Cita-Cita Mentee-Mentee Saya

Posted on November 22, 2010

2


Edo adalah mentee saya yang juga baru bergabung dengan saya semester ini. Pada sharingnya minggu lalu, dia menceritakan karir awalnya sebagai guru di alma maternya. Yang menarik adalah ketika dia mengatakan bahwa dalam salah satu pekerjaannya, dia kerap harus menahan emosi menghadapi orang-orang yang protes atau bahkan mengucapkan kata-kata pedas. Tak kalah menariknya adalah bagaimana kiatnya menghadapi aspek-aspek yang terus terang masih lemah dalam lembaganya. “Ya, pokoknya kalau orang itu (klien, maksudnya) tidak tanya hal itu, ya nggak akan saya terangkan, karena saya tahu itu titik lemah lembaga saya,” ungkapnya.

“Lha kalau ada yang tanya bagaimana?” tanya saya.

“Ya pernah sih, Pak. Tapi ya pintar-pintarnya aja kita menjawab. Dunia marketing kadang-kadang memang penuh kepura-puraan,” dia menjawab, dan saya spontan tertawa mendengar ungkapannya itu. Hmm, . . . .

Yang saya suka dari sharingnya siang itu adalah ketika dia menyatakan bahwa ada pendapat saya yang tidak dia setujui.

“Nah, itu sikap yang bagus,” kata saya dalam ulasan setelah dia sharing. “Mentoring bukan ajang untuk membebek apapun yang dikatakan mentor. Kalau Anda tidak setuju dengan saya, ya silakan diungkapkan, asal dengan cara yang tidak menyingung perasaan. Justru kalau Anda tidak setuju, saya ingin dengar alasannya. Itu yang membuat Anda berkembang.”

Nah, ini namanya Imawan, mahasiswa saya di Prodi Inggris yang juga baru menjadi mentee saya semester ini. Saya senantiasa menganggapnya sebagai makhluk lucu, sama seperti teman-temannya. Ternyata setelah mengenalnya lebih dekat di mentoring ini, saya jadi tahu sisi-sisi kepribadiannya sedikit lebih dalam. Saya tidak akan menuliskannya disini karena itu pasti menjadi bagian dirinya yang pribadi. Yang jelas, dia juga punya sisi sedikit sensitif, sama seperti mentornya . . .

Sharing berikutnya diberikan oleh Pamela dan Ivy (panggilan Ivanna). Satunya kepingin jadi auditor, satunya kepingin menjadi ibu rumah tangga yang baik. Dulu saya pernah menulis di blog ini satu posting yang, maaf, sedikit melecehkan profesi ini. Tapi Ivy mantap sekali ketika mengatakan hal itu: “Saya ingin menjadi ibu rumah tangga yang baik!”. Wedew!

Satu hal yang membuat saya tercengang adalah nilai yang dianutnya. “Saya mempercayai nilai kebebasan,” katanya tanpa ragu.

“Ya, ibu rumah tangga dengan gelar SS, kan bagus toh?” komentar saya, setengahnya lebih meyakinkan diri saya sendiri.

“Siapa bilang ibu rumah tangga nggak penting? Ibu rumah tangga itu justru berperan sangat besar dalam melahirkan dan mendidik anak-anak yang baik.”

Pamela mengatakan bercita-cita menjadi auditor. “Sekolahnya lama dan mahal, tapi setelah jadi, penghasilan yang bisa diraih pun sangat menggiurkan!” katanya, sambil menyebut tarif dalam US dollar yang membuat saya ternganga. Wow!

Perjalanan masih jauh. Mereka masih begitu muda. Saya tidak heran kalau cita-citanya juga kadang-kadang masih goyah, belum mantap, masih kesana kemari, tapi setidaknya saya harap sesi pengenalan diri dan perencanaan karir itu mengawali persiapan diri mereka mengayun langkah ke masa depan.

Saya menulis posting ini sambil mendengarkan lagu-lagu yang diberikan Pamela tadi siang. Sweet songs. Ringan, romantis, dengan beat khas jaman sekarang. Serasa kembali ke usia SMA dulu. . . .

Selesai menulis posting ini, saya diam sebentar, menyulut sebungkus,eh, sebatang Gudang Garam sambil memandangi foto-foto mereka. Mendadak penyakit saya kumat lagi: saya seolah melompat sejenak ke masa depan dan melihat akan menjadi apa kelak mentee-mentee saya ini. Edo akan meraih karir sebagai pimpinan, dari satu lembaga ke lembaga lainnya. Pamela, dengan kemampuan dan dukungan dana yang dia punya (dia kuat di matematika dan berasal dari keluarga yang sangat mapan), akan tanpa kesulitan meraih cita-citanya sebagai auditor, dan tetap menikmati gaya hidupnya yang cenderung tenang, tidak hura-hura dan tidak banyak teman dan ketemu orang banyak, menikmati musik dan pemandangan alam. Ivy akan menjadi ibu rumah tangga, tapi pada usia seperti usia mentornya sekarang, entah kenapa dia akan merasakan suatu panggilan untuk berkarya di tengah masyarakat, menjadi semacam pendidik, motivator, atau apapun namanya kelak, yang akan banyak menginspirasi orang lain dengan sikap dan pandangan-pandangan hidupnya. . . .

Mentoring session itu selesai jam 1 lewat lima. Ivy dan Imawan dengan santunnya mengucap terima kasih untuk sesi hari itu. Bio merandeg sebentar di pintu masuk, dan berkata, “Pak, saya malas kuliah! Saya mau pacaran saja!”. . . .

“Ya sana,” jawab saya, setengah kehabisan akal menghadapi mentee saya yang jenaka dan spontan itu. “Mana pacarmu?”

Posted in: Uncategorized