Kiat Mengelola Uang di Jaman Modern

Posted on November 14, 2010

2


Saya hanya bisa mendapatkan uang, tapi saya tidak cukup trampil dalam mengelolanya. Terlalu boros? Bukan, justru sebaliknya, terlalu hemat, tahunya hanya menabung yang saya peroleh, dan sesudah itu ya sudah.

Nah, suatu ketika saya bertemu dengan seorang konsultan keuangan amatiran. Walaupun amatiran, tapi kiat-kiatnya terbukti telah membantu saya mengelola uang saya dengan lebih baik:

Yang pertama, investasi. Jangan ragu untuk menginvetasikan nafkah yang saya peroleh untuk kehidupan di masa depan. Investasi berarti membeli barang yang bisa menjadi sumber penghidupan di masa depan. Itu bisa berarti rumah, tanah, perhiasan, mobil, bahkan asuransi hari tua.

“Tapi penghasilan saya tidak cukup untuk membeli itu,” debat saya. “Entar ajalah, tunggu sampai tabungan saya cukup dulu. Kalau sudah cukup, saya bayar deh tunai.”

Maka dia berikan kiat yang kedua: jangan ragu untuk membeli sekarang. “Kan sekarang banyak sekali skema angsuran?” kata dia seolah menyadarkan. “Kalau hanya menunggu sampai tabunganmu cukup, yang namanya harga tanah, rumah dan mobil itu nggak pernah turun. Maka ketika kau kira sudah cukup, tetap aja belum cukup karena ternyata harga-harga barang-barang sialan itu juga sudah naik.”

“Jadi?”

“Ya, sisihkan sebagian dari nafkahmu untuk membeli barang-barang itu secara kredit. Hidup sedikit lebih berhemat lagi, dan secara teratur sisihkan sebagian dari pendapatan untuk membeli barang-barang investasi itu. Prinsipnya: beli sekarang, mencicil ya nggak papa. Kalau enggak, sampai kapanpun Anda nggak akan pernah bisa membelinya.”

Maka jadilah saya mengikuti sarannya. Kami melihat sekian puluh skema tabungan investasi, menyisihkan sebagian dari pendapatan untuk membeli secara berangsur barang-barang itu: asuransi pendidikan untuk anak-anak, mobil, perhiasan, dan sebagainya.

Kiat ketiga: hidup lebih hemat. Supaya kiat pertama dan kedua jalan, sudah pasti kiat ketiga ini harus dijalankan juga. Hemat itu artinya hanya membeli yang benar-benar dibutuhkan, dan harus kritis bertanya pada diri sendiri: apakah saya benar-benar butuh barang ini? Kalau yang lama masih bisa dipakai, kenapa harus membeli yang baru? Nah, ini terjadi dengan ponsel saya. Ponsel saya itu buatan jaman purba. Fungsinya hanya tiga: sms, menelpon, dan melempar kepala maling (saking besarnya ukurannya). Lalu ada tawaran datang untuk menggantinya dengan Blackberry. Sebelum memutuskan, saya kritisi dulu: Blackberry itu menyambungkan saya dengan Internet tanpa batas 24 jam sehari. Pertanyaan saya: buat apa? Saya terkoneksi Internet 9 jam sehari di kantor; ketika pulang saya hanya makan, ngopi, ngerokok dan sesudah itu bercinta, semuanya adalah kegiatan yang memerlukan naluri alamiah dan gairah saja, nggak usah BB pun akan tetap jalan. Maka kesimpulannya: saya tidak jadi membeli BB untuk mengganti ponsel purba saya. Hemat, jadul, tapi tetap sehat!

Konsultan keuangan saya ini luar biasa cara berhematnya. Kalau saya mau berwisata ke suatu tempat, misalnya, dia bisa mendapatkan hotel dengan rate murah namun tetap nyaman, dan ratenya pun masih dipotong sana-sini karena dia pakai fasilitas kartu kredit saya sampai titik rupiah penghabisan. “Kalau kita pintar memanfaatkan fasilitas-fasilitas ini, jatuhnya bisa lebih murah,” kata dia sambil menyodorkan tagihan hotel yang membuat saya ternganga karena begitu jauh bedanya dengan rate resminya.

Demikianlah, saya tetap bekerja untuk memenuhi garis takdir dan mendapatkan nafkah, dengan front keuangan ditangani dengan sangat mumpuni oleh konsultan keuangan saya itu.

Berapa saya harus membayar konsultan keuangan itu? Oh, gratis. Lho kok bisa? Iya, karena dia adalah istri saya sendiri.

Post note:

1. Kiat-kiat ini tidak berlaku jika Anda adalah pengusaha sukses (entah karena usaha sendiri atau dapat warisan), atau anggota DPR. Kalau pengusaha, Anda hidup dari bunga deposito yang cukup untuk menunjang hidup sampai keturunan ke tujuh puluh; kalau Anda anggota DPR, Anda hanya perlu merampok uang rakyat untuk dipakai plesir ke luar negeri atau minta fasilitas ini itu.

2. Saya tahu ada beberapa cara lain untuk membuat uang Anda beranak-pinak seperti f*****g rabbits. Ada reksadana, main valas, arisan berantai, dukun pengganda uang dan sebagainya. Ya, boleh-boleh saja, kata konsultan saya itu, tapi mengingat jaman sekarang banyak skema begituan kemudian malah melenyapkan uang nasabahnya, ya jangan dulu lah. Lebih baik main aman saja, tidak terlalu spekulatif.

Posted in: Uncategorized