Air India, BB, Magang dan Saya: Diary Akhir Pekan

Posted on November 26, 2010

2


E-mail dari sebuah universitas di India itu manis sekali: “Dear Dr. Patrisius, salah seorang staf kami terkesan dengan paper Anda di Thailand tahun 2009. Bersama ini kami mengundang Anda untuk menjadi key-note speaker di konferensi kami di bulan Februari 2011. Namun karena tidak ada dana untuk membiayai transportasi Anda, mohon ditanggung sendiri, kami hanya menyediakan akomodasi selama di India.” Yiaaaa! Seru! Bakal naik Air India nih. Padahal baru saja saya tertegun-tegun membaca kisah aneh bin ajaib di Yahoo news: ada pesawat India kecelakaan waktu mendarat karena pilotnya ketiduran! OMG! Si pilot rupanya sedang tidur ketika dia mendadak dibangunkan karena pesawat sudah mau mendarat. Bisa dibayangkan, orang baru tidur nyenyak terus diminta melakukan pekerjaan serumit mendaratkan pesawat jet! Lha ya gak heran karena masih hang (Pamela sering bilang kalau menjawab sms saya setelah bangun tidur: “arwahnya belum pada ngumpul, Pak!”), pesawat naas itu dia gubrakkan lima puluh meter meleset dari titik pendaratan, menerobos sawah dan langsung nyungsep berantakan di tembok beton.Sekurangnya 159 jiwa melayang. Aduuh. . . .!

Saya bahkan tidak bisa tertawa melihat akhir berita itu: “tim peneliti menemukan bahwa pada Cockpit Voice Recorder (alat yang merekam pembicaraan awak kokpit selama penerbangan) terdengar suara dengkuran yang cukup keras sesaat sebelum pesawat jatuh. Zzzzz . . . grook . . . jlegerrr!

Hari ini saya menerima sms menggembirakan dari Barda, mahasiswa Inggris semester 5. Dia diterima seleksi IELSP dan bisa bersiap terbang ke USA untuk belajar budayanya disana. Saya senang, karena sedikit banyak saya membantunya dengan membuatkan surat referensi yang bagus. Ya, bukannya saya melebay-lebaykan: anak ini memang berhak mendapat referensi bagus dari saya karena ya . . . memang dia bagus! Rajin, tekun, dan serius di kelas-kelas saya, dia bahkan cukup tegar menerima koreksi dan omongan dosennya yang kadang sinis kalau lagi kumat sebalnya.

Tapi saya juga agak sedih karena mentee saya yang ikut seleksi itu kemungkinan besar tidak lolos. Wah, terus terang saya juga jadi agak kecewa. Jangan-jangan karena surat referensi saya. Tapi kan saya sudah bilang sekalipun untuk mentee pun, saya tetap obyektif. Kurang bagus ya saya katakan kurang bagus; kalau ada sisi baiknya ya akan saya katakan sisi baiknya. Well, . . . tapi mungkin itu yang menyebabkan dia tidak lolos. . . . Ah, sudahlah, diambil untungnya saja. Kalau dia lolos ke Amerika saya nggak bakal bisa ketawa lagi melihat tingkah dan ocehannya yang nakal, spontan dan kadang menggemaskan di sesi mentoring atau di kuliah-kuliah saya.

Hari ini jam makan siang saya kembali dengan muram ke kantor. Murid-murid saya grammarnya ajur. Kok bisa to ya? Sudah diajari berulang-ulang ya tetap aja salah di hal-hal yang sama. Akhirnya saya mengambil sikap sangat realistis dengan mereka. “Kalian punya masalah dengan tata bahasa. Lalu solusi kalian apa? Terserah deh solusinya mau gimana, saya nggak akan mengkritik atau marah. Tapi ingat kalian sudah makin dewasa; kalian tahu masalah kalian, kalian tahu ada banyak faktor penyebab, kalian tahu cara mengatasinya. Sekarang terserah kalian mau ambil jalan yang mana, hanya harap diingat bahwa setiap pilihan selalu ada konsekuensinya.”

Menjelang sore ada kolega datang , seorang Direktur juga dari lantai 2 Rektorat. Dia menceritakan bahwa banyak perusahaan-perusahaan atau lembaga tempat beberapa mahasisiswa magang ternyata sangat terkesan dengan prestasi kerja dan kepribadian mahasiswa-mahasiswa tersebut.

“Ya, anak-anak ini mungkin hanya nakal dan berulah di kampus saja, Pak,” kata saya.”Tapi begitu di luar mereka benar-benar menunjukkan sikap-sikap yang baik.”

“Dan itu mungkin hasil dari pembinaan karakter kita selama ini, ya?” dia menyambung.

Yah, semogalah begitu . . .

Posted in: Uncategorized