Jangan-Jangan Kampus Bukan Untuk Saya?

Posted on November 27, 2010

0


Pernahkah Anda terpikir untuk apa sebenarnya Anda kuliah?

Dunia kuliah adalah dunia akademis. Dunia akademis punya aturan main, asumsi, dan tujuannya tersendiri yang mungkin sangat berbeda dengan dunia di luar kampus. Kalau Anda menjadi seorang civitas akademis, maka Anda harus mematuhi seperangkat paradigma yang bisa disarikan sebagai berikut: (1) Anda akan menjalani penempaan yang mengasah kecakapan kognitif, psikomotor dan sosial/afektif. Itu artinya Anda harus melakukan banyak latihan dan pembelajaran yang mengasah kecakapan pikir Anda (kognitif), kecekatan kerja Anda (psikomotor), dan kecakapan komunikasi dan pengelolaan emosi Anda (afektif/sosial); (2) dalam setiap kegiatan mengerjakan tugas untuk mencapai tiga kecakapan tadi, selalu ada batasan waktu. Kelas dan ujian dibatasi 100 menit. Tugas take-home test dibatasi paling lama 1 minggu. Ujian dibatasi 6 kali, dan sebagainya. Jadi nggak ada ceritanya Anda minta waktu mengerjakan Kuis Besar selama 2 hari semata-mata karena Anda ingin bersantai-santai di sela-sela mengerjakan tes tersebut!; (3) selalu ada standar jawaban yang benar. Sebebas apapun dosen membiarkan Anda berpikir, nanti ujung-ujungnya selalu ada penggiringan ke arah jawaban yang (paling) benar! Ini perlu supaya para dosen bisa membuat tes dan menilai pekerjaan Anda (baca: membandingkan pekerjaan tersebut dengan standar jawaban tadi). Lha kalau nggak ada jawaban pasti, terus buat apa tes? Kan semua mahasiswa bisa berpikir dan menemukan jawabnya semaunya sendiri (baca: sak ketemunya jawaban), sehingga akhirnya sulit memberikan nilai yang pasti; (4) Anda dituntut untuk mandiri dan menyimpan semua materi di benak Anda. Ini perlu supaya waktu ujian Anda tidak kelabakan cari contekan sana-sini, atau malah linglung karena tidak terbiasa atau tidak mau mengingat-ingat semua materi yang pernah diberikan.

Julia Roberts, artis terkenal yang membintangi film “Eat, Pray, Love” di Bali itu, pernah berkata terus-terang di awal karirnya: “Saya tidak sekolah. Saya benci semua peraturan yang ada!”. Hebatnya, dia konsisten dengan pendiriannya. Dia drop out dari college, lalu merintis karir di dunia seni peran, dan menjadi terkenal.

Bill Gates juga tidak menyelesaikan kuliahnya di MIT (atau Harvard, ya? Atau Princeton? Ah, whatever). Steve Jobs, pendiri Apple, juga konon tidak selesai kuliah.

Implikasinya apa?

Betul. Dunia luar kampus punya aturan main dan paradigma yang berbeda dengan dunia pendidikan tinggi. Paradigma apa itu? Saya tidak tahu, wong seumur hidup saya berkecimpung di dunia pendidikan, kok. Tapi saya bisa memperkirakan, perspektif dunia luar kampus (orang Barat menyebutnya “real-world”) pasti lebih sarat dengan kemampuan berinteraksi sosial, kemampuan menyelesaikan masalah secara praktis, dan kiat-kiat yang membumi, tidak jauh di awang-awang (baca: textbook-based atau terlalu teoretis), dan keluwesan menghadapi dinamika masyarakat dan budaya setempat.

Apakah itu juga diajarkan di perguruan tinggi? Semestinya iya. Karena kalau tidak, maka benar apa yang dilontarkan beberapa orang dengan sinis: “Perguruan Tinggi itu hanya menara gading”. Apa itu menara gading? Menara gading adalah tempat mewah yang penuh dengan orang-orang intelektual dan pintar, tapi kaku dan canggung ketika terjun secara langsung ke masyarakat. Masyarakat menilai: “wah, ini lulusan menara gading nggak mau tahu dan nggak bisa menyelesaikan masalah-masalah aktual kita”; sementara sang lulusan menara gading berpikir: “Ini orang-orang kok aneh ya cara pikir dan caranya menyelesaikan masalah?”. Lha, terjadilah kesenjangan itu. Seorang pakar pendidikan di Inggris mengatakan: “Academic skills do not necessarily prove useful for real-world condition!”.

Kembali pada pertanyaan di atas: sudah tepatkah perguruan tinggi sebagai tempat Anda sekarang ini? Kalau Anda merasa bosan, atau bahkan seperti salah tempat, jangan-jangan Anda hanya sekedar latah belajar di perguruan tinggi, atau menuruti perintah orang tua, yang sebenarnya juga latah meniru teman-temannya: “lha anaknya si A jadi mahasiswa, masak anakku hanya tak suruh jaga toko? Ya lebih baik kuliah!” Kalau Anda golongan yang seperti ini, jangan heran kalau Anda bisa membuat dosen atau mentor ternganga ketika mereka bertanya: “kamu kelak mau jadi apa?”, dan Anda hanya menjawab dengan lugunya: “Wah, saya juga enggak tahu mau jadi apa??”.

Seorang mantan mahasiswa Prodi Inggris nekat berhenti kuliah semester lalu. Saya sempat bertanya alasannya, dan dengan sangat tangkas dia menjawab tanpa ragu “College is not for me!”. Sekarang dia kabarnya di sebuah pulau eksotis di sana, saya juga tidak tahu dia kerja apa atau sedang apa.

Tapi mungkin dia satu-satunya orang yang tahu bahwa kehidupan di luar kampus sana tidak selalu harus dimulai dari belajar di bangku kuliah . . .

Think about that!

Posted in: Uncategorized