalu lepas landas dengan mulus!”

==========================================================================

Dia bilang dia paling takut kalau take-off. Saya punya pengamatan lain. Ketika take-off atau landing, saya kadang-kadang melihat ke penumpang sekitar. Mereka-mereka terutama yang berjenis kelamin pria ‘luar biasa’ gayanya: cuek, cool, dan penting banget (karena sedang membaca harian ‘the Economy’ atau “Weekly News’ atau apalah). Wah, hebat sekali gayanya pria-pria sok macho ini. Padahal saya tahu benar mereka juga takut, tapi karena gak mau ‘jatuh image’, mereka pura-pura tenang, ha ha ha! Pria memang makhluk paling tidak menarik di muka bumi ini . . .

Jadi ingat ketika masih di NZ dulu, naik pesawat dari Auckland. Di pesawat, ada pria usia 25 tahunan yang tekun sekali membaca novelnya. Begitu tekunnya sampai-sampai pramugari yang menawarkan bantuan diacuhkan begitu saja. Makin mendekati take-off, makin gila dia membaca bukunya. Wah, intens sekali! Begitu pesawat naik, kok ya ndilalah ada sedikit goncangan yang agak mengayun ke kiri dan ke kanan. Saya lihat pria itu menangkupkan bukunya ke mukanya, dan tiba-tiba wanita tua disebelahnya memeluknya. O alah, saya jadi paham: pria itu histeris karena ketakutan!

Saya rasa kebanyakan pesawat akan take-off mulus karena dibantu oleh doa dari sekian ratus penumpangnya. Ya, mungkin juga. Lha tapi kalau naik pesawat China Airlines yang hampir semua penumpangnya ndak percaya Tuhan terus gimana ya??

Anda pernah melihat mesin pesawat yang letaknya menggantung di bawah sayapnya? Perhatikan: kalau bentuknya agak penyet, itu berarti pesawatnya baru, buatan 2003 ke atas. Tapi kalau bentuknya masih tidak penyet dan cenderung memanjang, itu berarti pesawatnya model lama, yang kayak gini nih:.

Pesawat lama berarti jam terbangnya sudah banyak, dan kemungkinan mengalami apa yang disebut metal fatigue (kelelahan rangka). Jadi ya resiko trouble agak lebih besar daripada yang masih baru. Itu mungkin yang membuat saya selalu agak ngotot naik Garuda, karena saya lihat mesin jetnya penyet semua . . . kayak gini nih:

Pernah gak masuk ke kokpit pesawat? Nggak pernah? Dasar katrok, soalnya saya juga belum pernah, ha ha ha!! Nah, di kokpit pesawat itu ada yang namanya “no go items”. Ini maksudnya instrumen-instrumen yang harus berfungsi sempurna; kalau dia macet atau mati atau agak ngadat, itu berarti sebenarnya pilotnya harus “no go” (tidak terbang), sebab kalau dipaksakan, resiko kecelakaan lebih besar. Nha, bayangkan deh mobil Anda suatu ketika lampu riting kanannya mati, dan remnya agak macet. Ini sebenarnya ‘no go driving’ kalau buat mobil. Nah tapi kan kadang-kadang kita menganggap sepele peringatan-peringatan kayak gitu: “ah, ntar kalau mau belok melambai pakai tangan aja dari jendela”, dan “kalau ngerem mobil masih jalan , ya gak papa lah ngerem pake kaki sekali-sekali!”. Kalau sikap kayak begini diterapkan di dunia penerbangan, akibatnya bisa fatal. Pesawat jadi seperti berjudi dengan maut: kalau pas mujur ya selamat, kalau pas sial ya celaka! Ada beberapa kasus kecelakaan yang berawal dari sini. Maskapai-maskapai di Indonesia yang sekarang sudah tutup sebagian besar karena memaksakan diri terbang padahal sudah ada “no go items” kayak begitu.

Sekarang tentang hal-hal pamali (tabu) kalau mau naik pesawat. Suatu kali, sekali lagi karena masih kampungan, ketika melihat pesawat yang lagi parkir di bandara, saya nyeletuk: “eh, maskapai pesawat yang mau kita naiki ini rekor jatuhnya sudah berapa kali ya?”. Kontan teman saya yang lebih modern menyahut: “HUss! Ya jangan ngomong begitu lah!”. Saya baru sadar bahwa ungkapan katrok itu sama seperti mengharapkan pesawat itu jatuh . . .

Nah, dalam penerbangan ke Surabaya jam 10 malam kemarin, entah karena sudah ngantuk atau capek, saya terkejut setengah mati mendengar instruksi pilot ketika mau mendarat: “flight attendants, . . . crashing position, please!”. Haah?? Kok crashing? Gila tuh pilot! Saya lihat teman-teman tenang-tenang saja. Wah, gimana ini, saya baru nyadar ternyata listening comprehension saya agak buruk: yang pilot itu bilang adalah “landing position”, dan bukannya “crashing position”.

Ok, thank you for flying with machungaiwo air. Have a nice and safe flight always!

Posted in: Uncategorized